Guru dan Aktivis Pendidikan Kapuas Hulu Susun Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan

DISKUSI - Seorang guru muda dari selatan Kapuas Hulu memaparkan pendapat dalam penyusunan kerangka kurikulum muatan lokal pendidikan lingkungan untuk sekolah dasar di Kapuas Hulu, Selasa (24/11/2020).

PUTUSSIBAU, insidepontianak.com – Dua puluh enam guru serta aktivis pendidikan perwakilan berbagai kecamatan di Kapuas Hulu mengikuti diskusi terarah penyusunan kerangka kurikulum muatan lokal pendidikan lingkungan untuk sekolah dasar di SDN 04 Putussibau, Selasa (24/11/2020).

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kapuas Hulu, Jumran mengatakan diskusi terarah ini merupakan upaya mewujudkan generasi Kapuas Hulu yang berkarakter kuat dan memiliki identitas diri sebagai anak-anak daerah yang berbudaya.

Apalagi pendidikan muatan lokal di Kabupaten Kapuas Hulu sudah memiliki dasar hukum yang kuat, yaitu Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal. Dia berharap proses ini akan jadi langkah yang baik untuk penerapan pelajaran mulok di Uncak Kapuas.

“Adanya dukungan terutama dari lembaga seperti WWF-Indonesia dan para guru maupun aktivis pendidikan, hal ini akan jadi pemicu yang baik. Kami merasa yakin ini bisa terlaksana dengan baik dan berhasil, dengan tentu sangat mengharapkan tindak lanjut terutama di sekolah-sekolah,” ucap Jumran.

Proses diskusi ini merupakan tahap awal terarah penyusunan kerangka kurikulum muatan lokal pendidikan lingkungan di Kapuas Hulu. Tujuannya adalah menyamakan persepsi mengenai nilai-nilai apa yang akan dimuat dalam kurikulum mulok.

Peserta dari Kecamatan Batang Lupar, Apriani Wilhelmina mengatakan penyusunan kurikulum muatan lokal penting dilakukan karena selama ini guru-guru mengajar tanpa ada dokumen ajar yang jelas. Banyak yang menggunakan dokumen ajar dari hasil mengumpulkan data sendiri dan membuat modul ajarnya.

Aktivis pendidikan sekaligus panitia acara, Agustinus Suryaindrawan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan WWF-I.

“Ini merupakan upaya bersama kami dengan rekan-rekan di Dinas terutama saat ini dengan bidang Pendidikan Dasar untuk mewujudkan Pendidikan lingkungan hidup di SD di Kapuas Hulu. Semoga dengan adanya kerja sama para pihak ini, cita-cita Perbup No. 9 tahun 2014 dapat tercapai,” jelasnya.

Dia juga menuturkan sebelum mengadakan proses diskusi, sudah dilakukan penjajakan ke guru-guru yang hadir.

“Kami sudah melakukan prakondisi sebelumnya, mendatangi guru-guru satu per satu ke kecamatan dan mendengar cerita mereka mengenai pendidikan di daerah masing-masing,” katanya.

Dari cerita yang didapatkan dari penelusuran ini, diketahui bahwa selama ini belum ada bahan ajar muatan lokal yang kontekstual dengan kondisi Kapuas Hulu. Bahkan ada sekolah yang tidak menerapkan pelajaran mulok karena tidak memiliki dokumen ajar serta keterbatasan sumber daya.

Padahal Kapuas Hulu memiliki isu lokal yang sangat menarik. Misalnya saja dengan status kabupaten konservasi serta kebudayaan tiap komunitas adat yang turut serta menjaga lingkungan di Kapuas Hulu. Pengetahuan seperti itulah yang harapannya bisa diturunkan pada peserta didik.

Dia berpendapat bahwa pelajaran muatan lokal merupakan ruang di mana peserta didik bisa mengenal daerahnya dengan baik. Namun proses ini masih panjang, sebelumnya sudah ada upaya dari Dinas Pendidikan untuk menyusun kurikulum muatan lokal tapi jalan di tempat. Upaya hari ini diharapkan bisa jadi langkah baru dan mampu dikawal hingga tuntas.

“Kita ingin menanamkan rasa cinta daerah pada anak didik, sehingga mereka tetap kembali ke sini. prosesnya sangat dinamis, semuanya akan diramu jadi draft dan akan didistribusikan pada peserta untuk direview kembali,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *