Orang Tua Penyandang Thalasemia Butuh Dampingan Psikologis

GIM BERSAMA - Para anak penyandang thalasemia bermain bersama saat ulang tahun komunitas di Pusat Layanan Terpadu Thalasemia RSUD Soedarso, Juli 2019 lalu. POPTI KALBAR

Para orang tua penyandang thalasemia membutuhkan pendampingan psikolog untuk dapat terus mendukung tumbuh kembang anak mereka. Pengobatan yang seumur hidup bisa saja bikin mereka lelah.

Shaquilla Hang Pratiza (29) sempat tak percaya Harvey Melviano Wijaya (1,7)–anaknya–menyandang thalasemia. Ketika Harvey panas dan enggan makan empat bulan lalu, dia berpikir buah hatinya sakit biasa. Shaquilla bahkan sempat berdebat, saat orang tuanya menyuruh memeriksakan sang anak ke dokter.

Bacaan Lainnya

“Waktu diperiksa, hemoglobinnya rendah. Sempat panik dan akhirnya transfusi,” ceritanya pertengahan Oktober lalu.

Selang sebulan, Harvey kembali malas-malasan. Rewel. Tak mau makan. Padahal biasanya aktif bermain. Sang ibu membawanya ke dokter spesialis anak. Harvey tes darah. Ternyata thalasemia.

Shaquilla tak pernah dengar istilah thalasemia. Penyakit itu asing baginya. Kepalanya pening. Informasi sempit yang didapat, anaknya harus transfusi darah seumur hidup.

“Bayangan aku udah yang buruk-buruk. Sempat pikir apa yang salah, kenapa anak aku begini, terus nanti gimana dia ke depan, kalau aku punya anak lagi bakal thalasemia lagi atau tidak,” katanya.

Pikiran buruk itu berkurang sejak bulan lalu, anaknya diarahkan untuk transfusi di Pusat Layanan Thalasemia RSUD Soedarso. Dia melihat bagaimana penyandang thalasemia lain dirawat. Transfusi rutin dengan ruangan yang mirip tempat bermain anak.

“Waktu dokter bilang, anak aku bisa jadi apa pun yang dia mau, di situ aku nangis,” katanya.

BERMAIN – Anak-anak penyandang thalasemia bermain di teras depan ruang Pusat Thalasemia RSUD Soedarso sembari transfusi pertengahan Juli 2020 lalu. POPTI KALBAR

Harvey Melviano Wijaya adalah anak pertamanya. Sebagai ibu muda, pelajarannya bertambah, tak sekadar membesarkan anak, tapi juga memahami thalasemia.

“Setelah gabung di POPTI (Perhimpunan Orangtua Penyandang Thalasemia Indonesia) Kalbar memang jadi agak tenang, pelayanan di RSUD Soedarso pun the best lah, kayak keluarga,” ceritanya.

Akan tetapi bukan berarti semua baik-baik saja. Shaquilla kadang masih merasa cemas. Untungnya tukar cerita di Grup WhatsApp para orang tua, turut membantu.

Tak hanya Shaquilla, Windy Prihastari pun sempat merasakan kecemasan sama. Butuh setahun baginya untuk menerima. Kini, dia malah aktif sebagai Ketua POPTI Kalbar.

“Saya drop banget, anak pertama lagi, umur saya 30-an. Dia lahir umur saya 25,” cerita Windy.

Anaknya diketahui menyandang thalasemia di umur lima tahun. Saat itu, anaknya belum harus transfusi darah sebulan sekali. Akan tetapi saban berobat, Windy menutup kantong darah anaknya dengan kertas putih. Dia khawatir buah hatinya takut.

“Tapi lama-lama kan ketahuan. Ternyata bohong bukan satu-satunya jalan. Jadi diberi pemahaman bahwa ini cobaan dan harus diterima karena Allah sayang, jadi pendekatan agama dan lingkungan di sekolah juga diedukasi,” kisah Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar ini.

Sejak usia tujuh tahun, anak pertamanya dari tiga bersaudara itu harus rutin transfusi tiap bulan. Belajar dari kesalahan, Windy selalu terus terang dengan kondisi anaknya, sekaligus berusaha menguatkan diri. Dia pun bergabung ke POPTI Kalbar.

“Ketika saya masuk dalam itu, menangis saya, melihat masih banyak yang tidak seberuntung anak saya, dengan kondisi ekonomi, orang tua, akhirnya saya bertekad tidak boleh lemah, untuk anak saya, dan anak-anak yang lain yang mungkin sudah ditakdirkan Allah agar saya bisa jadi bagian mereka,” katanya.

Titik balik itu menguatkan. Windy mulai mengulik lebih dalam thalasemia. Bertukar cerita dengan para orang tua, dan perhimpunan di daerah lain.

“Karena banyak belajar dan bertemu, jadi bisa berinovasi untuk pelayanan anak-anak thalasemia di sini,” katanya.

Pelayanan terhadap anak thalasemia tidak sebatas rutinitas datang ke rumah sakit, mengecek ketersediaan darah, transfusi dan rutin minum obat. Para orang tua harus khatam siklus sakit dan memberi perhatian ekstra pada tumbuh kembang buah hati mereka. Manajemen pola asuh menjadi kunci.

“Anak thalasemia harus disiplin. Mereka harus dapat transfusi tingkat tinggi, kalau hemoglobin di bawah rata-rata harus transfusi,” katanya.

Karenanya, orang tua mesti hapal ciri hemoglobin anaknya rendah. Tanda lumrah, wajah sang anak pucat.

Selain itu, penyandang thalasemia harus rutin minum obat kelasi besi. Gunanya untuk mengeluarkan zat besi dalam tubuh yang terbawa waktu transfusi. Peran orang tua pun dituntut untuk mendisiplinkan anak mereka.

“Secara psikologis, bukan hanya penderita, tapi orang tua juga lama-lama berat,” katanya.

Psikolog klinis, Maria Nofaola menjelaskan konseling dan terapi psikologi dapat membuat mental orang tua kuat dalam waktu relatif singkat. Penerimaan akan kondisi yang dihadapi berpengaruh besar terhadap perawatan anak jangka panjang.

“Semakin cepat orang tua berubah dan kuat, maka anak mereka akan cepat ditangani,” katanya.

ANTRE – Anak penyandang thalasemia di Kalbar antre untuk masuk ke bioskop di salah satu mal di Pontianak dalam nonton bareng anak dan orang tua pertengahan 2019 lalu. POPTI KALBAR

Sejumlah metode bisa dipakai. Seperti Dukungan Psikologis Awal (DPA) atau yang dikenal dengan nama PFA (Psychological First Aid) pada orang tua yang baru saja tahu anaknya menyandang thalasemia.

Bila kondisi orang tua memburuk, muncul rasa bersalah atau tertekan, maka perlu konseling mendalam atau terapi psikologi.

“Yang intinya mengubah kognitif, afektif, dan konatif mereka,” kata Nofaola.

Namun psikolog tak bisa sendiri. Untuk mengubah kognitif, orang tua perlu menambah wawasan mereka tentang thalasemia. Peran dokter spesialis dan komunitas menjadi penting. Orang tua harus mendapat penjelasan bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan mereka, atau hukuman atas dosa mereka.

“Dijelaskan juga apa itu thalasemia dan bagaimana proses sembuhnya. Psikolog juga akan membuka pikiran mereka bahwa kehadiran mereka itu penting bagi kesembuhan anak,” jelasnya.

Setelah itu, perasaan negatif orang tua diubah menjadi positif atau netral. Maksudnya, rasa sedih dan bersalah diubah menjadi rasa bahagia dan syukur. Berpikir dan berperasaan positif, akan mendukung anak mereka.

Pendekatan psikologis juga akan mengubah konatif atau tindakan orang tua. Misal, dari yang tidak tega melihat anaknya transfusi darah, akhirnya mau mendampingi.

“Secara general ini yang dapat dilakukan. Namun untuk tindakan spesifik psikolog perlu melihat masalah spesifik orang tua. Penyebab masalah berbeda makan caranya pun beda,” katanya.

Maria menjelaskan, rasa percaya diri orang tua secara keseluruhan akan berdampak positif pada anak. Makin percaya diri orang tua, makin percaya diri pula anak mereka.

“Mental anak positif, dia merasa diterima apa adanya, optimis dalam menjalani hidup, serta melihat dunia sebagai tempat yang indah dan menyenangkan,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *