Mengenal Cheongsam dan Changshan, Pakaian Khas Perayaan Imlek

Memei dan Gege Kalbar 2020
Memei dan Gege Kalbar 2020. (Ist)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Masyarakat Tionghoa tengah bersuka cita merayakan Tahun Baru Imlek 2572. Banyak tradisi dan hal-hal identik yang dilakukan dalam perayaan ini, salah satunya adalah mengenakan kostum khas Tionghoa.

Pakaian tradisional itu disebut cheongsam yang dikenakan wanita dan changshan, yang dipakai oleh pria Tionghoa. Ornamen dari kedua pakaian ini pun syarat akan makna.

Bacaan Lainnya

Cheongsam sendiri, merupakan simbol akan kedudukan sosial kaum perempuan.
Baju yang mulai dibuat pada tahun 1920 ini, dulu hanya dipakai oleh kaum bangsawan saja. Namun seiring berjalannya waktu, cheongsam mulai dikenakan oleh semua kalangan saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

Cheongsam memiliki motif bunga dengan degradasi warna merah. Pemilihan motif ini tak sembarangan. Pasalnya bunga punya filosofi tersendiri.

“Motif bunga melambangkan kecantikan dan k lembutan hati seorang wanita yang menggunakannya,” ujar Memei Kalbar 2020, Elvina, kemarin.

Desain dari baju cheongsam sudah banyak mengalami perkembangan. Namun model khasnya tetap dipertahankan. Cheongsam memiliki desain unik sehingga menambah kecantikan setiap wanita yang menggunakannya.

Biasanya baju cheongsam akan dipakai oleh kaum wanita Tionghoa saat berkunjung ke rumah keluarga saat perayaan Imlek.

“Biasanya dipakai hari pertama imlek dan saat berkunjung ke rumah anggota keluarga lainnya,” tambah Elvina.

Selain cheongsam, ada juga changshan yang merupakan baju tradisional bagi kamu pria Tionghoa. Changshan juga memiliki ciri khas tersendiri pada motifnya.

Gege Kalbar 2020, Ielfandi menjelaskan, motif pada changshan adalah bambu. Pemilihan bambu juga tidak sembarangan melainkan ada makna khusus di baliknya.

“Bambu itu kan rindang, teduh, jadi maknanya bisa jadi pelindung bagi seorang wanita,” ujar Ielfandi.

Tidak jauh berbeda dari cheongsam, baju changshan juga dahulunya dipakai oleh kaum bangsawan saja.

“Asal mulanya baju bangsawan, biasanya motifnya juga naga kalau untuk bangsawan, tapi sekarang umumnya motifnya berganti bambu,” tambah Ielfandi.

Baju changshan juga mengalami perubahan model mengikuti perkembangan zaman. Tapi tidak mengubah ciri khas dan keunikannya.

Pada zaman sekarang, banyak baju cheongsam dan changshan yang dipadukan dengan kearifan lokal. Seperti menambahkan motif batik khas daerah setempat.

Walaupun model dan motifnya mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, Tapi warna merah pada baju tersebut tetap harus ada. Karena masyarakat Tionghoa percaya warna merah menandakan simbol kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan.

Menggunakan pakaian yang serba merah ini, diharapkan hal baik bisa terjadi dan dapat mengusir hal negatif dari pengguna bajunya. (samsul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *