Anggita dan Anggia: Dua Saudara Pejuang Pendidikan Anak Pemulung

FOTO BERSAMA - Relawan dan anak didik Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi berfoto bersama usai kelas mereka, 2016 lalu. IST

Sejumlah orang tiba-tiba mendatangi salah satu rumah di Jalan Karya Baru, Kecamatan Pontianak Selatan. Saat itu, jarum jam menunjuk angka empat sore. Aktivitas pembelajaran baru saja dimulai. Anggita Anggriana dan Anggia Anggraini tengah sibuk meladeni anak-anak. Begitu juga beberapa rekannya. Namun orang itu, dengan nada marah, menunjuk dua kakak beradik ini.

“Ini jam-jam kerja, kok kalian motong jam kerja anak-anak mulung,” ucap salah seorang warga. Mereka meminta aktivitas belajar-mengajar sore itu dihentikan.

Anggita dan Anggia tercegang. Dua perempuan berkerudung itu mengalah. Mereka meninggalkan wilayah perkampungan pemulung. Peristiwa tahun 2013 yang sampai sekarang membekas di ingatan.

Anggita dan Anggia adalah pendiri komunitas ‘Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi’. Mereka pejuang kemerdekaan anak pemulung, yang termarginalkan. Kakak-adik yang jatuh cinta dengan kerja sosial.

Namun semua tak mudah, banyak halangan dan rintangan dihadapi. Ekonomi keluarga anak yang lemah salah satunya. Anak-anak pemulung di Jalan Karya Baru–dikenal dengan bekas waduk–dituntut mencari uang untuk keluarga. Beragam cara digunakan untuk meyakinkan pentingnya pendidikan.

“Saya kasih pilihan, mau pendidikan atau suruh anaknya bekerja. Akhirnya orang tua memilih agar anak-anaknya kembali ke pendidikan,” cerita Anggita.

Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi lahir dari keprihatinan mereka. Anggita mantan wartawan koran lokal di Pontianak. Sempat melihat langsung potret pendidikan anak di perkampungan pemulung. Banyak yang putus sekolah. Ekonomi lemah. Akhirnya tak punya biaya, seragam dan buku. Padahal mereka bersekolah di sekolah negeri yang dibiayai pemerintah.

Selain itu, dia pun mendapati beberapa siswa tak naik kelas. Bagi anak-anak saat itu, dua hingga tiga tahun tak naik kelas, jadi hal yang biasa.

“Kondisi itu yang membuat saya menginisiasi rumah belajar. Saat itu namanya masih kebarat-baratan, Teach For Hope,” jelasnya.

Bagi perempuan yang karib disapa Gita, hidup tak sekadar gelar dan derajat. Namun, ilmu yang bermanfaat. Melalui itu, perempuan kelahiran 15 Maret 1990 itu berbuat sekaligus mengobati luka sang kakak, Anggia. Waktu itu, Anggia yang lulusan Taruna Bumi Khatulistiwa gagal menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Dia hanya bertahan empat semester, setelah itu kembali ke Pontianak. Kejadian itu membuat sang kakak hilang jati diri.

“Saat itu dia sempat kehilangan jati diri, malu dengan teman-teman dan keluarga,” ceritanya.

GEMBIRA – Relawan Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi dan anak-anak pemulung di Jalan Karya Baru, Pontianak Selatan, Februari 2017 lalu. IST

Gita pun membawa sang kakak ke perkampungan pemulung. Menjumpai banyak anak. Diajak membangun rumah belajar.

“Kamu mau gak bantu saya. Kita sama-sama bangun rumah belajar. Kamu di depan saya di belakang. Buktikan bagaimana teman-teman menghina kamu, keluarga menghina kamu, tapi kamu bisa,” terangnya.

Awalnya tak mudah meyakinkan Anggia yang kadung patah arang. Namun Gita tak lelah. Sang kakak luluh. Anggia menjadi Ketua Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi. Gita di belakang layar sebagai humas.

Sejak berdiri 2013 silam, dua saudara ini mencari dukungan untuk membantu mengajar. Lewat unggahan di media sosial, mereka merekrut relawan mengajar. Awalnya, delapan orang ambil bagian. Mereka sukarela, tak dibayar. Namun perlahan mereka pergi. Seleksi alam.

“Saat ketemu anak-anak yang kasar dan nakal, mereka mundur satu per satu. Mereka bilang, gak bisa datang Kak hari ini, lagi ada kerjaan. Setelah ketemu di luar dia bilang gak tahan,” lanjutnya.

Maklum saja, kehidupan anak kampung pemulung memang keras. Dulu, gurauannya sampai bikin berdarah. Tekanan juga datang dari orang tua mereka. Kondisi yang sempat buat sang kakak patah arang.

“Saat itu, Kakak saya bilang kita gak bisa lanjut lagi. Pertama kita diusir warga, kedua kita kekurangan orang,” cerita Gita.

Namun, Anggita ngotot. Dia tak ingin gerakan itu berakhir. Sebagai wartawan, dia memanfaatkan relasi. Berupaya mencukupi kebutuhan guru. Saat itu, ada 80 anak yang harus dididik dari usia PAUD hingga SMA.

“Akhirnya saat saya jadi panitia duta lingkungan saya dapatkan 10 orang bergabung. Lima cowok dan cewek. Alhamdulilah berjalannya dari diusir, dan beberapa kali menghadap pemerintah, mereka tetap bertahan,” paparnya.

Awal 2014, gerakan ini dipusatkan di TK Khatulistiwa. Lokasinya di Jalan Untung Suropati, Kecamatan Pontianak Selatan. Mereka menempati rumah dinas yang harusnya ditempati guru atau kepala sekolah. Sempat minta izin kepala sekolah, mereka dianjurkan bertemu istri Sekda Kalbar, Ratna Yuniar.

“Cuma saya tak punya jalur. Kami minta tolong istrinya Pak Sy Mahmud. Bu Sekda bilang gak masalah untuk sosial,” jelasnya.

PENDIRI – Para founder Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi. IST

Akan tetapi, bukan berarti semua mulus. Diskriminasi terhadap anak-anak tak jarang terjadi. Mereka dilarang bermain di ayunan dan perosotan milik sekolah.

“Mereka bilang kalian kan pengemis gak layak mainkan permainan. Yang boleh main anak TK yang bayar,” kata Gita menirukan salah seorang petugas sekolah.

Gita tak tinggal diam. Dia mendatangi petugas sekolah tersebut, dan memastikan mengganti kerusakan. Acap kali, mereka harus melalui belajar tanpa penerangan. Listrik yang biasanya digunakan diputus. Alasannya telat bayar. Selain itu, tudingan mengotori sekolah tak jarang dialamatkan kepada mereka. Padahal selama ini Gita juga aktif membersihkan.

Namun, semuanya berubah setelah tahun 2017. Mereka mendapat bantuan hukum dari Kajati Kalbar yang dijabat Warih Sadono. Mereka membantu koordinasi dengan Pemerintah Daerah agar aktivitas rumah belajar tersebut dapat berjalan.

“Sampai sekarang beliau masih membiayai adik kami yang kuliah di Fakultas Pertanian di prodi Pangan,” terangnya.

BINCANG – Anggia Anggraini berbincang dengan anak didik di Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi, pertengahan 2017. IST

Wujudkan Mimpi Anak Pemulung

Bagi Gita, Khatulistiwa Berbagi memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Ibu satu anak ini pernah menangis ketika mendegar anak didiknya takut mempunyai mimpi. Merasa mimpi hanya milik orang kaya. Kejadian itulah yang membuatnya semangat bergerak.

“Rumah belajar ini kami dirikan karena kami tidak ingin ada diskriminasi pendidikan untuk anak marginal. Kami menyadari banyak dari mereka yang ketinggalan pendidikan, tidak berani memiliki cita-cita karena bagi mereka cita-cita itu hanya miliki orang kaya,” terang Gita.

Mereka pun menyiapkan pohon-pohon harapan di rumah belajar. Anak-anak diminta mengisinya. Agenda wajib tiap siswa. Mengisi secara spesifik dan ditempelkan ke pohon harapan.

Tak hanya kebutuhan pokok, donatur turut menyalurkan kebutuhan pokok untuk anak-anak. Di antaranya 30 karung beras ukuran 20 kg. Dibagi kepada 80 anak binaan rumah belajar setiap bulan.

Tiap bulan, Gita dan sembilan rekannya juga mengumpulkan sumbangan sebesar Rp25.000 untuk buku tulis dan perlengkapan anak.

“Kami buka open donasi keluarga kami bersepuluh. Tiap bulan sumbang Rp25.000 bersama teman-teman untuk bangun kas sejak 2015 sampai 2020,” katanya.

MAKAN BERSAMA – Anggita Anggriana dan anak-anak didik di Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi berfoto sebelum makan bersama, 2019 lalu. IST

Dukungan Keluarga

Lahir dari keluarga berkecukupan, membuat Anggia dan Anggita merasa janggal melihat penderitaan anak-anak pemulung. Ayahnya, H Suandar Marsie seorang developer perumahan. Ibunya, Sufirad Lubis, dosen di Medan. Sejak kecil mereka dididik menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain.

Ayahnya tegas. Ibunya selalu menanamkan sikap pantang menyerah. Memotivasi bahwa kegagalan, bukan berarti kalah. Hanya perlu belajar lagi.

“Sedangkan kakak saya memiliki karakter yang selalu mendukung, dan rekan terbaik dalam mendirikan rumah belajar bersama-sama,” jelasnya.

Sejak mendirikan Rumah Belajar Khatulistiwa Berbagi, orang tua selalu mendukung. Penguat saat mereka mulai lelah.

“Saat mulai merasa lelah, mereka selalu bilang luruskan niat seperti di awal mimpi kalian. Berdampingan dengan kakak, saya haru bisa memiliki mereka,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *