Meneroka Jejak Sastra Sufistik Kalbar

  • Bagikan
ilustrasi.

KHAIRUL FUAD, peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar.

MEMBICARAKAN sastra sufistik Kalbar tidak dapat lepas dari karya Odhy’s dengan antologi terakhirnya Rahasia Sang Guru Sufi. Dedikasi akhir karya sastranya pada jalur sufistik dengan menggali wacana-wacananya yang dituangkan dalam karya sastra bergenre puisi. Odhy’s menjadi sosok atas berkembangnya sastra sufistik. Karya sastra dengan mendarmakan wadahnya berisi wacana sufistik yang beragam di Kalimantan Barat.

Jika masih hidup sampai detik ini, Odhy’s kemungkinan besar akan memproduksi puisi-puisi bermuatan, baik secara kuantitas dan kualitas. Kuantitas dengan ragam judul, sedangkan kualitas dapat dijadikan jaminan menghasilkan sastra sufistik mumpuni. Dalam antologi tersebut didapati wacana sufistik yang terperinci, menjadi bukti kualitas yang dapat ditimbang. Dari eksplorasi pengetahuan, etika, laku, dan para tokoh sufistik.

Tidak berlebihan, Odhy’s tampaknya telah berupaya merevitalisasi wacana sufistik Kalbar melalui sastra, yang sebelumnya pernah dilakukan Syaikh Ahmad Khatib Sambas melalui ilmu tarikat. Meskipun berbeda cara-pandang, ruh sama diembuskan melalui sufistik sekaligus menunjukkan bahwa sesuatu lahir kemudian tidak lepas dari budaya sebelumnya. Dengan demikian, wacana sufistik berkelanjutan di Bumi Khatulistiwa dengan ragam cara-pandang.

Kemudian, Ahmad Aran, mungkin nama yang masih asing di dunia kesastraan Kalbar, juga memproduksi puisi sufistik, yang dipublikasikan di antologi bersama Jepin Kapuas Rindu Puisi. Sayangnya, puisi berikutnya dengan ruh sufistik sudah jarang ditemui karena dia sadari akan menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat. Secara kuantitas hanya beberapa puisinya sedangkan secara kualitas ditemukan wacana sufistik dengan warna wihdatul wujud.

Konsep wihdatul wujud yang diusungnya sepertinya menjadi alasan keberatan Ahmad Aran memproduksi puisi-puisi sufistik lanjutan. Sampai sekarang tidak diketemukan lagi puisinya dipublikasikan atau dimungkinkan hanya untuk koleksi pribadi. Wacana sastra sufistik dibutuhkan pemahaman mendalam sebab berhubungan dengan Tuhan. Jika tidak dibarengi cara pandang yang memadai, dapat terjebak pada tajsim.

Pasca-Odhy’s dan Ahmad Aran diharapkan muncul penulis sastra sufistik dari Kalimantan Barat. Keberadaan sastra sufistik berpotensi menyemarakkan geliat lokalitas sastra Kalimantan Barat yang beragam dengan sudut-pandang. Memerinci lokalitas sastra Kalimantan perlu diupayakan demi membangun mozaik dari kepingan-kepingan, termasuk kepingan sastra sufistik yang ternyata terdapat pijakan sejarah dalam kesastraan Kalimantan Barat.

Irisan sastra dan sufistik terletak pada substansi yang mengacu kepada di balik kata dan di balik yang tampak (metafisika). Sastra dan sufistik memiliki kesamaan pandangan terhadap esensi yang terdapat pada entitas (wujud). Bagi sastra, entitas kata terdapat makna mendalam sebagai sistem tanda, begitu juga bagi sufistik, entitas sesuatu terkandung esensi mendalam sebagai causa prima. Irisan itu setidaknya sebagai epistemologi sastra sufistik.

Akan tetapi, memasuki dunia sastra sufistik tampaknya harus dibarengi dengan metamorfosis jejak kesastraan. Odhy’s sendiri sebelum akhirnya menekuni sastra sufistik sebagai pumpunan, telah bermetamorfosis dari sastra pop ke sastra serius dengan cerpennya Indahnya Persatuan sebagai penanda. Sementara itu, Ahmad Aran harus melakukan internalisasi menyendiri di atas geladak kapal pada malam hari saat masih bekerja di pelayaran.

Oleh karena itu, pemahaman sastra sufistik sebagai arah menujukan sastra ke dalam ranah ketuhanan (divinity) maka geliat semacam ini yang hakikatnya dilakukan oleh beberapa sastrawan. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa Si Burung Merak, W.S. Rendra dalam perjalanan karya terdapat tiga matra mandat, yaitu mandat alam, mandat manusia, dan mandat Tuhan. Metamorfosis kerja sastra berakhir pada dermaga ketuhanan.

Dunia sastra berpotensi mendekatkan intimisasi ketuhanan dengan cara yang beragam, baik pada ranah religius dan religiusitas, sebagaimana Ahmad Aran lakukan. Di sisi lain, dapat dipahami bahwa dunia sastra menggiring perjalanan pada jejak metamorfosis berujung pada ranah ketuhanan, sebagaimana Odhy’s rasai. Pada gilirannya, memasuki sastra sufistik merupakan internalisasi mendalam melalui metamorfosis kerja sastra serta dibarengi dengan kematangan (maturity) segala aspek pada individu.

Sudut rumah, 151120

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: