Yuliardi Qamal: Putra Daerah Pertama GM Hotel Bintang Empat

Yuliardi Qamal
GM Hotel Maestro Pontianak, Yuliardi Qamal. (Andi Ridwansyah/Insidepontianak.com)

Yuliardi Qamal ibarat legenda hidup, dunia perhotelan di Kalimantan Barat. Bicara mengenai dunia perhotelan, namanya selalu disebut. Bukan tanpa sebab. Lahir dan besar di keluarga pengusaha hotel, hingga jadi pengurus organisasi perhotelan, merupakan ritme dan nafas yang terus bersambung hingga kini.

Sifatnya ramah dan mudah bergaul. Tutur bahasanya halus. Bukan berarti menunduk, namun memberikan pelayanan dan persahabatan. Menanggapi. Karakter itu jadi modal Yuliardi, berkarier di dunia perhotelan.

Bacaan Lainnya

Dunia berkelas dan identik dengan pesohor. Makan dan minum lezat. Serta, dunia mondar-mandir para pemilik pinggang ramping. Dunia yang membuat, batas antara siang dan malam, seolah tiada jeda dan batas.

Dan, ia menikmati. Menjalani dunia perhotelan dengan totalitas dan kesadaran diri.

Nilai-nilai itu didapat dari ayahnya, sewaktu merintis hotel keluarga. Bekal itu mengantarkan jalan sukses. Malang melintang di dunia perhotelan. Namanya berkibar dan dikenal.

Dua periode sudah, dia tak tergantikan jadi Ketua Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar. Kini, pria kelahiran Pontianak, 15 Juli 1964, didapuk jadi General Manager (GM) Maestro Hotel Kota Baru di Jalan Sultan Abdurrahman, Pontianak.

Yuliardi putra daerah pertama, memangku jabatan sebagai GM di hotel bintang empat di Kalbar. Biasanya, jabatan itu dipercayakan untuk orang luar Kalbar.

Berkiprah di balik ‘gemerlap’ hotel berbintang, dia tampil percaya diri. Baru menjabat langsung tancap gas. Berbagai program teranyar dibuat. Sejak Januari lalu, tangan dingin Yuliardi mulai membuat berbagai terobosan. Salah satunya, membuka The Pavillion Rooftop Cafe di Maestro Hotel.

Setiap hari, ia berkeliling, menyapa tamu, menata dan menyiapkan menu lokal jadi makanan khas di hotel berbintang tersebut.

Kami bertemu dengan Yuliardi, Jumat (28/1/2020). Ia terlihat sedang sibuk. Ada general cleaning. Ia memimpin staf hotel, membersihkan semua area hotel, agar selalu bersih dan sehat.

“Tunggu sebentar, ya. Jam 16.30 WIB kita wawancara. Saya mau ke atas ngecek Rooftop dulu,” kata Yuliardi kepada kami.

Yuliardi Qamal
General Manager (GM) Hotel Maestro Pontianak, Yuliardi Qamal. (Wiliam/Insidepontianak.com).

Keluarga Nusantara

Yuliardi Qamal anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya, Haji Qamaruddin Lathief (almarhum), orang Bugis dari Sulawesi Selatan. Qamal singkatan dari Qamarudin Lathief. Nama Qamal disematkan menjadi nama belakang keenam anaknya.

Lathief merantau ke Kalbar. Berbekal pengalaman bekerja di hotel keluarga, Lathief ingin punya hotel di Kalbar. Kerja keras membuahkan hasil. Lathief dapat membuat tiga hotel di Kalbar. Dua di Singkawang, Hotel Khatulistiwa 1 dan Khatulistiwa 2. Satu hotel di Pontianak, Hotel Surya. Tak hanya memiliki hotel, Lathief juga pemborong bangunan. Ia keliling wilayah di Kalbar, membuat bangunan.

Latief mendidik anak dengan disiplin. Nilai agama ditanamkan. Dipegang teguh. Salat lima waktu tak boleh ditinggalkan. Sikap itu diingat Yuliardi, pada sosok sang ayah.

“Beliau selalu saya jadikan contoh,” katanya.

Sejak kecil, sang ayah mengenalkan dunia perhotelan pada Yuiardi. Ia diminta bantu kerja di hotel keluarga. Tak heran bila, berbagai seluk beluk bidang perhotelan, diketahuinya dengan baik.

Karenanya, Yuliardi diminta menangani bisnis hotel keluarga. Ia emban tugas itu, dari tahun 2007 hingga 2018. Kini, ia berikan tongkat estafet itu pada dua adiknya, Mulyadi Qamal dan Zulkifli Qamal.

Selain nilai agama, Yuliardi juga meniru cara sang ayah bergaul. Ia bergaul dengan semua kalangan. Tak heran bila, dia banyak kawan. Bahkan, ketika mesti memiih pasangan, ayah dan ibunya tak pernah memaksakan pilihan. Semua diserahkan pada anak. Beragam suku ada di keluarganya.

Yuliardi menikah dengan perempuan dari suku Melayu di Kabupaten Sambas. Adik nomor dua, menikahi peremuan Melayu di Bengkayang. Nomor tiga menikah dengan suku Dayak. Nomor empat dengan suku Madura. Kelima dengan suku Jawa. Keenam dengan suku Melayu.

“Jadi, benar-benar keluarga kami beraneka warna Nusantara. Inilah kebebasan yang diberikan orang tua saya,” jelasnya.

Yuliardi kerap memuji dan mengagumi cara orang tua mendidik anak. Mulai dari bangun usaha, sampai nikah, hingga mengantarkannya berada di posisi sekarang.

“Itu suatu kebanggaan bagi saya, dan penghormatan kepada almarhum Qamaruddin Lathief,” ujanya.

Yuliardi Qamal
Foto lawas semasa kecil Yuliardi Qamal (kiri ujung) bersama sanak saudaranya.

Pelayanan dan Inovasi

Kepiawaian bergaul, membuat Yuliardi mudah diterima siapa saja. Jaringan dan relasinya banyak. Hal itu menguntungkan di bisnis perhotelan. Dia memiliki banyak tamu dan loyal. Sebab, orang terkadang menginap di suatu hotel, tidak hanya fasilitas jadi pilihan. Tapi juga pelayanan dan rasa diterima, seolah sedang berada di rumah sendiri.

Tak heran bila, karena pertimbangan itulah, ia dipilih sebagai GM di Maestro Hotel. Sebagai pucuk pimpinan, ia selalu menanamkan nilai-nilai atau etos kerja kepada karyawan.

Yuliardi selalu menekankan servis atau pelayanan terbaik bagi tamu. Tamu ditempatkan sebagai raja. Harus dilayani. Hal itu selalu ditekankan kepada staf hotel, termasuk dia sendiri.

Kala menginjakkan kaki di hotel, semua harus menempatkan diri sebagai pelayan. Tak peduli tamu datang dalam keadaan apa pun. Dia harus dilayani. Kesan baik harus diberikan, agar selalu diingat.

“Tamu harus dapat kesan baik saat menginap,” katanya.

Mulai dari pintu masuk, security menyambut dengan senyum. Lalu, mengarahkan kendaraan, masuk resepsionis, masuk kamar hingga keluar hotel.

Baginya, kepuasan pelanggan jadi kunci keberhasilan. Setiap hotel akan berusaha melakukan hal yang sama. Sebab, jika tamu puas, mereka akan jadi pelanggan. Kehadiran tamu memberi hidup karyawan. Hasilnya, dipakai buat bayar gaji dan bertahan.

“Maka, saya selalu mengingatkan, tamu adalah raja,” katanya menyakinkan.

Ia selalu menanamkan prinsip ke karyawan, masalah pribadi tidak perlu dibawa ke tempat kerja. Bahkan, ia menyarankan, jika merasa ada masalah rumah tangga, lebih baik tak perlu masuk kerja. Sebab, jika dipaksa bekerja, efeknya kurang baik. Bisa membuat tamu yang datang menjadi jera, karena tak dapat layanan baik.

Yuliardi Qamal
Ketua PHRI Kalbar, Yuliardi Qamal. (Andi/Insidepontianak.com)

Yuliardi sadar, kondisi pandemi sekarang ini, tak menguntungkan bisnis perhotelan. Bahkan, satu per satu koleganya di bisnis hotel, tumbang digempur pandemi. Hampir rata-rata mengaku sulit bayar gaji karyawan.

Ia menanamkan arti kebersamaan dan kepedulian, supaya Maestro Hotel tetap bertahan. Caranya? Yuliardi membuat jadwal masuk karyawan dengan selang seling. Misalnya, sehari masuk, sehari libur. Pokoknya digilir masuknya.

Kondisi itu dipahami karyawan. Mereka juga maklum, pandemi tidak hanya terjadi di Pontianak. Tapi juga di seluruh dunia.

Kendati demikian, dengan pelayanan dan inovasi terbaik, dia optimis Hotel Maestro pilihan masyarakat di masa new normal. Sebulan kepemimpinannya, dia pun terus berinovasi memberikan yang terbaik. Mulai dari pelayanan dan menu makanan khas.

Di bawah kepemimpinannya, The Pavillion Rooftop Cafe terbaik di Kalbar, akan dibuka setiap hari. Di sana, tamu bakal dimanjakan dengan pemandangan Kota Pontianak yang menawan pada malam hari.

“Menjelang malam, Anda bisa melihat sun set dan keindahan Kota Pontianak full lampu. Di sana, tamu disuguhkan bermacam hiburan musik, dan suguhan makanan andalan,” ujarnya.

Selain itu, Yuliardi juga menyiapkan makanan khas Pontianak, sotong pangkong atau cumi geprek. Makanan pinggiran itu, kini dibawa ke hotel bintang empat.

Selain itu, ada pula menu andalan lainnya yang pasti memanjakan lidah Anda. ”Silahkan tamu menikmati fasilitas kami,” ajaknya, sambil berpromosi, khas orang hotel.

Melihat Yuliardi Qamal, kita seolah kembali diingatkan pada suatu konsep dasar mengenai hidup. Siapa yang menabur, ia akan menuai. Mereka yang menabur kebaikan, bakal memanen kebajikan. Siapa menabur kejahatan, dia akan menuai kejahatan.

Dan, jembatan di antara keduanya adalah, pergaulan. (Andi Ridwansyah)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *