Ingin Bahagiakan Keluarga, Nazar Syifa Kamila Tertunda Bersama Jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182

Emma
Emma Yusja, ibu Make Up Artist (MUA) Pontianak, Syifa Kamila. (Andi Ridwansyah/Inside Pontianak)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Raut wajah Emma Yusja, ibu Make Up Artist  (MUA) Pontianak, Syifa Kamila biasa disebut Syifa Mila, tampak lesu. Suaranya terdengar lirih dan pelan. Sesekali air matanya jatuh. Perempuan 54 tahun itu seakan tak percaya, komunikasi melalui  telepon pada Sabtu (9/1/2021), menjadi yang terakhir kali bersama sang anak.

Komunikasi itu berlangsung pukul 10.00 WIB, beberapa jam sebelum jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta menuju Pontianak, jatuh di Pulau Lancang, Kepulauan Seribu. Saat itu, Emma tak sempat menitipkan pesan. Kondisi itu menjadi penyesalan tersendiri, bagi warga Gang Ruwai, Kecamatan Pontianak Kota.

Bacaan Lainnya

Emma mengaku tak memiliki firasat apa pun. Dia awalnya tak mengetahui keberangkatan sang putri sulung ke Jakarta. Sebab, sering kali, Syifa Kamila yang rutinitasnya padat, pergi tanpa kabar. Kendati demikian, Sabtu, pukul 10.00 WIB, pagi itu, ia memiliki kesempatan berkomunikasi dengan sang putri.

“Saya telepon dia. Kebetulan paginya, abang sepupu saya minta nomor Syifa, ada yang mau diomongkan. Namun, pas pamannya nelpon, dia  tak angkat telepon. Jadi, saya menghubungi dia,” kata Emma Yusja, saat ditemui wartawan di kantor Syifamilaa di Jalan Karimun, Kecamatan Pontianak Kota.

Saat itu, tak ada pesan yang disampaikan Syifa Kamila kepada sang ibu. Demikian pun Emma. Dia bahkan lupa menanyakan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang ditumpangi Syifa pulang. Semuanya ditutup dengan biasa saja. Tak pernah terpikir musibah itu bakal terjadi.

“Dia hanya bilang, nanti ketemu di Pontianak. Hari ini, Sabtu (9/1/2021), dia tiba pukul 17.00 WIB. Namun tak langsung ke rumah, karena ada proyek wedding di Singkawang,” ungkapnya.

Namun, tunggu punya tunggu, tak ada kabar diterima Emma. Hingga pukul 17.00 WIB, kaca jendela rumahnya diketok. Saudaranya memberi tahu, nama Syifa masuk dalam daftar penumpang Sriwijaya Air SJ-182.

Sontak, Emma pun kaget.

Sebelumnya, ia tak sempat bertanya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang ditumpangi putrinya.

“Saya pun langsung mengabari menantu saya (suami Syifa Kamila). Dia langsung berangkat ke Bandara,” terangnya.

Dia berharap ada keajaiban. Walaupun, ia menerima semua ketetapan Allah. Di matanya, Syifa adalah anak yang baik, mandiri dan bertanggung jawab.

“Dia juga tulang punggung keluarga,” jelasnya.

Sejak Emma menyandang status single parent, Syifa Kamila dikenal tulang punggung keluarga. Sejak kecil, Syifa selalu ringan tangan. Sejumlah pekerjaan dilakoninya bersama sang ibu, agar ekonomi keluarga dapat berputar.

“Saya jualan korket nitip di kantin kampus dan sekolah. Syifa juga yang bantu adiknya,” jelas Emma.

Kemandirian Syifa juga telah nampak sejak SMA. Dia sempat bekerja di Carrefour. Bahkan, melanjutkan kuliah di Universitas Tanjung Pura, Jurusan Bahasa Inggris. Syifa lulus 2018.

Disela-sela kesibukanya mengikuti perkuliahan, Syifa juga mengajar les. Sejak tahun 2013, Syifa mulai melakoni wedding organizer, mengikuti tantenya. Saat ini, sebagian besar orang mengenalnya.

Setahun berselang, dia mulai bisnis sendri Make Up Artist (MUA) Pontianak. Modalnya cuma Rp 500 ribu. Uang itu dari sang ibu.

“Mama, saya minta modal Rp 500 ribu saja, untuk beli beauty case dan bedak. Sebelumnya, perlengkapan make up telah dibeli dari honor ikut tantenya,” katanya.

Selain uang, Syifa dikenal anak yang patuh kepada orang tua. Do’a orang tua selalu jadi perhatian. Saat mulai bisnis tersebut, Syifa selalu mohon do’a sang ibu. Tak heran bila, do’a sang ibu mengantarkannya, pada suatu kesuksesan, seperti sekarang ini.

Sebelum menjadi korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Syifa ada harapan yang belum tersampaikan. Pertama, membawa sang ibu berangkat Umroh. Niat itu telah direncanakan sejak 1 Januari 2020. Namun, terpaksa ditunda karena pandemi Covid-19.

“Dia bilang, mama sudah kakak daftarkan Umroh. DP-nya sudah kakak bayarkan. 1 Ramadan mama sudah di sana, paspor tolong diurus. Namun, karena Covid-19, Umroh belum bisa ditunaikan,” kata Emma bercerita.

Selain itu, Syifa juga berniat memperbaiki rumah ibunya. Saat tahun baru, Syifa meneteskan air mata melihat kondisi rumah ibunya yang tergenang banjir dan bocor. Dia pun minta maaf dengan kondisi itu.

“Kakak mohon maaf, kalau hujan masih terendam. Masih bocor. Mama sabar, ya! Kakak masih mau ngumpulin uang selama enam bulan. Pengen bangun rumah sendiri, dan betulkan rumah mama, walau sederhana,“ ceritanya.

Selain itu, Syifa juga ingin menguliahkan adiknya, dan membelikan kendaraan baru. Sebab, dia khawatir dengan kondisi kendaraan tua yang digunakan adiknya. Namun, semua itu tinggal kenangan. Tercerabut bersama nasib sang anak yang hingga sekarang belum ditemukan.

Syifa perempuan luar biasa. Ada banyak mimpi ingin dia wujudkan untuk membantu keluarga. Namun, semua itu terkubur, bersama riak dan dingin arus laut di perairan Kepulauan Seribu. (Andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *