Sumber Air Bersih Hadir, ‘Hantu Kemarau’ Warga Ampulor Tersingkir

RESMIKAN - Potong pita dan demo mencuci tangan sebagai tanda diresmikannya PAMSIMAS Kampung Ampulor, Desa Parit Banjar, Mempawah Timur. YAK

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Suasana ceria menghiasi wajah warga Dusun Ampulor, Desa Parit Banjar, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar.

Anak-anak berlarian ke sana ke mari. Sesekali mereka menghidupkan keran air yang ada di tengah Kampung Ampulor. Keran air itu barang baru bagi mereka. Selama ini belum ada fasilitas umum serupa. Apalagi lokasinya tak jauh dari PAUD.

Bacaan Lainnya

Seorang anak membawa botol bekas. Di dalamnya ada anak ikan. Air keran yang bersih dan mengalir deras dia ambil untuk mengisi botol tersebut. Sepertinya, memang menyegarkan bagi insang ikan cupang yang baru diseroknya dari genangan samping rumah.

“Kalau diisi dengan air ini tidak keruh lagi warnanya,” kata seorang anak yang masih berumur 5 tahun itu kepada kakak perempuannya.

Dia adalah satu diantara puluhan anak yang bahagia bisa menikmati air bersih dari Program Nasional Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang dibiayai APBD Kabupaten Mempawah Tahun 2020.

Dusun Ampulor adalah kampung yang berada di sayap ujung barat Desa Parit Banjar. Ada 86 Kepala Keluarga (KK) yang hidup dan menggunakan air parit serta air hujan untuk kebutuhan sehari-hari sejak kampung itu berdiri.

Kepala Desa Parit Banjar, Marlito mengatakan, dari 86 KK tadi, ada 393 jiwa yang berdomisili di Dusun Ampulor. Selain masalah air bersih, mereka juga terkurung minimnya infrastruktur. Jarak antara Kantor Desa dengan kampung mereka lebih dari dua kilometer.

Jalannya rusak parah. Licin ketika hujan, berlubang ketika kemarau. Bertahun-tahun ini warga di Ampulor memotong jalan menuju Desa Bakau Kecil yang jaraknya 700an meter jika ingin menuju Balai Desa.

“Bukannya tak ada pembangunan di sini, tapi jalan semen ini sudah berumur nyaris 8 tahun. Dibangun sejak tahun 2012,” katanya.

Mereka tak masalah jika harus menderita karena infrastruktur yang rusak. Tapi mereka lebih mengeluh jika tak ada sumber air bersih ketika musim kemarau tiba.

Mandi dan mencuci harus ke kampung sebelah. Sebab air parit dan kolam-kolam di belakang rumah kering. Semakin surut, kualitas air parit semakin kotor dan berbau. Sudah pasti itu mengancam kesehatan mereka.

“Boleh dikatakan seumur hidup warga Kampung Ampulor ini mandi, mencuci dan memanfaatkan air parit. Karena tidak ada sumber air bersih lain selain hujan dari langit sejak mereka tinggal di kampung itu,” kata Marlito.

Namun semua kini berubah. Berawal dari usaha Marlito mencari peluang. Program Nasional PAMSIMAS ditangkapnya. Sampai waktu berjalan, ditetapkanlah lokasi PAMSIMAS di Kampung Ampulor.

Proses pembangunan kurang lebih tiga bulan. Marlito mengatakan, anggaran yang digunakan Rp316 juta rupiah. Semuanya dipakai untuk membuat sumber air kehidupan bagi ribuan jiwa yang ada di Ampulor.

Hari ini, Kamis (19/11/2020) PAMSIMAS yang dikerjakan berbulan-bulan dengan Swakelola Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) ‘KOMPAK’ Dusun Ampulor diresmikan. Serah terima dari PPK dan warga dilakukan. Pita merah dipotong. Masa depan ribuan orang datang.

Namun, benar kata Marlito, membangun PAMSIMAS tidak sulit jika ada anggaran dari pemerintah. Setelah dibangun, pemeliharaan dan pemanfaatan adalah tugas kedua bagi warga setempat. Banyak PAMSIMAS yang dibuat, namun tak bertahan lama.

“Mudah-mudahan ini bisa dimanfaatkan dan dipelihara oleh warga. Ini adalah awal pembangunan di Ampulor. Harapan saya pemerintah bisa buka mata, ada infrastruktur yang rusak,” katanya.

Marlito berpesan kepada warga, jika sukses dalam pemeliharaan dan pemanfaatan PAMSIMAS ini. Pemerintah bisa memasukkan program lanjutan yakni Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Kan enak kalau ada program lanjutan PHBS, warga bisa punya jamban sehat sendiri. Tapi syaratnya mereka harus pelihara dan manfaatkan PAMSIMAS ini dulu,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *