PT EUP (Dapat) Terancam Pidana Kerusakan Lingkungan

PT EUP
Pipa HDPE milik PT EUP yang dipasang panjangnya lebih dari 1 kilometer ke tengah laut. Sampai ke Treastle Pelabuhan Internasional Kijing.

Sepengamatan Agus Sutomo, konflik perusahaan dengan warga, menunjukkan ada hal yang tak beres. Dia meyakini, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL), bahkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tak berjalan, sehingga pencemaran lingkungan terjadi.

“Kalau saya lihat UKL, UPL dan Amdal perusahaan itu tidak clear. Tidak ada pemeriksaan yang detail atas kondisi lingkungan, dan pengecekan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten dan Provinsi,” terangnya.

Bacaan Lainnya

Menyoal kerusakan lingkungan akibat limbah itu, pekan lalu, Insidepontianak.com melihat langsung kondisi parit di areal perkebunan kelapa warga, yang diduga telah tercemar oleh perusahaan. Bersama warga Desa Sungai Limau, kami masuk ke sisi kiri perusahaan.

Di sepanjang jalan raya Desa Sungai Limau, ada parit yang lebarnya tiga meter. Parit itu terhubung ke parit kecil selebar 1,5 meter yang menjurus ke areal perkebunan kelapa warga di sisi kiri perusahaan.

Di kebun kelapa warga, banyak parit saling terhubung, vertikal dan horisontal. Parit itu kotor. Menghitam dan berminyak. Semakin dekat dengan perusahaan, kondisi parit semakin kotor.

Ditemukan limbah yang diduga bekas tumpahan CPO. Menurut keterangan warga setempat, limbah itu terbawa arus saat banjir dan hujan deras.

Parit yang ada di areal perkebunan kelapa warga jaraknya hanya 50 meter dari PT EUP kotor dan berbau. Parit tersebut juga terhubung dengan kolam yang ada di belakang Water Treatment Plant (WTP) PT EUP.

Nurhayati, warga setempat berkeluh kesah. Dia terpaksa merasakan dampak buruk dari limbah yang dibuang sembarangan.

Katanya, pohon dan buah-buahan milik warga menjadi mati. Bahkan, aliran parit yang dulunya digunakan untuk mencuci, tak dapat digunakan lagi. Airnya hitam. Persis dengan penelusuran yang kami lakukan di lokasi itu.

“Pohon kelapa milik warga di sekitar situ mati. Pohon mangga mati. Jadi, tanah itu tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam lagi,” ujarnya.

Selain tanaman rusak dan mati, aroma busuk di sekitar lokasi menyengat hidung. Polusi udara itu, membuat tak nyaman. Mencium bau itu, terutama saat makan, bisa membuat muntah. “Aromanya tidak sedap sekali, bau busuk,” katanya.

Pencemaran limbah juga terjadi di parit warga, di belakang bangunan Kernel Crushing Plant (KCP) dan Water Treatment Plant (WTP). Limbah operasional pabrik mengalir langsung ke parit, berbatasan langsung dengan kebun kelapa warga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *