Pesawat Boeing Berpotensi Korosi Mesin, Pengamat Dorong Otoritas Perhubungan Udara Periksa Kelayakan

Pengamat transportasi udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pengamat transportasi udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani meminta badan otoritas perhubungan udara memeriksa kelayakan sejumlah maskapai pascajatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak, Sabtu (9/1/2021) kemarin. Dirinya menyebut, korosi atau kerusakan mesin berpotensi terjadi di sejumlah maskapai jenis Boeing. Potensi korosi disebabkan kemungkinan pesawat Boeing 737 terparkir karena pandemi.

“Tujuh hari saja tak terbang, pesawat jenis Boeing sudah rawan ada masalah. Ini dapat terjadi korosi atau bagian mesin tiba-tiba mati. Temuan itu sudah ditemukan FAA, lembaga otoritas America,” kata Syarif Usmulyani kepada insidepontianak.com, Minggu (10/1/2021).

Bacaan Lainnya

Selama pandemi, banyak pesawat yang terparkir karena penurunan penumpang. Korosi bisa mengakibatkan matinya kompresor dan kehilangan daya mesin ganda secara tiba-tiba.

Untuk itulah, diperlukan pemeriksaan dari badan otoritas perhubungan udara. Sebab beberapa maskapai memiliki pesawat jenis Boeing. Sebut saja Garuda Indonesia yang memiliki 73 pesawat B737-800 G, Lion Air 78 pesawat 737-900 dan 43 pesawat 737-800. Sementara itu, Sriwijaya Air sendiri memiliki enam pesawat 737-500 termasuk SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, 16 pesawat 737-800 serta dua pesawat 737-900.

“Untuk itu perlu cek air check valve kedua mesin. Maskapai harus mengganti katup atau sistem untuk menghilangkan potensi terjadi korosi,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak dilaporkan hilang kontak, Sabtu (9/1/2021) sekitar pukul 14.40 WIB. Pesawat ini mengangkut 56 penumpang, terdiri dari 46 dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *