Bagai Invasi Alien, Scabies Tak Kunjung Habis

Scabies
BERNANAH - Seorang anak, warga di Gang Pisang Berangan, Pontianak Barat, terserang scabies. Sekujur lengan tangannya melepuh dan bernanah. (Samsul/Insidepontianak.com).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sejak dua bulan terakhir, Qory mondar-mandir berobat ke Puskesmas hingga dokter spesialis kulit. Namun, penyakit yang dialami ibu tiga anak, warga Gang Pisang Berangan, Pontianak Barat, tak kunjung sembuh. Sekujur kakinya melepuh dan bernanah.

Qory terlihat risau. Sekujur kulit terasa gatal. Juga perih. Ia bingung mengobati penyakit kulit itu. Seluruh anjuran pengobatan medis telah dilakukan. Tapi, penyakit kulit itu tak kunjung sembuh.

Qory menderita penyakit scabies. Berdasarkan Klikdokter, scabies merupakan kondisi yang menyebabkan rasa gatal pada kulit, akibat terdapatnya tungau (kutu) yang menggali ke dalam kulit. Tungau ini disebut Sarcoptes scabiei.

Tungau menyebabkan rasa gatal pada area di sekitar galian tersebut. Hasrat menggaruk dirasakan semakin meningkat, terutama pada malam hari. Scabies penyakit menular dan menyebar secara cepat. Penularan terjadi melalui kontak fisik dengan anggota keluarga, kelompok perawatan anak, ruang kelas di sekolah, panti, atau penjara.

Kini, penyakit scabies yang diderita Qory, terus menyebar bagai wabah. Di lingkungan Gang Pisang Berangan, tercatat 75 warga terjangkit. Mulai dari anak hingga dewasa.

Tak hanya itu, pihak Puskesmas Perum 1 Pontianak Barat, kembali melaporkan di Gang Kuini 1, Pontianak Barat, juga ditemukan 27 warga terjangkit scabies.

Ditemui Kamis pekan lalu, Qory bercerita, penyakit scabies yang dialami, mulanya menyerang celah jari tangan, setahun lalu. Gejala awal muncul gelembung nanah. Gatal. Dari situ, gelembung nanah menyebar hingga ke betis kaki.

“Saya kena penyakit ini, dari bulan dua tahun lalu, sampai bulan dua tahun ini. Sembuh bentar, datang agik, begitu terus,” ujarnya dengan kesal.

Menurut Qory, penyakit itu awalnya dibawa oleh sang adik, Fajar (13), awal tahun lalu. Ketika itu, Fajar pulang dari pondok pesantren. Dia alami gatal di sela-sela tangan. Melepuh campur nanah. Mirip yang dialami sekarang.

Namun, setelah seminggu diobati, Fajar sembuh. Dia kembali ke pondok pesantren di Sungai Rengas. Tak lama, Qory pun terjangkit. Tiba-tiba, di sela-sela tangan gatal. Muncul banyak gelembung kecil berisi air. Lalu, gelembung itu bernanah, menyebar hingga ke kaki.

Tak hanya Qory terjangkit. Anaknya berusia 15 tahun, suami, dan satu kakak, juga derita penyakit yang sama. Qory jengkel. Pengobatan medis yang dijalani selama ini, hanya menyembuhkan sementara. Setelah sebulan, penyakit itu muncul lagi.

“Tak pandai ilang. Habis sembuh tu, sebulan datang lagi. Langsung nanah besar-besar,” kata Qory.

Anaknya lebih parah. Lepuhan yang muncul cenderung nanah semua, sehingga membuat luka mengelupas pada kulit.

Insidepontianak.com menelusuri dugaan awal mula penyakit itu berasal, dengan mendatangi pondok pesantren di Sungai Rengas, Kubu Raya, tempat Fajar menimba ilmu.  Namun, pihak pondok pesantren tak beri informasi. Mereka malah menyebut, tak memiliki santri bernama Fajar.

Lalu, bagaimana penyakit itu ditangani?

Insidepontianak.com menemui Kepala Puskesmas Perumnas 1, Martiningsih. Ia menyampaikan, sudah melakukan pengobatan massal, bagi penderita scabies di Gang Pisang Berangan dan Gang Kuini 1, Sabtu (20/2/2021).

Sayangnya, tak semua warga yang terkena scabies, datang menjalani pengobatan massal. Dari 75 orang yang terdata, 13 di antaranya tidak datang. Meski demikian, Martiningsih memastikan, pihaknya akan mendatangi rumah 13 pasien. Sebab, pengobatan tahap kedua ini sangat penting, agar scabies tidak menyebar lebih luas.

“Nama-namanya yang belum melakukan pengobatan sudah ada. Nanti akan dikunjungi, dan kami akan berikan obat,” tegasnya.

Adapun 62 penderita scabies yang telah jalani pengobatan tahap kedua, Sabtu, 20 Februari 2021, terdiri dari dua bayi, 11 balita, 13 anak-anak, dan 36 orang dewasa.

Martiningsih mengklaim, hasil pengobatan tahap pertama yang digelar pada Rabu, 17 Februari 2021, menunjukkan hasil baik.

“Alhamdullilah, ada perubahan. Kemarin yang infeksinya basah, sudah mulai kering. Terus yang gatal-gatal baru terserang, sudah agak menghilang gatalnya,” katanya.

Ia menegaskan, 27 warga Gang Kuini 1 yang terjangkit scabies, kondisinya tidak separah di Gang Pisang Berangan. Masih gejala awal. Gatal-gatal. Belum sampai bernanah.

Ia menjamin, pengobatan massal terus dilakukan. “Sampai kasus scabies benar-benar tuntas.”

Bukan Wabah

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidik Handanu memastikan, penyakit scabies yang menyerang puluhan warga, bukan wabah. Baginya, scabies bukan penyakit baru.

“Ini biasa saja. Bukan wabah. Setiap hari, kasusnya ada di Puskesmas. Kebetulan di titik itu (Gang Pisang Berangan), agak banyak,” ucap Handanu.

Menurutnya, scabies merupakan penyakit infeksi kulit biasa. Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat yang hidup berkelompok. Scabies sangat mudah menular. Sistem penularannya melalui media sentuhan atau kontak erat.

“Scabies itu tidak terlalu berat. Tapi karena digaruk, terjadilah infeksi sekunder sehingga bisa bernanah,” katanya.

Terkait kasus scabies yang menjangkiti puluhan warga, Handanu menyebut, hal itu terjadi karena warga setempat tidak cepat melaporkan kasus itu ke Puskesmas, sehingga penanganan menjadi lambat. Akibatnya, penularan terjadi.

“Mestinya, ketika ditemukan satu sampai dua orang, harus segera lapor. Tidak harus menunggu hingga banyak. Ini sudah hampir satu gang terjangkit, dan kita baru tahu,” ujarnya.

Kendati demikian, Handanu memastikan, telah menangani agar penularan scabies tidak semakin menyebar. Pengobatan tahap satu dan dua sudah dilaksanakan.

Handanu yakin, pengobatan kepada penderita cukup dilakukan dua tahap. Kuncinya, jika sumber infeksi diatasi, penyakit itu bisa segera teratasi. Dia menegaskan, terus memantau perkembangan pengobatan terhadap penderita.

Jika masih terdapat sumber infeksi, pengobatan terus dilakukan sampai tuntas. Handanu menyebut, kunci pencegahan penularan scabies sangat mudah. “Menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, segala peralatan yang digunakan sehari-hari, harus rutin dicuci, dibersihkan, dan disterilisasi. Tujuannya, membasmi kuman yang menempel.

Bukan dari Hewan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Harrison memastikan, scabies yang menyerang puluhan warga, disebabkan kutu atau tungau yang masuk ke jaringan kulit, menyebabkan gatal, iritasi, hingga gelembung nanah.

Harisson menjamin, scabies tidak ditularkan hewan peliharaan. Tetapi, ditularkan dari manusia ke manusia, lewat kontak erat kulit langsung.

Scabies sering terjadi pada lingkungan padat penduduk. Dan, lebih rentan menyerang anak-anak yang tinggal di asrama, karena mereka hidup berkelompok, sementara kebersihan lingkungan tidak terjaga dengan baik.

Prilaku seperti itu bisa memicu tungau berkembang biak, masuk ke jaringan kulit, hingga meyebabkan infeksi. Untuk cegah penularan scabies, harus menjaga pola hidup sehat.

“Rumah harus dijaga kebersihannya. Karpet, korden dan bantal, dua minggu sekali harus dijemur. Agar, kuman mati,” ucap Harisson.

Harisson meyakinkan, penyakait scabies mudah disembuhkan. Yang penting pengobatan dilakukan dengan tepat, dan berobat ke fasilitas kesehatan.

Grafis
Grafis. (Dhea/Insidepontianak.com).

Hati-hati dan Waspada  

Ahli Epidemiologi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Malik Saepudin mengingatkan, Dinas Kesehatan Kota Pontianak tidak menyepelekan kasus scabies yang menjangkiti puluhan warga di Pontianak Barat. Dia mendorong, penderita ditangani segera. Penanganan juga mesti tepat.

“Karena dikhawatirkan menularkan ke warga lain dengan cepat,” katanya.

Saepudin menjelaskan, scabies merupakan penyakit kulit yang sering menyerupai penyakit kulit lain. Karena itu, scabies juga dijuluki The Great Imitator atau Peniru Ulung. Masa inkubasi scabies lebih pendek. Tapi, transmisi penularannya lebih mudah.

“Kelainan ini bersifat sementara, 4-8 minggu dan dapat sembuh sendiri,” kata Saepudin.

Menurutnya, scabies menyebabkan luka pada tangan, kaki leher, kulit kepala dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sehingga, gagal membatasi serangan tungau sehingga mudah berkembang biak di sel-sel kulit dan menyebabkan infeksi.

Dia menyebut, kemunculan penyakit scabies juga bisa dipicu oleh situasi pandemi Covid-19. Sebab, sejak pandemi melanda, muncul keterbatasan fisik, kejenuhan, dan pola makan yang tidak bergizi di tengah masyarakat.

“Sehingga, untuk mengatasi kasus scabies yang terjadi di Pontianak Barat, perlu kajian lebih dalam. Supaya penyakit kulit itu bisa ditangani dengan tuntas,” pesannya.

Di sisi lain, Saepudin juga mengkhawatirkan, scabies yang menjangkiti warga di dua gang, merupakan scabies jenis Norwegia, dengan jumlah tungau yang menginfeksi sangat banyak.

“Semoga scabies yang terjadi di Pontianak Barat, merupakan scabies biasa, bukan scabies Norwegia,” harapnya.

Secara epidemiologi, penyakit kulit scabies timbul karena faktor kebersihan diri dan lingkungan masyarakat tidak terjaga. Scabies muncul karena air mandi tidak bersih, atau limbah dan sampah rumah tangga, tidak dikelola dengan baik. Scabies menyebar dengan cepat karena kepadatan hunian.

Penanggulangan scabies mesti dimulai dari menata kebersihan masyarakat setempat. Seperti, melakukan pembersihan rumah, penjemuran perabot rumah tangga, seperti kasur, bantal, karpet atau permadani secara berkala.

“Kuncinya, pola hidup bersih dan sehat,” ucapnya.

Selain itu, pakaian, sprei, handuk dan sebagainya, mesti dicuci dengan sabun yang mengandung disenfektan atau direndam air panas. Supaya kutu-kutu itu mati. Sementara penderita scabies tidak boleh kontak langsung dengan orang sehat.

Jika penularan semakin meluas, scabies dapat jadi wabah. Tapi, penanggulangan kasus seperti itu, tak perlu harus mengkarantina wilayah. Secara teknis, standar penanggulangan scabies telah diatur dalam Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010, tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Dalam Permenkes itu, penanganannya harus seperti wabah, jika kasus cukup signifikan.

“Oleh sebab itu, saya tekankan, penanganan scabies di Gang Pisang Berangan dan Gang Kuini 1, lebih cepat lebih baik,” imbaunya.

Harus Cepat Ditangani

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Firdaus Zar’in mendorong jajaran Dinas Kesehatan Kota Pontianak, bertindak cepat tangani kasus scabies yang menyerang puluhan warga dua gang di Pontianak Barat.

“Sudah saya konsultasikan (ke Dinkes Kota Pontianak). Saya minta penanganan dengan cepat, karena sudah menyerang puluhan warga. Penyakit ini jangan sampai menular lebih luas,” pesan Firdaus Zar’in.

Menurut legislator Partai Nasdem, penderita scabies mestinya sementara waktu tidak bersentuhan langsung dengan orang sehat. Supaya penyakitnya itu tidak menular ke orang lain. Sebaliknya, warga yang sehat selalu menjaga kebersihan. Agar, kuman maupun bakteri tidak mudah menempel di badan. (Baruna, Fahrulrozzy, Resqy, Samsul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *