Pengamat Nilai Ide Darwis-Rizal Soal Program Kampung Budaya Menarik dan Kreatif untuk Rawat Keberagaman

Pengamat komunikasi Universitas Tanjungpura, Netty Herawati.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pengamat komunikasi Universitas Tanjungpura, Netty Herawati menilai, ada yang menarik dalam gagasan paslon Bupati Bengkayang nomor urut 1, Sebastianus Darwis-Syamsul Rizal dalam merawat keberagaman, yang diungkapkan dalam debat publik, Rabu (17/11/2020) malam.

“Yang menarik di paslon 1, gagasannya tentang mengelola keberagaman melalui program wisata. Mencerminkan wawasan multikultur yang bagus. Ide tentang kampung budaya cukup menarik dan kreatif,” katanya.

Bacaan Lainnya

Sedangkan paslon nomor urut 2, Mok Fotjhui-Aliong, dinilai kurang menonjol. Baik dari sisi performa maupun program yang ditawarkan. Hanya normatif. Tidak ditemukan adanya suatu ide dan gagasan yang bersifat gebrakan.

“Kalau paslon 2 saya lihat aura leadershipnya kurang menonjol. Konsepnya terlalu sederhana. Kelihatan berorientasi pada ekonomi semata. Hal yang disampaikan berulang-ulang,” ucapnya.

Menurut Netty, paslon Mok Fotjhui-Aliong yang mewacanakan akan memasarkan produk petani untuk menyejahterakan masyarakat menjadi tak relevan. Sebab, peran pemimpin tidak sesederhana itu. Tidak berbicara teknis. Tetapi gagasan dan konsep yang besar.

“Harusnya, tata kelola perdagangan dibuat sedemikian rupa untuk menunjang pemasaran produk pertanian. Yang ditingkatkan daya saing serta nilai tambah berbagai produk pertanian Bengkayang,” ujarnya.

Secara umum Netty menilai paslon nomor urut 2 itu, kemampuan retorika dan diplomasi kurang memadai. Public speaking-nya kurang mendukung. Sehingga yang tampil hanya memperlihatkan wawasan biasa-biasa saja.

Sementara paslon 3, Martinus-Carlos sebenarnya punya konsep cukup menjual. Ada hal-hal konkret yang disentuh. Seperti pendidikan nonformal, peluang mengembangkan pariwisata, sebagai dampak adanya pelabuhan Kijing dan Bandara Singkawang, solusi Covid-19, pengelolaan PLTS, dan pengelolaan aset.

Dalam sisi performa, paslon Martinus-Carlos kurang siap. Hal itu terlihat pada hampir semua sesi dalam menjawab pertanyaan panelis selalu membaca teks. Kemampuan komunikasi publiknya kurang memadai.

“Dengan terfokus pada teks yang disiapkan, tampak cabup tidak fokus mengomunikasikan pikirannya. Tetapi konsentrasi pada narasi yang sudah disiapkan. Ini menunjukkan kelemahan dalam diplomasi dan kemampuan retorika yang standar,” katanya.

Untuk paslon nomor 4, Herman Ivo-Yohanes Pasti, Netty menilai penampilan keduanya datar saja. Penjabaran misinya juga kurang konkret. Kemampuan retorika juga kurang memadai.

Terutama saat membahas masalah Sungai Sebalo yang tercemar. Jawaban mereka untuk memastikan masyarakat tidak mengonsumsi air sungai yang tercemar, mencerminkan kurang memahami akar masalah dan belum mampu membuat analisis thinking yang baik dalam menawarkan solusi.

“Jawaban yang terlalu standar juga saat menjelaskan solusi Covid-19 dan pertanian,” sebutnya.

Namun, secara umum Netty menyayangkan keempat paslon karena tidak ada yang fokus menyentuh persoalan perbatasan. Padahal di perbatasan, masih menyisakan persoalan kompleks berbagai kegiatan ilegal.

“Di perbatasan itu, (Jagoi Babang) sampai sekarang, masih marak penyelundupan narkoba. Dan masyarakat yang hidup di perbatasan masih jauh tertinggal. Ini yang tidak disentuh,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *