Hajon Mahdy Mahmudin: Technopreneur Pontianak di Kancah Nasional

Hajon Mahdy Mahmudin.

‘Ideas are a commodity, execution of them is not.’

– Michael Dell, CEO Dell

Bacaan Lainnya

Ketika bicara startup di Pontianak, nama Hajon Mahdy Mahmudin mungkin yang pertama muncul. Seorang atlet judo yang jadi penjaga gawang Qara’a, sebuah aplikasi gaya hidup Islami—terlaris peringkat delapan di PlayStore—juga bidan sejumlah startup lokal.

Mahdy sukses menembus pasar nasional lewat PT Kreasi Hotama Putra yang didirikannya April 2011 lalu. Walau sebenarnya, jauh sebelum itu, dia sudah menguatkan kaki di dunia digital Pontianak. Colleger Radio, Delapan Bit, dan Borneo Skycam jadi garapan yang memupuk ilmu dan pengalaman. Meski, dua yang disebut di awal, kini tinggal kenangan.

Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards Tahun 2020 bidang teknologi ini merintis semua dari sebuah radio streaming anak kampus tahun 2010. Bersama sejumlah rekan, Colleger Radio didirikan. Saat itu jiwa digitalpreneur-nya meronta melihat potensi pasar di internet.

Colleger Radio jadi ruang keluarga bagi para mahasiswa. Tak hanya di Pontianak, tapi sampai mancanegara. Mereka bertukar informasi kegiatan mahasiswa dan ilmu dan cerita.

Bisa jadi, radio streaming ini merupakan perusahaan rintisan pertama di Pontianak. Manajemen dilakukan dengan sistem semi sociopreneur. Keuntungan perusahaan dari iklan dipakai untuk kegiatan sosial. Garis besarnya, edukasi integritas anak muda. Sasarannya tak hanya Pontianak, tapi juga Bengkayang, bahkan di perbatasan Entikong, Sanggau.

COLLEGER RADIO – Perayaan ulang tahun keempat Colleger Radio tahun 2015. Di tahun ini, radio streaming anak kampus ini nonaktif. Empat tahun mengudara, selain fokus edukasi pemuda, beragam lomba sering mereka buat. Dua di antaranya roket air dan robot. DOK PRIBADI

“Program edukasi itu sukses. Bahkan sempat dilirik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2012,” cerita Hajon Mahdy Mahmudin akhir tahun 2020.

Tahun 2010, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat korupsi tinggi di dunia. Apa yang telah dilakukan Colleger Radio dilirik KPK. Dua punggawa mereka dipilih menjadi agen of change KPK. Sayangnya, program kerja sama itu kandas seiring digulingkannya Abraham Samad dari kursi pimpinan komisi antirasuah. Karena kesibukan, radio streaming itu pun dibekukan.

Namun pengalaman itu bikin Hajon Mahdy belajar dan punya jaringan. Kabar baik itu datang dari salah seorang rekan sociopreneur-nya di Colleger Radio. El John Radio–sebuah radio spesialis pariwisata ingin menyapa dunia lewat streaming. Sebuah perusahaan developer jadi saingannya. Tawarannya Rp25 juta per bulan. Hajon Mahdy nekat memberi harga rendah.

“Seketika, aku menyeletuk. Aku bilang aku sanggup dengan biaya lebih murah yakni Rp25 juta per tahun,” terangnya.

Tak disangka, tawarannya berbuah manis. Esok harinya, dia rapat bisnis pertamanya di Jakarta dan langsung sepakat di tempat. Dua minggu pekerjaan itu dilakoni. Namun dia rugi. Ongkos bolak-balik Jakarta-Pontianak, biaya konsumsi, server dan lainnya, tak tertutupi. Tapi El John Indonesia puas.

“Akhirnya, secara personal Pak John bilang jika kontrak secara personal dengan perusahaan maka tak akan berkembang. Akhirnya bangun CV. Putra Hotama. Itu sejarah awalnya (PT Kreasi Hotama Putra),” jelas wirausaha muda Mandiri 2019 ini.

Awal kelahiran Hotama, mereka dipercaya menangani lima hotel mereka El John Group. Tugasnya, membuat sistem manajemen perhotelan. Sebab, sering kali terjadi pembukuan ganda yang merugikan perusahaan. Sentuhan Putra Hotama bikin sistem keuangan mereka lebih baik. Secara real time semua cash flow langsung masuk ke pusat. El John puas.


DRONE PERTAMA – Hajon Mahdy Mahmudin menerbangkan drone pertama bikinannya yang jadi cikal bakal BorneoSkycam tahun 2011. Drone tersebut dibuat sendiri berbahan kayu balsa dengan remote stik PlayStation. Mungkin, drone mereka jadi yang pertama terbang di Pontianak. DOK PRIBADI

Dengan portofolio mentereng, tak heran Hotama Putra bisa mengembangkan sayap. Berubah jadi perseroan terbatas dan mendapat klien kelas kakap. Sebut saja Travel Club Tourism Award untuk Kementerian Pariwisata, SERVE Raja Ampat, dan aplikasi monitoring teknisi salah satu provider plat merah. Selain itu, Hotama juga terlibat dalam pengembangan aplikasi pendidikan GreatEdu, dan muncul dengan aplikasi sendiri Qara’a.

Setidaknya kini PT Kreasi Hotama Putra memiliki 31 karyawan. Bekerja di dua wilayah. Pontianak sebagai kantor pengembang, dan di Jakarta untuk menjaring pasar. Hajon Mahdy pun tak sembarang rekrut orang. Sebagian besar ditemukannya dari komunitas dan sekolah mereka.

“Sebenarnya programmer di Pontianak tidak kalah. Cuma memang sementara pasar ada di Jakarta. Jadi untuk kantor utama tetap di Pontianak, Jakarta cuma untuk pemasaran,” sebutnya.

Dengan sistem seperti itu, mahasiswa berprestasi STMIK Pontianak ini harus bolak-balik Pontianak-Jakarta. Sesuatu yang sempat membuatnya menyesal: merasa belum sempat membahagiakan ibunya.

Pensiun di Usia 30

Sejak kecil, bapak satu anak kelahiran Pontianak, 29 November 1992 ini dibentuk sebagai pekerja keras, optimis dan realistis. Sesuatu yang dilakukan, terencana dengan target matang. Harus punya plan A, B dan C.

“Golnya tetap mencapai target, meski dengan jalan berbeda,” kata alumni SMK Bina Utama ini.

Target jangka panjang dan pendek dibuat. Jangka pendek, dibikin per bulan. Capaian-capaian kunci pun dibuat sebagai panduan. Gagal di rencana A, ganti B. Patah lagi, ubah ke C. Evaluasi dilakukan berkala. Ajaran itu didapat dari ayahnya.

“Setiap perbuatan yang aku lakukan diperhitungkan. Termasuk kuliah, nikah, dan bangun perusahaan,” ungkapnya.

ATLET – Hajoh Mahdy (kiri) ketika mewakili Kalimantan Barat di kelas junior di bawah 50 kg di Kejurnas Judo Junior dan Senior ‘Kartika Cup 2008’ di Bandung. Tanpa persiapan, dengan jaket kontingen dibuat di lokasi tanding, mereka berhasil menyabet tiga medali perunggu. DOK PRIBADI

Ketika sekolah, orang tuanya tak pernah bertanya nilai yang didapat. Termasuk peringkat. Yang ditanya, apakah sudah sesuai target. Tanggung jawab terhadap target dan capaian, dikedepankan.

“Tak naik kelas pun, kalau sesuai dengan target (lain yang ingin dicapai) ya sudah,” jelasnya.

Hajon Mahdy sendiri sempat tak naik kelas setahun lantaran sibuk sebagai atlet judo. Waktunya habis di asrama pelatihan.

Sebagaimana kecil, saat pilih kuliah, Hajon Mahdy memetakan peluang dan kelemahan. Sebenarnya, jadi sarjana komputer merupakan rencana ketiga. Awalnya dia melihat peluang perbankan syariah, namun lingkungan tempat kuliah yang disasarnya kurang menarik hati. Rencana lain adalah arsitek. Akan tetapi belum sesuai harapan.

“Akhirnya masuk STIMIK karena melihat dunia digital akan berkembang ke depan. Untuk bayar uang masuk dan semesteran, usaha sendiri karena lumayan mahal,” ceritanya.

Hajon Mahdy pun bolak-balik mengurus berkas agar bisa masuk dengan jalur prestasinya sebagai atlet. Sejumlah beasiswa juga disasar. Bahkan urusan menentukan mata kuliah, harus sesuai target lulus. Dia menyisir batas minimal masuk kelas dan mata kuliah yang diambil.

PELUNCURAN – Peluncuran aplikasi GreatEdu yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tahun 2019. Di sini, Hajon Mahdy (kiri Anies) berperan sebagai VP Research & Development. DOK PRIBADI

“Misalnya mata kuliah Metode Numerik. Ini mata kuliah wajib, ada 16 kali pertemuan. Tapi boleh absen 25 persen, atau gak masuk lima kali. Saya gak masuk,” paparnya.

Waktu ‘bolos’ itu dipakainya untuk belajar di luar. Dia rutin ikut berbagai komunitas. Tiap jamnya, benar-benar dimanfaatkan.

“Alhamdulillah saya berhasil selesai tepat waktu. Nilai C hanya satu, sisanya A dan B walau jarang masuk, dan mengorbankan pendidikan,” jelas VP Research & Development PT. GreatEdu Global Mahardika ini.

Apa yang dilakukannya, untuk mengejar target utama. Punya perusahaan dan pensiun di usia 30. Namun sebagaimana yang dikatakannya, harus ada yang dikorbankan. Dia tidak memperhitungkan kemungkinan lain: usia orang tak ada yang tahu.

Hal itulah yang paling disesali. Ketika membangun Hotama, waktunya habis di Jakarta. Kerja hingga subuh dan sering tidur di kantor. Pemilik sertifikat Google Ads Professional ini jarang pulang Pontianak. Namun 25 Januari 2015, dia kangen rumah, usai mengantar ayahnya ke bandara.

“Waktu itu masih bisa beli tiket di bandara. Jadi langsung pulang. Sebelumnya telepon ibu, minta masakkan sayur kangkung, goreng tempe tahu, kesukaan aku,” ceritanya.

Namun siapa sangka, masakan itu, jadi yang terakhir dimakannya dari tangan ibunda. Ibunya meninggal di saat tidur. Keluarga mereka biasa tidur bersama di ruang televisi. Ketika pagi, ternyata cinta pertamanya telah menuntaskan janji.

Hati Hajon Mahdy seperti kerupuk yang diremas. Remuk seremuk-remuknya. Rasa bersalah sibuk di luar, jarang punya waktu untuk keluarga, dan mengejar cita-cita bermukim di kepalanya. Butuh waktu berbulan-bulan baginya untuk kembali berjalan dan menulis kembali rencana-rencananya. Termasuk menikah.

“Rencana aku memang menikah di usia 25. Tapi gak kepikiran juga kalau ibu meninggal,” kata Co-Founder PT. Arah Teknologi Indonesia ini.

Penyesalan itu pula yang mendorongnya mengejar target pensiun di usia 30. Dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan buah hatinya. Menemani tumbuh kembang anak perempuannya. Keluarganya kini tak ingin dikorbankan.

“Umur 30 aku ingin setop kerja untuk menyiapkan anak-anak,” katanya.

MEMBELAH LANGIT KHATULISTIWA – Hajon Mahdy Mahmudin menjelaskan proyek ‘Membelah Langit Khatulistiwa’ kepada para pengunjung Festival Kulminasi di Tugu Khatulistiwa, Maret 2018 lalu. Dalam proyek ini, drone berenergi matahari bikinan BorneoSkycam terbang 16 jam. Pesawat nikawak yang sama membawa mereka menang kompetisi startup di Malaysia dan jadi mitra militer dalam pemetaan geospasial di Papua. DOK PRIBADI

Dia tak ingin yang dilakukan dulu, juga dialami anaknya. Kandidat pengganti di Hotama sudah di tangan. Borneo Skycam sudah didelegasikan ke rekan.

“Capaian kunci (untuk pensiun) sudah tercapai. Tinggal objektive belum tercapai. Masih dua tahun sampai 2022,” ungkapnya.

Akan tetapi, bukan berarti Hajon Mahdy benar-benar keluar dari dunia startup. Target berikutnya sudah disiapkan. Tentu dengan fleksibilitas dan menjadikan keluarga sebagai prioritas. Dia ingin membantu startup lokal berkembang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *