Pontianak Terima 10.400 Dosis Vaksin, Besok Mulai Disuntikkan

Wali Kota Edi
TERIMA - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono didampingi Ketua DPRD Pontianak, Satarudin menerima vaksin Sinovac secara simbolis, dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Rabu (12/1/2021). Tahap pertama, Pontianak mendapat jatah 10.400 dosis vaksin Sinovac. (Prokopim).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pemerintah Kota Pontianak terima 10.400 dosis vaksin Sinovac, dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Rabu (12/1/2021). Vaksin tersebut didistribusikan menggunakan kendaraan mobil box. Dikawal ketat aparat menuju Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak. Diterima langsung Wali Kota, Edi Rusdi Kamtono secara simbolis disertai dengan penandatanganan berita acara serah terima.

Edi menerangkan, vaksin Covid-19 yang baru saja ia terima, disimpan di gudang Farmasi, milik Dinkes Pontianak. Gudang itu, mampu menampung sekitar 15.000 dosis vaksin.

Bacaan Lainnya

“Rencananya, besok atau lusa, akan langsung kita gunakan untuk memberikan vaksin kepada tenaga kesehatan (nakes),” ungkapnya.

Edi memastikan tempat penyimanan vaksin tersebut sudah sesuai standar, sebagaimana yang telah ditetapkan. Bila nanti, Pontianak kembali mendapat jatah vaksin, tempat alternatif penyimpanan juga sudah disediakan. Yaitu di gudang milik Palang Merah Indonesia (PMI) yang lokasinya bersebelahan dengan Dinkes Kota Pontianak.

“Untuk distribusi vaksin tahap kedua, saat ini kita belum mendapatkan informasi. Artinya, kita masih menunggu informasi dari Provinsi,” ujarnya.

Untuk penerima vaksin tahap pertama di Kota Pontianak, memprioritaskan orang yang dianggap berisiko terhadap penularan Covid-19. Seperti tenaga kesehatan (nakes) dan petugas lapangan yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.

“Secepatnya, akan kita lakukan vaksinasi,” kata Edi.

Menurutnya, sampai saat ini ada 23 Puskesmas yang sudah siap melaksanakan vaksinasi. Semetara teknis distribusinya ke puskesmas-puskesmas, dilakukan berdasarkan permintaan dari kebutuhan yang diperlukan. Bila vaksinasi tahap pertama untuk para nakes selesai, dan stok vaksi masih tersedia, maka vaksinasi dilanjutkan ke anggota TNI, Polri dan ASN. Setelah itu, baru ditujukan untuk masyarakat umum.

“Untuk anggaran persediaan vaksin, berasal dari pemerintah pusat. Presiden telah menyatakan vaksin ini gratis. Kita tinggal melaksanakannya saja,” ucapnya.

Edi menambahkan, pihaknya terus gencar mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, tentang pentingnya vaksin bagi pengendalian penyebaran Covid-19. Ia berharap masyarakat mempercayakan kepada pemerintah, terkait keamanan vaksin.

“Sehingga upaya sosialisasi terus dilakukan kepada masyarakat,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menyatakan, untuk tahap pertama, vaksinasi ditujukan untuk 5.500 nakes. Jumlah itu, kata dia, masih terus berkembang. Sebab pendaftaran masih berjalan. Namun, dari jumlah tersebut, tidak seluruhnya bisa divaksinasi. Sebab ada kriteria yang menyebabkan orang tersebut tidak bisa divaksin.

“Kriteria eksklusif misalnya pernah terpapar Covid-19, ada penyakit komorbid sehingga tidak bisa divaksin,” jelasnya.

Menurutnya, Puskesmas akan terus memonitor aplikasi P-Care. Yang mana aplikasi tersebut berisikan undangan kepada para nakes yang akan menjalani vaksinasi sesuai tempat dan waktu yang telah ditentukan. Sidiq menjelaskan, rentang usia orang yang boleh diberikan vaksin Sinovac, antara 18 hingga 59 tahun. Sejauh ini, tercatat sudah 23 Puskesmas dan 13 fasilitas kesehatan lainnya siap untuk melaksanakan vaksinasi.

“Di Kota Pontianak semuanya berperan untuk memberikan suntikan. Hanya waktu masing-masing fasilitas kesehatan berbeda. Tergantung kemampuan fasilitas kesehatan,” paparnya.

Untuk penyuntikkan vaksin, kata Sidiq, dilakukan secara injeksi atau intramoskular di lengan sebelah kiri. Sebagaimana imunisasi biasa. Teknis pelaksanaan imunisasi sendiri bukanlah hal yang baru. Hanya saja dalam kasus Covid-19 ini, jenis vaksinnya baru, serta masih menggunakan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin kedaruratan.

“Sehingga siapa yang akan divaksin maka, harus terus dimonitoring secara ketat,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *