Ketua AMPI Bengkayang Sayangkan Paslon Bupati Bengkayang Baca Teks Saat Debat Publik

Ketua AMPI, Golkar Bengkayang. (Foto Dok)

BENGKAYANG, insidepontianak.com – Ketua AMPI Golkar Bengkayang, Irwanda berpedapat, Debat publik calon kepala daerah kabupaten Bengkayang yang digelar pada Rabu (17/11/2020) malam di Ballroom hotel Harris Pontianak mestinya memperlihatkan tradisi akademis atau cara bertukar pikiran dengan pikiran terbuka. Tidak hanya membaca teks yang sudah dipersiapkan.

Proses tersebut tidak dapat dilakukan dengan instan. Setiap Paslon harus menjalani proses belajar dan membiasakan diri untuk melatih komunikasi efektif. Karena itu, dia menyayangkan, ada beberapa kandidat justru tak siap. Bahkan terpaksa membaca teks menjawab pertanyaan panelis.

Bacaan Lainnya

“Mempersiapkan data dengan catatan tentu diperbolehkan. Tetapi, debat seperti membaca teks pidato sangat disayangkan,” ujarnya kepada Insidepontianak.com, Kamis (19/11/2020).

Dia berpendapat, pada moment debat publik itu, masyarakat Bengkayang sebenarnya sangat menunggu ide-ide brillian para kandidat yang selama ini disampaikan pada saat kampanye atau yang diserahkan kepada KPU.

Irwanda menilai, dari empat kandidat pasangan calon bupati dan wakil bupati Bengkayang, hanya terlihat Paslon nomor urut 1, Sebastianus Darwis – Syamsul Rizal yang terlihat setiap. Alasannya, penyampaian komunikasinya baik dan jelas. Ada program konkret yang ditawarkan. Tidak mengawang-awang. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan tepat.

“Debat semalam, pasangan Sebastianus Darwis – Syamsul Rizal memberikan jawaban atas pertanyaan yang sesuai. Bahkan, beberapa inovasi sempat disampaikan,” ucapnya.

Karenanya, siapa pasangan yang mendominasi debat, bisa dikatakan dikuasai oleh pasangan nomor urut 1. Tidak kalah piawai sebenarnya pasangan Herman Ivo dan Yohanes Pasti. Namun patut disanyangkan, Herman Ivo – Yohanes Pasti, hanya berbicara normatif dan sangat umum, dan data-data yang ditampilkan sangat minim.

Berbanding terbalik dengan pasangan nomor urut 1 yang memberikan data indikator, seperti IPM begitu akurat. Dalam acara debat, data sangat penting. Tujuannya, agar setiap yang disampaikan berdasarkan fakta.

“Begitu pun dalam membuat program pembangunan. Harus berbasis data. Supaya program yang dibuat terukur,” katanya.

Dalam proses debat publik tersebut, Irwanda menilai ada yang tak elok disampaikan Paslon nomor urut 4, saat sesi penutup. Herman Ivo terkesan sukuisme. Padahal, Bengkayang terdiri dari banyak suku dan plural. Terlepas dari itu, dokter muda itu mengajak seluruh masyarakat Bengkayang, menyukseskan pilkada yang aman, damai dan berintegritas.

“Mari kita sukseskan Pilkada Bengkayang dengan datang ke TPS dan hindari praktik money politic. Sehingga kita menghasilkan pemimpin baru yang lebih baik,” tutupnya. (abdul)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *