banner 468x60 banner 468x60

“Landak dan Rubah” Berebut Tiket ke Surga

  • Bagikan
Kover buku 'Tiket Menuju Surga' karya Kristiawan Balasa.

ABROORZA A YUSRA, penulis, pegiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan.

WARTAWAN dan sastrawan itu kembar tapi tak sama. Dua profesi (jika bersastra bisa dikategorikan sebagai profesi) yang sama-sama berurusan dengan aksara, namun tindak-tanduk kreativitas dan tujuannya berbeda.

Ignas Kleden, dalam Kata Pengantar Catatan Pinggir Jilid II, “Eksperimen Seorang Penyair”, 1989, memberi gambaran perbedaan esensial antara keduanya: kapasitas seorang wartawan adalah membuat pembacanya mengetahui lebih banyak, sedangkan penyair sanggup membuat pembacanya menghayati lebih intens; wartawan bergelut dengan dunia luar, sedangkan sastrawan berurusan dengan dunia dalam; wartawan memperjuangkan fakta, sedangkan sastrawan menggarap makna; wartawan bekerja dengan pemberitaan, sedangkan sastrawan berkiprah dengan perenungan; prestasi seorang wartawan diukur berdasarkan banyaknya informasi yang dikumpulkan, sedangkan seorang penyair diukur berdasarkan mendalamnya makna yang sanggup diserap dan diendapkannya.

Orientasi gaya kepenulisan wartawan terletak pada rumus 5W1H. Rumus semua gaya berita itu sama –tanpa bermaksud mengerdilkan karakter penulisan individual masing-masing wartawan yang mungkin muncul dalam pemberitaan yang lebih mendalam (feature misalnya).

Sementara itu, bagi seorang sastrawan, walau selalu ada elemen-elemen pembangun cerita/syair (unsur intrinsik), tidak ada pakem-pakem tertentu yang menjaminnya untuk mencapai tujuannya. Semua kembali pada kreativitas si penulis, juga pada sedalam apa ia mampu menyerap, memendam, dan menyampaikan makna.

Karena itu, bila ada seorang wartawan yang merangkap menjadi sastrawan, atau sebaliknya, bisa dipastikan ia mesti menerabas sebuah batas fundamental dan prinsipil dari profesi sebelumnya. Sederhananya: ia mesti melakoni pekerjaan baru, mendalami jenis kreativitas yang berbeda.

Hal seperti itu yang dilakukan oleh Kristiawan Balasa ketika menerbitkan kumpulan cerpen Tiket Menuju Surga. Kristiawan, yang seorang wartawan, melampiaskan berbagai hal yang tidak dapat ditempuhnya lewat jalan kewartawanan, ke dalam Tiket Menuju Surga.

Saya tidak tahu apakah yang ditekuni oleh Kristiawan terlebih dahulu, menjadi jurnalis atau menulis cerpen, jika hal tersebut dianggap penting dalam membentuk karakter kepenulisannya, namun tidak terlalu penting juga untuk menelusurinya. Bukan maksud saya hendak membandingkan tulisan berita Kristiawan dan karya sastranya. Hal itu tidak diperlukan benar.

Orientasi pembahasan saya lebih pada sisi kreativitas seorang Krisitawan Balasa dalam mengolah cerita-cerita yang diterbitkannya di dalam Tiket Menuju Surga. Kreativitas, ini kuncinya. Membaca Tiket Menuju Surga, kita dihadapkan dengan upaya-upaya kreatif yang beragam dari penulis tersebut.

Karena alasan kreativitas itu, semestinya, saya memberi judul tulisan ini dengan “Eksperimen Seorang Pengarang” atau “Ragam Eksperimental dalam Kumpulan Cerpen Tiket Menuju Surga“. Apa pun itu, harus ada kata “eksperimen”.

Musababnya, karena di tiap cerita di buku yang terbit pada awal 2020 ini, kita akan menemukan sudut pandang, tema, pola, bahkan gaya bercerita yang berbeda-beda. Berwarna-warni. Kita sebagai pembaca selalu dihadapkan dengan kejutan-kejutan pada tiap cerita, memunculkan rasa penasaran dan pertanyaan “apa lagi setelah ini” usai merampungkan sebuah cerita.

Cerpen Tiket Menuju Surga yang menjadi cerpen pertama di kumcer ini, menggunakan sudut pandang orang kedua. “Kau”. Cara ini membuat kita sebagai pembaca akan merasa dilibatkan secara utuh dalam cerita yang dibangun: roman yang agak sado-masokis.

Lantas, cerpen Ayah dan Penghuni Pohon Tinggi, Menunggu Panglima Burung, dan Sutik dan Bangau Penjaga Tanjung, berangkat dari mitos dan takhayul masyarakat, yang oleh Kristiawan dikembangkan dengan nuansa realisme-magis.

Cerpen Telinga ini Aku Pinjam, menampilkan kisah yang sederhana: tokoh “saya” bertemu dengan perempuan asing di ruang perpustakaan. Terjadi dialog dengan perempuan tersebut dan terjadi monolog dengan diri sendiri. Hal ini lumrah terjadi dan mudah dibayangkan.

Cerpen Anjing Itu Terus Menggonggong, bertokohkan karakter imajiner: anjing, majikan, pembasmi hama.  Cerpen ini juga menggunakan perpindahan-perpindahan sudut pandang. Anjing ke Majikan, lalu ke Pembasmi Hama, dan seterusnya. Saling menyambung. Saling menimpali. Gaya penuturannya selalu menggunakan kalimat aktif. Tokoh-tokohnya jarang diubah ke kata ganti orang ketiga: 

Anjing itu tahu, masanya akan tiba, saat ia tak akan lagi dalam kungkungan. Anjing itu melihat bagaimana kucing dan tikus saling bunuh untuk isi perut. Anjing itu memandang ayam-ayam mengais makan… (hal 21, cerpen Anjing Itu Terus Menggonggong).

Ada 15 cerita pendek dalam kumcer Tiket Menuju Surga (akan panjang tulisan ini jika saya mendedahkan satu per satu). Namun, sebagaimana lazimnya, tidak semua eksperimen itu berhasil. Maka akan kita temukan beragam “tingkat keberhasilan” pada masing-masing cerpen. “Tingkat keberhasilan” di sini merujuk pada sejauh mana cerita-cerita pendek itu mampu “bercerita” dan sedalam apa makna yang bisa dibawa pembaca pulang usai membacanya.

Beberapa cerpen berhasil “leluasa” bergerak, menawarkan kita pandangan-pandangan imajiner yang mengasyikkan. Sementara itu, beberapa cerpen lain masih dalam konsep nanggung: kiasan yang dibuat tidak kuat atau cerita berakhir dengan tanpa menggiring pembaca untuk duduk termenung meresapi makna yang lebih dalam, seolah terlalu dipaksakan.

Misalnya, di cerpen Anjing Itu Terus Menggonggong. Cerpen itu bercerita tentang revolusi anjing-anjing untuk menentang tirani majikan mereka. Pada awal cerita, kita sudah didorong untuk masuk ke dalam suasana peternakan. Cukup menarik. Sayangnya, muncul kata-kata “negara”, “komunis”, “pagar istana”, “membakar ban”, dan hal ini sungguh menganggu, membuat daya khayal pembaca terombang-ambing antara realitas dan imajinasi, antara penanda dan petanda. Padahal, tanpa kata-kata tersebut, pembaca sudah dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh cerita. Kristiawan selaku penulis tampaknya khawatir pembacanya tidak mampu memahami. Wah, ini sama dengan tindakan meremehkan imajinasi pembaca.

Beberapa cerpen berhasil mendongeng, membuai kita dalam plot, tokoh, latar belakang yang dibangun. Sementara itu, di beberapa cerpen lainnya, berulang-ulang terjadi kesalahan yang semestinya mudah untuk diperbaiki. Yang paling umum adalah munculnya kalimat ambigu di bagian yang semestinya lugas.

Itu adalah tempat terlarang bagi penghuni rumah lain. Bukan karena sakral, tapi Sobar tak ingin peliharaannya diurusi banyak orang (hal 33, cerpen Pada Suatu Malam).

Kalimat pertama, “…penghuni rumah lain”, bisa membuat pembaca berpikir, “rumah yang mana? Tetangga?” Padahal yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah “penghuni lain di rumahnya”.

Lalu, kalimat kedua, tertulis: “…banyak orang”, padahal isi rumahnya, selain si Sobar, hanya ada dua orang lain. Bung, “dua” belum bisa dikatakan banyak. Saya bisa bertamengkan historis linguistik soal ini.

Kesalahan menata kata dan kurang tepatnya kosakata mungkin hal yang kecil, namun percayalah, hal itu cukup mengganggu pembacaan yang nyaman.

Dengan menimbang keberhasilan dan kegagalan yang dapat dicapai di dalam Tiket Menuju Surga, sebab itu saya lebih memilih memberi judul tulisan ini dengan “Landak dan Rubah” Berebut Tiket ke Surga. Saya memanfaatkan salah satu fragmen puisi seorang penyair Yunani, Archilochus: Rubah tahu banyak hal, namun Landak tahu satu hal besar.

Fragmen ini kerap digunakan untuk mengambarkan dua sisi kebutuhan manusia terhadap pengetahuan: tahu secara banyak atau tahu secara mendalam. Pribadi cerdas, konservatif, dan kritis dimiliki oleh Landak, sementara karakteristik diri yang lebih fleksibel, kompromis, dan kreatif, dimiliki oleh Rubah.

Menjadi Landak atau Rubah bukanlah sebuah pilihan, karena keduanya, walau terkesan kontradiktif, berpagut berpilin ada di dalam diri masing-masing kita. Porsinya saja yang berbeda-beda.

Tiket Menuju Surga memantik sisi Landak dan Rubah dalam diri kita sebagai pembaca. Beberapa cerpen menuntun kita untuk “mengetahui hal lain”, sementara beberapa cerpen lagi menuntun untuk “mendalami satu hal”.

Barangkali hal ini bisa dianggap sebagai sebuah kegagalan Tiket Menuju Surga, sebab pada umumnya, hanya salah satu, apakah Landak atau Rubah, yang mendominasi sebuah karya (Plato, Henrik Ibsen, Fyodor Dostoevsky, Hegel, Friedrich Nietzsche masuk dalam kategori Landak, sedangkan Shakespeare, Wolfgang von Goethe, Honore de Balzac, James Joyce masuk ke dalam Rubah).

Namun, bisa dianggap juga sebagai satu keberhasilan. Warna-warna kreativitas, eksperimental, pergumulan esensial antara kerja seorang wartawan dan sastrawan, yang terkandung dalam Tiket Menuju Surga, tidak sekadar memantik sisi imajiner dan realitas, namun juga kepekaan kita dalam melihat sesuatu di luar atau di dalam diri kita. Yang mana yang lebih dominan, Rubah atau Landak? Ya, dengan membaca keseluruhan Tiket Menuju Surga, kedua sisi itu saling berebut tempat menyeruak ke luar: jadi, aku ini apa. Saya pikir, itu pertanyaan yang penting untuk mengenal diri sendiri sebagai entitas dari umat makhluk hidup.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: