Tomboi dalam Pusaran Kehidupan Urban Pontianak

ilustrasi.

Yaya sempat pergi dari rumah selama dua pekan. Gadis 22 tahun itu tak tahan, selalu ditegur dan dibandingkan dengan gadis seusianya. Keluarganya ingin dia tampil feminin. Namun, Yaya sebaliknya. Dia selalu merasa tak nyaman keluar dari jati diri sebagai tomboi. Puncaknya, tahun 2015 lalu. Dia kabur. Peristiwa itu, menjadi catatan hidup yang tak pernah dilupakannya.

“Saya sempat tak pulang. Saya risih terus diminta berubah, apalagi dibanding-bandingkan dengan anak tetangga hanya karena penampilan saya yang tomboi,” kata Yaya, salah satu perempuan tomboi di Kota Pontianak beberapa waktu lalu.

Yaya adalah salah satu warga Kecamatan Pontianak Barat. Suaranya besar. Potongan rambutnya cepak. Dia senang memakai celana jeans dan kaus oblong. Tak heran orang-orang kerap menyangka dia pria.

“Dipanggil sebutan abang, sudah sering,” katanya.

Yaya tomboi sejak kecil. Dia berteman dengan siapa saja. Lelaki perempuan semua jalan. Tak jarang, dia juga terlibat tawuran. Orang tuanya memaksanya berubah. Dibelikan rok dan boneka. Namun Yaya tetap tumbuh sebagaimana sekarang.

Ketika sekolah, dia pun mau tak mau pakai rok karena aturan. Di rumah, celana yang dipilih. Lebih nyaman bergerak, katanya.

Kebiasaan itu, berlanjut hingga dewasa. Keluarganya selalu protes. Yaya diminta berubah. Kalimat itu, bertahun-tahun terucap. Dalam nilai masyarakat, perempuan harus tampak feminin dengan rambut panjang, gaun menjuntai, sepatu hak tinggi, dan ayu-gemulai.

“Kau ini tak berubah. Coba kau lihat si A, penampilannya anggun macam perempuan. Kau malah gini,” ujarnya menirukan perkataan keluarga.

Awalnya, terbersit di kepalanya, apa yang salah dengan kenyamanannya. Mengapa dunia seakan memusuhi seorang tomboi? Padahal, dia tak merasa merugikan orang lain.

Beranjak dewasa, tekanan keluarga makin kuat. Puncaknya 2015 lalu, saat dia memilih tak pulang. Dua pekan dihabiskan di rumah nenek. Baginya, hanya nenek tempat yang nyaman. Di sana, dia diterima. Tak diminta berubah.

“Pascaitu, orang tua sempat cari. Akhirnya saya pulang. Alhamdulilah mereka pun menerima saya apa adanya,” ungkapnya.

Yaya bersyukur, meski kerap dikira laki-laki, keberadaannya diterima semua orang. Bahkan di lingkungan kerja. Terbukti, dia diterima bekerja sebagai satpam di salah satu dealer sepeda motor.

“Jadi kuncinya hanya attitude. Selama kita baik, penampilan tak menjadi kendala,” katanya.

Selain Yaya, Karin—bukan nama sebenarnya—merasa hal sama. Perempuan tahun 1998 itu sering kali risau dipaksa tampil feminin. Sehari-hari, tubuhnya lekat dengan celana jeans, dan kaus oblong.  Fesyen yang dinilai sebagian orang, bukan seharusnya dipakai perempuan.

Awal berpenampilan tomboi, ayah dan ibunya keras mempermasalahkan. Anaknya harus menjadi perempuan feminin. Menjadi kebanyakan. Sesuatu yang terus berkecamuk di kepalanya, lantaran berada di lingkungan keluarga agamanis. Mencemooh dengan membawa dalil-dalil tuhan.

Karin mengalah. Berusaha menyesuaikan diri ketika di rumah. Hanya di luar, dia bisa jadi dirinya sendiri.

“Kadang pas ada keluarga kumpul sesuaikan dirilah. Kadang pakai baju kurung Mamak karena tak punya baju perempuan. Jadi yang tadinya tomboi jadi agak berubah sedikit,” ungkapnya.

Anak pertama dari enam saudara ini selalu tampil maskulin. Rambutnya cepak. Senang pakai celana pendek dan kaus.

“Kalau dibelikan pakai wanita, saya nangis,” terangnya.

Beberapa tahun lalu, dia sempat bekerja sebagai operator di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Pontianak. Tak jarang, orang memanggilnya ‘abang’.

“Isi Rp10 ribu, Bang. Kadang saya jawab saya ini wanita, kemudian dia minta maaf. Maaf mbak, gitu,” ceritanya sambil tertawa.

Karin bersyukur di lingkungan pertemanan dan kerjanya kini, dia bisa jadi diri sendiri. Teman-temannya, baik lelaki dan perempuan tak peduli bagaimana penampilan, yang penting bisa kerja. Karin kini aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan dan perempuan. Dia juga punya usaha salon. Sesuatu yang mungkin ‘lebih perempuan’ jika mengikuti nilai-nilai yang disepakati masyarakat.

Semua tak lepas dari bergabungnya Karin ke komunitas tomboi Pontianak. Karakternya dibentuk. Mereka diberi pemahaman gender, dilatih bagaimana bicara depan publik, dan hukum. Dampaknya pun begitu terasa.

“Untuk saya pribadi dampak adanya organisasi sangat luar biasa, secara pemikiran berkembang, secara public speaking berkembang dan membuat percaya diri,” jelasnya.

Utamakan Sikap

Menjadi tomboi seringkali harus sabar. Baik karena ketidaktahuan, atau kesengajaan seseorang. Misalnya yang dialami Fera (40)—bukan nama sebenarnya. Berambut cepak dan kerap berpenampilan maskulin, urusan ke toilet pun bisa jadi ribet baginya.

“Setiap kali saya ke toilet perempuan saya sering kali malu ditegur masyarakat. Salah masuk bang. Ini toilet perempuan. Begitupun saat razia kendaraan, selalu dipanggil pak, setelah lihat KTP baru bilang mohon maaf ibu,” ceritanya.

Tak jarang, dia lelah. Yang seharusnya masuk toilet perempuan, jadi masuk toilet lelaki.

“Tak kuasa kadang ditegur, akhirnya sebelum ditegur masuk toilet laki-laki,” katanya.

Sejak kecil Fera senang sepak bola. Orang tua melarang, tapi dia kadung senang. Beranjak dewasa, penampilannya pun menyesuaikan. Sesuai apa yang nyaman. Kaus dan celana. Bukan rok. Untungnya, seorang bibinya juga tomboi. Keluarga pun lama-lama paham.

Paling penting bagi Fera, menjaga sikap dan sopan santun. Dia percaya, dua hal itu lebih penting daripada penampilan. Sesuatu yang dia rasakan sekarang. Apalagi setelah berkecimpung di Komunitas Tomboi Pontianak. Kini, dia yang jadi ketua.

Di organisasi itu, mereka saling menguatkan dan mengembangkan kapasitas diri. Baik pengetahuan soal tomboi, dan keterampilan. Tak heran, mereka dapat diterima dalam segala pekerjaan, mulai dari buruh kasar hingga kantoran.

Fera yakin—sebagaimana yang sering dikatakannya pada yang lain; penampilan terbaik adalah sikap.

Tomboi dalam Keberagaman

Pengamat Sosial Universitas Tanjungpura, Viza Julian menilai, tomboi merupakan sebuah kepribadian yang harus dihargai. Meski memang, persepsi masyarakat terhadap tomboi tidak terlalu bersahabat. Namun mereka tidak juga mendapatkan stigma negatif yang berlebihan. Berbeda jika yang dibicarakan homo seksual atau lesbian.

“Jika hanya sekadar pada tomboi dan orientasi seksual mereka masih heteroseksual atau tertarik pada lawan jenis, ini dianggap tidak sebagai sebuah pelanggaran berlebihan oleh masyarakat,” katanya.

Kendati demikian, tidak semua komunitas masyarakat memiliki pemahaman utuh terkait keberagaman. Sering kali, ketika suatu komunitas memiliki ekspektasi namun kenyataannya tidak sesuai, terjadilah penolakan.

“Misalnya seorang laki-laki bermain boneka. Ini dianggap tidak sesuai dan penyimpangan. Sama halnya ketika wanita bersifat tomboi yang tidak menjalankan status dan perannya semacam kerap mendapat cemooh,” terangnya.

Menurutnya, ada dua faktor penyebab terbentuknya karakter tomboi. Pertama, faktor alamiah, yang sejak dulu terbentuk. Kedua, dibentuk karena lingkungan, baik keluarga, dan masyarakat.

Sebagai ilmuan sosial, dirinya lebih melihat faktor sosial, yang mendorong orang berkepribadian tomboi, homo seksual, atau heteroseksual. Meskipun tak dapat dikesampingkan faktor alamiah juga berpengaruh.

“Artinya ketika dalam proses kelahirannya, ada hal tertentu mendorong misalnya hormon progesteron terlalu tinggi, sehingga dia berperilaku seperti laki-laki,” ungkapnya.

Kondisi ini pun dapat dilihat dari beberapa kasus. Seorang individu yang dibesarkan sama dengan adik dan kakaknya, namun dia berkepribadian tomboi. Secara sosial, kepribadian individu dibentuk lingkungan di sekitar mereka. Oleh karena itu, ketika orang berperilaku tertentu, sangat mungkin dipengaruhi lingkungan sekitar.

Misalnya dibesarkan di lingkungan yang saudaranya lebih banyak laki-laki atau dia satu-satunya perempuan. Kondisi itu, mendorong kemampuannya yang bersifat maskulin, misalnya memanjat pohon, berenang, dan berlari.

Apalagi di kalangan masyarakat yang patriarki, yang cenderung mengutamakan laki-laki. Sehingga sebuah keluarga yang memiliki anak perempuan namun tidak memiliki anak laki-laki, punya kecenderungan mendidiknya menjadi seseorang yang memiliki kualitas maskulin yang mirip dengan laki-laki.

“Yang otomatis mendorong anak itu memiliki kualitas mirip laki-laki, yang secara tidak sadar dilakukan,” jelasnya.

Akibatnya seringkali, mereka mendapat cemooh dan diskriminasi. Walau sebenarnya ada peran pemerintah menanamkan keberagaman, namun masih di tataran agama dan suku. Urusan menghargai perilaku seperti tomboi, atau orientasi seksual, minim.

 

Liputan ini merupakan bagian dari fellowship Jurnalisme Keberagaman ‘Pontianak Rumah Bersama’ yang digagas Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Mitra Sekolah Masyarakat (MiSeM) Kalbar, Satu dalam Perbedaan (Sadap) Indonesia, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), dan Suar Asa Khatulistiwa.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *