Air Pasang Disertai Hujan, 35 Persen Wilayah Pontianak Otomatis Tergenang

TINJAU - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meninjau pintu air Parit Tokaya di Jalan Tanjungpura, Jumat (20/11/2020).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan berdasarkan ramalan BMKG, puncak pasang tertinggi bisa mencapai 1,8 meter dari muka air pasang rata-rata. Jika sudah demikian, ditambah hujan deras, maka 35 persen wilayah Kota Pontianak akan tergenang.

Sebagaimana yang terjadi beberapa hari lalu. Di mana jadi curah hujan tertinggi di Pontianak sejak tahun 2019. Jalanan dan rumah warga pun tergenang. Pontianak sendiri merupakan daerah rendah.

Bacaan Lainnya

Fenomena La Nina menambah derita. Namun hal itu merupakan kondisi alam yang menjadi ciri khas Indonesia. Karena Indonesia mengalami dua musim yakni kemarau dan penghujan.

Biasanya pada akhir tahun mulai dari September, Oktober, November, Desember, Januari dan Februari akan mengalami musim penghujan. Lalu pada Agustus dan September akan mengalami musim kemarau.

“Faktor cuaca ini mempengaruhi oleh sebab itu kita mengikuti ramalan cuaca yang disampaikan BMKG termasuk air pasang surut, angin hujan, badai,” ucap Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Ia menambahkan jika dilihat pada akhir-akhir ini sudah rutin terjadi hujan baik kecil maupun besar. Kemudian dibarengi dengan pasang air laut sehingga otomatis kondisi air Sungai Kapuas juga meninggi.

“Pemerintah Kota Pontianak melakukan upaya agar genangan tersebut tidak menghambat aktivitas,” katanya.

Dirinya menyampaikan upaya antisipasi yang dilakukan Pemerintah Kota Pontianak diantaranya yakni kesiapan warga terhadap genangan. Kemudian memastikan saluran harus berfungsi baik sehingga air pasang dan surut bisa cepat.

“Pemerintah Kota Pontianak juga mendapatkan bantuan dari Bank Dunia untuk mewujudkan kota yang tangguh terhadap banjir,” jelasnya.

Selain itu langkah jangka menengah dan panjang juga dilakukan diantaranya meninggikan jalan. Sebagian besar telah dilakukan tetapi terbentur dengan anggaran. Sehingga tidak serta merta dalam waktu singkat seluruh permasalahan bisa diatasi.

“Kita minta warga untuk siaga selalu, Pemerintah Kota Pontianak juga siaga menghadapi segala kemungkinan, misalnya air pasang disertai angin dan gelombang yang tinggi, ini bisa menyebabkan banjir bukan genangan lagi,” ungkapnya.

Edi menuturkan untuk saluran di Kota Pontianak yang diperlukan bukan kedalaman. Akan tetapi diperlukan pelebaran saluran tersebut. Karena jika hanya dalam, maka endapan akan masuk.

Terlebih saat ini menurutnya kondisi Sungai Kapuas telah dangkal. Sementara kewenangan tidak seluruhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Pontianak. Sungai Kapuas di bawah kewenangan Balai Besar Sungai.

“Kemudian saluran primer menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi. Tanggung jawab Pemerintah Kota Pontianak di luar Sungai Kapuas dan saluran primer yakni sekunder dan tersier,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *