Miswan Edi Susanto: ‘Manusia Setrum’ dari Kayong Utara

Miswan Edi Susanto.

Setiap pejam mata, Poltak melihat pohon-pohon tumbang. Terik matahari menggila. Kulitnya terbakar. Rasa bersalahnya berwujud.

Lembaran rupiah memang mudah masuk dompetnya. Tepuk dada, sebut selera. Namun makin lama, ketenangan hidupnya sirna. Seperti ada macan di belakang punggungnya. Sejak itu, hidupnya berubah.

Mungkin tak banyak orang yang kenal sosok Poltak, atau pemilik nama asli Miswan Edi Susanto ini, jika dia tak masuk televisi. Saat itu, sebuah stasiun televisi swasta nasional mengundangnya. Mereka tertarik dengan pembangkit listrik tenaga air inovasi Poltak. Sesuatu yang dikerjakannya, setelah rasa bersalahnya makin ganas.

PERBAIKI – Miswan Edi Susanto alias Poltak saat memperbaiki alat di bengkelnya di Sukadana, beberapa waktu lalu. FACEBOOK MISWAN EDI SUSANTO

Rasa bersalah itu lahir dari hamparan masa depan yang dia hancurkan sejak tahun 1997; bisnis pembalakan liar.

“1997 aku keluar dari sebuah perusahaan di Ketapang. Dapat pesangon aku belikan mobil buruk Rp25 juta. Aku mulai ambil amprah (sisa) kayu dari Tumbang Titi ke Ketapang. Selanjutnya aku mulai beli chain-saw (merek mesin pemotong kayu) negolah sama pemilik lahan,” ceritanya, Minggu (13/12/2020).

Mobil seharga Rp25 Juta itu, beranak jadi delapan unit truk dalam kurun waktu kurang lebih lima tahun. Dari kerja sendiri, saudara dan sejumlah rekan diajak bergabung. Namun pria kelahiran 30 November 1972 itu masih merasa belum puas. Jaringannya butuh diperluas. Pasar harus menyeberang laut lepas.

Lelaki asal Pematang Raya, Sumatera Utara itu lantas mencari investor dan pinjaman modal. Sejumlah rekanan dihubungi. Sasarannya, pasar luar negeri.

“Aku sebagai tengkulak. Pengepul mereka jual ke aku, baru aku jual ke luar negeri. Aku kirim pakai kapal,” tuturnya.

PERTAMA – Poltak bersama rekan lainnya memanfaatkan aliran pembuangan dari kolam perikanan Dinas Kelautan Dan Perikanan Kayong Utara, sebagai lokasi riset pembangkit listrik pikohidro di Desa Pampang Harapan, Sukadana, 2014 lalu. FACEBOOK MISWAN EDI SUSANTO

Makin luas pasar, makin besar risiko dijajal. Apalagi dalam bisnis kayu ilegal. Praktik pembalakan liar itu memang jaya di masa transisi Orde Baru ke Reformasi. Orang-orang kaya baru muncul. Pembabatan hutan besar-besaran yang bikin alam hancur.

Tak jarang Poltak berurusan dengan hukum. Beberapa kapal miliknya yang membawa kayu ilegal ditahan. Sebagian malah hilang tanpa kabar. Untuk mengonformasi ke rekan bisnis di luar negeri sulit. Saat itu telekomunikasi belum semudah sekarang. Cuan tebal dengan risiko besar, hanya dibalut kepercayaan.

“Sukanya duit tidak pernah putus. Tapi ketika ada masalah (tertangkap) kita seperti buronan. Contohnya kayak kayu saya ditangkap di Natuna satu atau dua kapal, itu kayu disita, kapal juga disita. Kalau tiga kapal yang berangkat, satu kapal ada yang lolos (tidak ditangkap) dua tertangkap, kita masih song, masih ada untung,” cerita Poltak.

Masih terekam di dalam kepalanya, ketika bayangan-bayangan wujud rasa bersalahnya muncul di tahun 2010. Makin hari makin jelas. Hingga dia memutuskan berhenti.

Bagaimana tidak, dia merasakan betul perubahan dari tahun ke tahun. Ketapang dan Kayong Utara yang dulunya sejuk, berubah panas. Tak ada lagi pohon-pohon besar di kanan-kiri jalan yang dulu memayungi langkah. Semuanya lengang. Rimbun jadi gersang.

Dalam masa-masa bersalah dan penyesalan itu, dia bertemu seorang pegawai kehutanan Kayong Utara bernama Yudi. Mereka saling tukar cerita. Apa yang terjadi dulu dan kini. Hingga akhirnya Poltak bergabung di beberapa kegiatan sosial menanam mangrove di sekitaran Pantai Pulau Datok hingga Siduk.

PRESENTASI – Presentasi program listrik bertenaga air kepada masyrakat Matan, Kecamatan Simpang Hilir, Ketapang, 2019 lalu. FACEBOOK MISWAN EDI SUSANTO

Di dalam proses tersebut, dia berkenalan dengan sejumlah pegiat lingkungan. Pikirannya mulai terbuka.

“Setelah itu aku berpikir, bagaimana agar tanaman yang aku tebang bisa tumbuh kembali, kalau aku tanam pohon dari Pulau Datok sampai Ketapang, mungkin itu tidak terbayar, karena yang kutebang lebih dari itu, Sandai, Tayap, Tumbang Titi, hingga ke Kalteng,” katanya.

Dari rasa bersalah itu, Poltak mulai riset listrik tenaga air dengan skala kecil atau pikohidro. Alasannya, listrik belum andal. Setrum PLN sering padam. Malah beberapa desa, belum merdeka terang. Dia yang hanya sekolah enam tahun, memang suka kelistrikan sejak kecil. Di perusahaan lama pun, dia bergelut dengan mekanik.

Pikohidro dipilih lantaran Kalimantan Barat punya banyak sungai. Beberapa beraliran deras. Kuat memutar dinamo. Sumber air di Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kayong Utara yang dekat rumah jadi lokasi uji coba. Beberapa rekan pun diajak bergabung.

Tahap awal, penerangan rumahnya aman. Mesin bekerja. Kapasitas diperluas untuk menerangi rumah 10 kepala keluarga. Kapasitasnya sekitar lima kilowatt.

Beberapa lembaga swadaya masyarakat dan media lokal pun melirik. Setelahnya, beberapa media nasional datang. Hasil risetnya kala itu bisa dibilang langka dan memberikan motivasi kepada masyarakat.

“Saya buat di Simpang Saut, Sungai Ambawang, Sintang, dan akhirnya diketahui teman-teman wartawan, naik di koran, hingga akhirnya aku mulai dipanggil televisi nasional,” katanya.

Dari sana, sejumlah penghargaan dari kementerian didapat. Dia pun diundang jadi pemateri di sejumlah seminar universitas di pulau Jawa. Risetnya didukung tak hanya moral, tapi juga sumber dana. Salah satunya dari program Kick Andy di Metro Tv. Dana sebesar Rp100 juta dikucurkan untuk mewujudkan mimpi Poltak.

PENGHARGAAN – Salah satu penghargaan yang didapat Miswan Edi Susanto ketika jadi satu dari sekian Heroes pilihan program Kick Andy, tahun 2015. FACEBOOK MISWAN EDI SUSANTO

Namun belum lama berjalan, beberapa alat yang terpasang di sekitar aliran air Gunung Simpang Saut hilang dicuri. Dia pun melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib dan pengelola program Kick Andy.

“Untuk di Simpang Saut tidak gagal namun kabel-kabelnya hilang sampai dua kali. Nama aku sempat tercoreng karena kabel itu hilang, alat lain pun aku cabut karena tidak ada bantuan dari pemerintah. Diwawancarai Kementerian SDM, dimintai dibuat di Batu Peti, berhasil,” tambahnya.

Kini Poltak masih aktif survei ke lokasi yang dapat mengaliri listrik menggunakan tenaga air. Di antaranya Kepulauan Karimata, Kayong Utara. Proposal estimasi biaya pun sudah disampaikan kepada Pemerintah Daerah. Dananya tidak sedikit, tak mungkin pakai uang pribadi.

“Saya berani jamin kalau untuk genset paling mampu setahun karena pemeliharaan. Sementara kalau pikohidro pemeliharaan sangat murah, kita memanfaatkan sumber alam untuk tenaga alternatif,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *