Kecewa Inkonsistensi Gubernur Sutarmidji, Aliansi Mahasiswa Sampaikan Mosi Tak Percaya

MOSI TAK PERCAYA - Tangkapan layar video Aliansi Mahasiswa Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) menyampaikan mosi tak percaya ke Gubernur Sutarmidji atas responnya terhadap aksi Tolak Omnibus Law di depan Kantor Gubernur 10 November 2020 lalu.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Aliansi Mahasiswa Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) kecewa dengan sikap Gubernur Kalbar, Sutarmidji yang tak mau menemui mahasiswa saat demo Omnibus Law 10 November lalu.

Gubernur pun dinilai hanya berdialektika. Di awal, bakal ikut barisan mahasiswa dan buruh untuk menyampaikan aspirasi penolakan Omnibus Law ke Pemerintah Pusat. Namun belakangan, Gubernur tak konsisten.

Bacaan Lainnya

Saat peringatan Hari Ulang Tahun Pontianak 23 Oktober lalu, Sutarmidji tiba-tiba mendukung Omnibus Law. Dengan alasan, Undang-undang Cipta Kerja itu dinilai baik untuk membangun iklim investasi dan usaha.

“Karena itu, kami menagih janji. Aksi 10 November 2020 lalu, kami mulai bergerak ke Kantor Gubernur. Harapannya bisa mendapatkan penjelasan,” kata Korlap Ampera, Jero Haryono dalam rilis yang diterima, Kamis (12/11/2020).

Tetapi, setelah dua jam menunggu, Gubernur tak kunjung keluar. Kabarnya Gubernur berada di pendopo. Massa aksi pun bergerak ke pendopo.

“Pada saat sampai di Pendopo, kami juga tak mendapat jawaban. Alih-alih bisa bertemu kami malah dibohongi. Seolah Gubernur menghindar. Lari dari mahasiswa. Seperti kucing-kucingan. Tentu kami sangat kecewa dan marah,” tegasnya.

Pernyataan Gubernur Sutarmidji yang akan membuka pintu selebar-lebarnya untuk diskusi dengan menyambut massa aksi kapanpun, tanggal 9 Oktober tak terbukti.

“Alih-alih merealisasikan ucapan dan sikapnya, Gubernur Kalbar justru dangkal, arogan dan terbawa perasaan dalam menyikapi massa aksi 10 November 2020,” katanya.

Karena itu, mewakili mahasiswa yang tergabung dalam Ampera, Jero menyatakan, mosi tak percaya kepada Pemerintah Provinsi Kalbar. Masyarakat selalu dibohongi. Pejabat hanya berdialektika saja.

Sebelumnya, Gubernur Kalbar, Sutarmidji berencana melaporkan seorang peserta aksi demo yang memaki dirinya, dalam aksi tolak Omnibus Law di Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (10/11/2020).

“Yang maki-maki saya itu, mau saya lapor polisi. Pasti. Karena itu hak saya,” katanya, Rabu (11/11/2020).

Sutarmidji menepis tudingan yang menyatakan dirinya lari dan tak mau menemui mahasiswa. Menurutnya, saat aksi demo berlangsung, dia harus menjadi pembicara secara virtual dengan Kementerian LHK perihal program Tora untuk memberikan hak atas tanah kepada masyarakat Kalbar.

“Itu untuk kepentingan masyarakat Kalbar. Selesainya kemarin sampai jam setengah dua. Saya baru selesai. Apakah saya harus tinggalkan itu?” kesalnya.

Karena itu, Sutarmidji menegaskan tak suka dengan aksi-aksi yang tak etis. Apalagi yang mengeluarkan kata-kata cacian, menghina orang lain.

“Saya tak suka cara seperti itu. Saya akan masalahkan video itu yang maki-maki saya,” katanya.

Sutarmidji memastikan tak ada lagi ruang diskusi. Setiap orang harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebagai Gubernur, dia sendiri pun sudah merasa maksimal menyampaikan aksi mahasiswa yang menolak Omnibus Law di Kalbar.

“Saya sudah sampaikan aspirasi mereka. Mau bicara apa lagi. Ini undang-undang sudah disahkan. Satu-satunya tinggal di MK. Silakan ikuti,” ucapnya.

Sutarmidji mengaku sangat kecewa dengan seorang peserta aksi demo yang terekam dalam video telah memaki-maki dirinya hingga sekarang ramai di jagad maya.

“Saya Gubernur. Jangan maki sembarangan. Iya kalau saya salah. Kalau saya gak salah? Besok saya akan buat laporan. Saya sudah bilang sama mereka. Saya tetap laporkan. Kita ketemu di pengadilan. Kecuali dia minta maaf terbuka,” tutupnya.

Selasa lalu, aliansi mahasiswa kembali menggelar aksi menuntut konsistensi Gubernur Sutarmidji dalam menolak Omnibus Law. Mereka merasa dibohongi gubernur yang belakangan justru mendukung Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *