Wanita Penjaga Api: Cap Lokal Tak Jadi Soal

Wanita Penjaga Api karya Amrin Zuraidi Rawansyah.

ABROORZA A YUSRA, penulis, pegiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan.

BIASANYA, tiap bertemu dengan karya yang dicap bernilai lokal, bayangan awal dalam benak saya (mungkin juga Anda) sebelum pembacaan dimulai adalah karya itu berisi ritual-ritual adat, istilah dan dialog berbahasa kampung. Itu umum, lumrah, dan wajar. Tetapi dalam beberapa kasus, kelokalan kadang hanya “numpang nempel” tanpa memiliki korelasi yang jelas dan utuh pada esensi cerita. Itu gawat.

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran akan yang gawat itu muncul ketika saya dihadapkan dengan kumpulan cerpen Wanita Penjaga Api, karya Amrin Zuraidi Rawansyah, terbit tahun 2014. Di sampul belakangnya sudah ada cap “percikan warna lokal” (dalam narasi pengantar yang ditulis Wisnu Pamungkas). Wah. Namun, setelah beberapa cerpen dilalui, kekhawatiran saya sedikit demi sedikit memudar.

Cerpen-cerpen di Wanita Penjaga Api memang berlatar belakang adat, kondisi sosial masyarakat, mitos, tahayul. Tetapi segala kelokalan tersebut tidak lantas menjadi beban yang bisa saja membuat cerita menjadi semacam ceramah leluhur apalagi “numpang nempel” semata.

Ada 12 cerpen di Wanita Penjaga Api. Di antaranya: Pulang, berkisah tentang persoalan tambang emas yang marak di kampung-kampung wilayah hulu sungai; Sonah, mengenai sudut pandang beberapa karakter tokoh tentang tuduhan pembunuhan yang dilakukan Ino si tokoh utama atas kematian seorang perempuan; Ada Apa Renjana, mengenai konflik asmara ala lokal; Wanita Penjaga Api, tentang mitos keturunan dukun yang dibungkus dengan dialog-dialog romantis; Tanda, tentang mudahnya suatu kabar bohong (tompel di paha!) diterima dan dipercayai oleh suatu kelompok masyarakat; Cinderamata, tentang sebuah tragedi klotok yang terbenam ke laut dan berdampak pada nahasnya jiwa asmara si tokoh utama; Aparat, tentang kekhawatiran seorang anak bahwa keluarganya melanggar prinsip-prinsip kejujuran demi sebuah cita-cita jabatan.

Untuk menilai kualitas sebuah karya, cara paling sederhana yang saya terapkan adalah dengan memasang dua kacamata: Pertama, dengan mengukur apakah karya tersebut merepresentasikan sebuah realitas (sosial, budaya, spiritual) masyarakat. Kedua, dengan mengukur apakah karya tersebut mampu menjadi representasi, cermin, bagi para pembacanya dalam menyimak diri sendiri.

Dalam bingkai kacamata pertama, Wanita Penjaga Api, tidak diragukan lagi, memberi informasi tentang realitas suatu masyarakat. Amrin selaku penulis menawarkan pada kita untuk turut pasang telinga pasang mata dan ikut berolah imajinasi meracik bumbu khayali tentang lingkungan tempat ia berada atau tempat-tempat yang menginspirasinya. Semua karya pada dasarnya memang begitu.

Kemudian, jika ditilik dengan bingkai kacamata kedua, saya kira ada hal-hal yang perlu didalami lebih serius.

Tidak semua karya, tidak semua penulis, sanggup mencapai titik bagaimana sebuah karya mampu menjadi cermin lantas melahirkan sesuatu yang baru, dalam diri pembacanya, walaupun karya tersebut barangkali tidak memiliki kaitan kultural, teritorial, historis, dan waktu, secara langsung pada diri si pembaca. Hal ini penting, karena apa gunanya menulis jika hanya untuk onani? Tidak mampu berbagi sesuatu dengan pembacanya?

“Kemampuan penyiar/pengarang bukanlah membuat kita (pembaca) jadi lebih pintar atau lebih hebat, tetapi mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup,” tutur Ignas Kleden.

Perkara kedua ini yang sering menjadi tantangan. Tidak ada alasan apakah karya itu bercap lokal atau tidak.

Sesungguhnya, setiap cerita punya kandungan ‘nilai lokal’, karena, bagaimanapun, seorang penulis pasti, sedikit atau banyak, merekam atau terinspirasi dari hal-hal yang terjadi di sekitar. Di realitas lokal.

Gabriel Garcia Marquez tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai dan ciri kelokalan masyarakat Meksiko dan Kolombia. Orhan Pamuk tidak bisa dilepaskan dari kelokalan masyarakat Turki. Naguib Mahfouz, pasti berkaitan dengan Mesir. Yasunari Kawabata, pasti selalu tentang Jepang.

Mereka menunjukkan bahwa cerita berlatar belakang lokal bukan berarti lantas menjadi deskripsi informasi tentang situasi lokal, yang menjadikan pembaca terjebak dalam gambaran teritorial belaka.

Kunci yang mereka pegang adalah karya sastra selalu mengerucut pada satu titik: eksistensi manusia. Inilah kiranya yang sering diistilahkan universal. Sebuah ritual adat atau mitos atau legenda lokal, di titik universal ini tidak menjadi milik sebuah komunitas masyarakat belaka, namun juga masyarakat lain, di belahan dunia lain, dan di masa hidup yang lain.

Hal itu sesuai dengan sifat sebuah karya sastra: memiliki kemampuan lintas ruang dan waktu. Ia tetap dapat dipahami oleh pembaca yang tidak punya hubungan kultur atau historis secara langsung pada kelokalan karya tersebut. Dengan catatan: selama karya tersebut tidak terjebak pada tanda-tanda lokal saja.

Kita tidak akan mengenal, misalnya Para Priyayi, seandainya Umar Kayam si penulisnya hanya berkutat pada tradisi kaum priyayi tanpa menyentuh nilai-nilai universal yang memungkinkannya dibaca oleh pembaca berbeda kultur. Nyatanya, saat membaca Para Priyayi, kita yang bukan orang Jawa sekalipun, mampu menyerap dengan cukup baik esensi dari ceritanya. Marah Rusli dan Sutan Takdir Alisjahbana merupakan contoh para penulis berlatar belakang Minangkabau, namun pembacanya terbentang setidaknya dari Barat ke Timur Indonesia.

Lantas, apakah cerpen-cerpen Amrin, yang termuat di Wanita Penjaga Api punya potensi untuk menjadi universal? Terbebas dari kelokalannya? Terhubung dengan pembaca yang lebih luas?

Jika dikatakan “potensial”, saya akan menjawab, “Ya”. Potensi itu terletak pada, saat membaca, kita tidak perlu benar-benar tahu di mana latar belakang tempat yang disebutkan di kumpulan cerpen Wanita Penjaga Api. Sebab, kita sudah digiring untuk menelusuri hal lain yang lebih penting: manusia dan kehidupannya. Universal. Artinya, karyanya tak lagi tentang sebuah informasi, namun beralih ke tahap yang lebih dalam: menjadi cermin bagi para pembaca.

Nah, di sini persoalannya yang memungkinkan potensinya sebatas potensi. Jika tolok ukur cermin kinclong adalah karya itu harus “mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup” sebagaimana yang dimaksud oleh Ignas Kleden, maka saya pribadi belum mencapai hal tersebut.

Harus saya akui, membaca cerpen-cerpen Amrin memerlukan suatu usaha yang cukup keras. Penyebab utamanya lebih kepada urusan teknis. Ritme hampir tiap cerpen nyaris sama. Ah, soal ritme ini, memang tidak ada teori yang pasti yang bisa saya pertanggungjawabkan secara objektif.

Sederhananya, dalam karya sastra, ritme yang kuat memungkinkan pembaca masuk ke dalam cerita tanpa menuntut berpikir terlalu banyak, tenggelam begitu saja, dan ketika akhirnya harus berakhir, ia akan mengenang dan mengingatnya berhari-hari atau bertahun-tahun kemudian –saya masih meningat cerpen berjudul MMK karya Emha Ainun Najib, padahal membacanya ketika di bangku sekolah dulu. Anda pun pasti punya pengalaman membaca yang begitu tenggelam dan terkesan.

Ritme bergantung pada komposisi kata-kata, penempatan yang sesuai kalimat berbunga atau lugas, kalimat aktif atau pasif, dialog panjang atau pendek, narasi deskriptif atau ekspresif, dan sebagainya. Komposisi yang tepat menghasilkan ritme yang kuat, dan akirnya melahirkan sense of the story. Nah, kalau sudah sense, artinya sudah menyentuh ranah intuisi dan emosi. Intuisi dan emosi saya dan Anda bisa jadi berbeda. Karena itu saya bilang tadi, sulit untuk mempertanggungjawabkannya secara objektif. Hehe.

Tapi, mari kita lebih menilik potensinya ketimbang persoalan. Saya sungguh-sungguh ketika menyebut Wanita Penjaga Api itu potensial. Di luar urusan ritme, Wanita Penjaga Api masih punya tempat untuk dibaca di hari ini walau sudah enam tahun berselang semenjak kelahirannya.

Ia mampu bertahan karena realitas masyarakat yang diangkat masih marak kita jumpai di kampung-kampung atau perkotaan: kultur mitos, tahayul, kabar burung tanpa bukti jelas yang mudah dipercaya. Hal ini saja sudah merupakan sebuah prestasi. Tidak mudah untuk menulis di hari ini dan ternyata masih dingat di keesokannya. Apalagi diingat hingga tahun-tahun berikutnya.

Saya berharap, potensi Wanita Penjaga Api cukup untuk mengantarkannya menjadi karya yang layak melintas batas teritorial dan lintas generasi. Cap lokal tak jadi soal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *