Warung Kopi di Rumah Budaya Melayu Mempawah Diprotes, MABM: Mereka Belum Paham Tujuannya

PEMBUKAAN - Suasana pembukaan warung kopi di Rumah Adat Melayu Mempawah, Rabu (4/11/2020). HUMAS MEMPAWAH

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Sekretaris Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Mempawah, Muhardi menjelaskan pihaknya membuka lebar silaturahmi bagi ormas yang tidak sepakat dengan pembukaan warung kopi di Rumah Adat Melayu Mempawah. Dia menyebutkan, selama ini Laskar Pemuda Melayu tidak pernah bersilaturahmi dengan MABM di Rumah Budaya Melayu Mempawah.

“MABM membuka tangan lebar untuk siapa saja yang ingin menggunakan Rumah Budaya Melayu. Ormas apa pun itu termasuk LPM. Jika ada lagi yang lainnya silakan. Apalagi jika tujuannya untuk melestarikan budaya Melayu,” katanya.

Bacaan Lainnya

Dia menjelaskan, warung kopi tersebut memiliki tiga tujuan utama. Pertama, sebagai bentuk realisasi program kerja Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif MABM, yang telah disetujui oleh DPD MABM Mempawah.

“Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif MABM itu diketuai oleh Gusti Very dan Febriadi alias Samcon,” katanya.

Kedua, warung kopi tersebut sebagai ajang silaturahmi pengurus MABM, antarpuak Melayu, antaretnis, dan seluruh masyarakat Kabupaten Mempawah. Ketiga, pembuatan warung kopi tersebut sebagai upaya melestarikan makanan dan minuman yang berciri khas Kabupaten Mempawah.

“Sehingga diminati masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar,” katanya.

Dia menegaskan, di Rumah Budaya Melayu Mempawah, tidak hanya ada warung kopi saja. Tapi dibuka juga sekretariat, ruang rapat, ruang dapur dan ruang galeri.

“Dalam ruang galeri kami menempatkan buku-buku dan kitab-kitab lama dan sejarah Melayu Mempawah. Kami juga akan mengisinya dengan barang-barang bernilai sejarah seperti pusaka dan pernak-pernik lainnya,” kata Muhardi.

Selain itu, Rumah Budaya Melayu juga menjadi sarana pengembangan budaya seperti tempat latihan kelompok-kelompok kesenian. MABM juga mempersilakan kelompok kesenian manapun untuk menggunakan Rumah Budaya Melayu Mempawah.

“Rumah Budaya Melayu dikelola oleh MABM. Kami memberikan ruang kepada siapapun untuk memanfaatkan fasilitas umum tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris DPD LPM Kabupaten Mempawah, Mohlis Saka menilai, sangat tidak etis jika Rumah Budaya Melayu dijadikan tempat usaha warung kopi. Sebagai orang yang cinta kepada budaya Melayu, Rumah Budaya Melayu adalah tempat yang sakral dan patut dijaga marwahnya.

“Aneh sekali jika Rumah Budaya Melayu Mempawah dijadikan warung kopi,” katanya, Kamis (5/11/2020).

Mohlis mengatakan, Rumah Budaya Melayu adalah tempat berdiskusi dan tempat pertemuan yang membahas hal-hal terkait budaya Melayu. Sudah semestinya jadi tempat yang dapat memperkenalkan identitas suku Melayu kepada generasi muda.

“Menjadikan Rumah Budaya Melayu sebagai warung kopi itu bukan ide yang tepat,” katanya.

Dia mengatakan masih banyak cara untuk menjadikan Rumah Budaya Melayu lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Seperti disewakan sebagai tempat resepsi masyarakat Melayu.

“Jika ingin membuat unit kerja, jual saja pernak-pernik Melayu, masih banyak cara yang elegan,” katanya.

Dia mengatakan, Rumah Budaya Melayu adalah milik seluruh elemen masyarakat Melayu di Kabupaten Mempawah. Dalam penggunaannya harus mementingkan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya mengakomodir kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

“Saya mendesak, pembuatan warung kopi di Rumah Budaya Melayu dievaluasi,” kata Mohlis Saka.

Sebelumnya, dalam sambutannya saat meresmikan warung kopi tersebut, Wabup Mempawah, Muhammad Pagi mengatakan warung kopi tersebut merupakan program kerja Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Mempawah.

“Ini adalah program yang strategis dan bisa mendongkrak ekonomi organisasi. Pemerintah Daerah tentu sangat mendukung,” katanya melalui rilis resmi yang diterima insidepontianak.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *