Menebar Kompor Induksi dari Kemandirian Energi di Pulau Borneo

Ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024 . (Foto: PLN UIW Kalbar)
Ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024 . (Foto: PLN UIW Kalbar)

Kebijakan pemerintah mengurangi biaya impor dan subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan mengeluarkan program sejuta kompor induksi patut diapresiasi. Tapi, mengubah gaya hidup emak-emak di daerah untuk aktivitas memasak, dari yang menggunakan kompor  LPG ke kompor listrik butuh dukungan endorse dari para tokoh elite di daerah.

“Masuknya listrik PLN di desa kami, mengubah gaya hidup warga kami. Bantuan kompor induksi dari PLN membuat segalanya lebih mudah,” kata Pilipius, saat menerima kompor induksi, pada acara penyalaan listrik Desa Keling Pangau, Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Bacaan Lainnya

Kegiatan berlangsung Sabtu (21/12/2020) ini merupakan program PLN Peduli ini. Sedikitnya 140 Kepala Keluarga mendapatkan kompor induksi gratis dari PLN, satu di antaranya adalah Pilipus.

Adapun kompor induksi dimaksud Pilipus, yakni kompor yang menggunakan energi listrik sebagai sumber energi panasnya. Namun, kompor induksi ini tidak menghasilkan panas tetapi menginduksi peralatan masak yang digunakan.

Artinya,  yang akan menjadi panas adalah alat masaknya, bukan kompornya. Prinsip kerja yang demikian, membuat pemanasan dengan kompor induksi berlangsung lebih cepat.

Pilipus (55) Kepala Desa Keling Pangau, Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu. Desa dengan status terluar ini berada di ujung Pulau Borneo dan dekat dengan perbatasan Malaysia. Di desa inilah, selama puluhan tahun, sebelumnya warga hidup dalam gelap.

Baru pada September 2020, desa ini sudah bisa terang, setelah PLN membangun 8,5 kms jaringan tegangan menengah, 2,58 kms jaringan tegangan rendah, serta membangun 3 Unit gardu distribusi dengan total kapasitas sebesar 150 kVA. Hasilnya, ratusan kepala keluarga di desa ini, sudah bisa menikmati listrik sepanjang hari. Termasuk memasak menggunakan kompor induksi.

Jauh sebelum listrik masuk desa, warga lokal sudah terbiasa memasak dengan kayu bakar dan tabung LPG. Meski diyakini, biaya rutin untuk memasak itu belum efisien, mereka tidak memiliki alternatif lain.

“Kita bisa lihat, tabung LPG 3 kg katanya harga subsidi. Ternyata di desa kami, kisaran 30-35 ribu per tabung,” kata Pilipus.

Itu baru kebutuhan memasak. Belum biaya membeli premium untuk bahan bakar penerangan dari genset. Ia mengalkulasi biasa penerangan untuk lima bola lampu, kipas angin dan televisi, yang dinyalakan pada malam hari saja, sekitar Rp 1 jutaan biaya yang harus dikeluarkan oleh warga.

“Dan itu terjadi puluhan tahun lamanya,” tuturnya.

Beruntung, September tahun lalu, listrik dari PLN menyala di desa ini, dari program PLN Peduli. Ada 140 Kepala Keluarga menikmati terangnya listrik PLN. Yang menarik dari program ini, seluruh warga di desa ini juga mendapatkan pembagian kompor induksi dari PLN.

“Sekarang kami bisa memasak dengan mudah. Tidak lagi mengandalkan kayu bakar dan tabung gas. Saya mengajak warga di sini memanfaatkan kompor listrik ini,” kata Pilipus.

Sekitar puluhan mil jauhnya, dari Kecamatan Empanang. Tepatnya Kota Sanggau, Kalimantan Barat. Daerah yang berbatasan dengan Border Entikong- Malaysia ini, di mana emak-emak di sana juga kebagian kompor induksi dari  program CSR PLN.

“Masak jadi lebih nyaman dan praktis, tidak khawatir kehabisan gas elpiji lagi. Apalagi suhunya bisa diatur, tinggal tekan-tekan jak,” kata Warni, pedagang kuliner Taman Sentana, Kabupaten Sanggau, Selasa, 24 November 2020.

Warni mengatakan, memasak dengan kompor induksi tidak bikin kantong dapur jebol. Tergantung cara pemakaian. Misalnya, sebelum mulai memasak, seluruh bahan dan bumbu masakan sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Setelah semuanya siap. Kompor listrik baru bisa dihidupkan.

“Jadi selain bisa menghemat pemakaian listrik, peralatan memasak dari kompor induksi tetap bersih dan tidak gosong. Kompor ini juga tidak menimbulkan asap,” kata Warni.

Sebuah perkampungan Dayak pedalaman di Kabupaten Landak, sekitar 150 kilometer dari Kabupaten Sanggau, juga menikmati hal yang sama. Satu di antaranya Desa Sabaka. Ini adalah sebuah perkampungan dihuni  mayoritas etnis Dayak.

Sejak listrik mengaliri di desa ini, tahun lalu, mengubah gaya hidup warga lokal. Semula memasak mengandalkan gas LPG, kini beralih ke kompor listrik, sejak jaringan listrik PLN masuk ke desa ini, Oktober 2020.

“Dulu, listrik belum ada, kami mengandalkan penerangan dari genset. Semua aktivitas kami serba terbatas. Hanya bisa menerangi lampu rumah saja. Tidak bisa nonton televisi,” kata Kepala Desa Sabaka, Ajun (42).

Sekarang, Desa Sabaka sudah terang. Setrum listrik PLN, pemakaiannya tidak hanya untuk konsumtif. Tetapi juga membuka peluang usaha warga desa. Beberapa dari mereka bahkan ada yang membuka usaha kuliner dengan menggunakan kompor induksi.

Membangun Gerakan

Gerakan konversi satu juta kompor elpiji ke kompor induksi sebenarnya sudah diluncurkan oleh PLN pusat. Tepatnya pada 27 Oktober 2020.  Program  ini diyakini meningkatkan ketahanan energi nasional karena mengubah penggunaan energi berbasis impor menjadi energi berbasis lokal.

“Seperti kita ketahui, untuk elpiji yang kita konsumsi sebagian besar masih impor, sementara listrik adalah energi berbasis lokal. Kami targetkan subsidi elpiji dalam lima tahun akan turun sekitar Rp 4,8 triliun,” tutur Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, dalam keterangan rilis diterima Insidepontianak.com.

Dengan melakukan konversi ke kompor induksi juga akan meningkatkan konsumsi energi listrik dan energi bersih. Pada tahun 2019, penggunaan listrik per kapita baru mencapai 1.084 kilo Watt hour (kWh) per kapita, PLN menargetkan konsumsi listrik per kapita meningkat menjadi 1.142 kWh.

Senior Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Kalbar, Samuji mengatakan, penggunaan kompor induksi juga dinilai lebih efisien. Hasil kajian teknis laboratorium Institut Teknologi PLN menunjukkan, untuk memasak 1 liter air dengan menggunakan kompor induksi 1.200 watt sebesar Rp 158. Sementara menggunakan kompor elpiji tabung 12 kg (api maksimal) sekitar Rp 176.

Rata-rata sebulan itu, mereka mengeluarkan biaya gas 12 kg untuk memasak 10 liter air, dan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 2 juta lebih, sedangkan jika menggunakan kompor listrik hanya Rp 1,4 juta. Itu artinya ada saving, dan juga keuntungan menggunakan kompor listrik yakni lebih aman, dan tidak perlu mengantre gas elpiji, kata Samiaji.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konversi 1 juta kompor LPG ke kompor induksi berpotensi mengurangi subsidi gas sebesar Rp 4,8 Triliun dalam waktu 5 (lima) tahun.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mengatakan, melakukan konversi dari LPG ke listrik merupakan langkah yang baik dari pemerintah.

Selain adanya penghematan devisa dengan mengurangi subsidi LPG. Migrasi ke kompor listrik juga akan memicu berkembangnya industri kompor listrik induksi berdaya listrik rendah di Indonesia.

Tapi, bagaimana program yang baik ini bisa diakses oleh seluruh kepala keluarga di Kalimantan Barat, ada dua faktor yang mempengaruhi, bagaimana  keberlangsungan program ini bisa berjalan. Karena program konversi ini berkaitan dengan mengubah kebiasaan masyarakat sebagai pengguna.

Pertama, bagaimana menjamin ketersediaan listrik dari PLN, mengingat Kalimantan Barat, dengan luas geografis satu setengah kali pulau Jawa, masih ada ratusan desa yang belum dialiri listrik PLN.  Terutama di daerah pedalaman dan terluar.

Di Kalimantan Barat sendiri, kata Acui, kebijakan PLN wilayah Kalimantan Barat, memulai program konversi kompor induksi dari pinggiran, seperti di daerah terluar dan pedalaman, dianggap sudah tepat. Karena program bagi- bagi kompor listrik bila dibarengi dengan program menyalakan listrik desa, akan bisa mudah diterima oleh masyarakatnya.

Kedua, bagaimana program konversi kompor induksi bisa mendapatkan dukungan para tokoh elit di daerah. Misalnya dari elit politik, tokoh masyarakat dan adat. Karena bagaimanapun juga, di daerah, tokoh dianggap warga lokal sebagai panutan bagi mereka.

“Jadi, jika ingin program kompor induksi ini bisa diterima oleh masyarakat luas, PLN mesti menggandeng tokoh elit di daerah, bagaimana program yang baik ini bisa diterima oleh masyarakatnya,” kata Acui.

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, masyarakat bisa menggunakan kompor induksi karena ada akses listrik di desa mereka. Ia pun berharap,  keberadaan listrik dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Saya mengajak PLN dan perusahaan-perusahaan yang ada di Kalbar untuk berkolaborasi dalam membangun perluasan jaringan listrik agar semakin banyak warga desa yang dapat segera menikmati listrik,” kata Sutarmidji.

Bupati Sanggau Paulus Hadi menyambut baik upaya PLN dalam membantu para warga dan pedagang dengan membagikan kompor induksi secara gratis kepada mereka dan berharap bantuan yang diberikan PLN hendaknya dapat dimanfaatkan oleh para pedagang untuk meningkatkan usahanya.

Ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024. (Foto: PLN UIW Kalbar)
Ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024. (Foto: PLN UIW Kalbar)

Terangi Daerah 3 T

Sejak 2017 – 2020, melalui program listrik desa, PLN berhasil mengaliri listrik 242 lokasi daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) dengan total biaya Rp 574 Miliar.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Kalbar, Ari Dartomo mengatakan, membangun jaringan ke kawasan 3T memang berbeda dengan membangun jaringan di perkotaan. Dengan medan dan akses yang terbatas tentu pembangunan menjadi lebih sulit dan biayanya jauh lebih besar.

“Kalau di kota investasinya hanya 1-2 juta rupiah, di kawasan 3T jika kita hitung rata-rata investasi untuk melistriki 1 kepala keluarga sekitar Rp 33 juta. Tapi itu semua tetap kita laksanakan agar masyarakat di daerah 3T dapat menikmati listrik dari PLN,” kata Ari.

Untuk menghadirkan listrik ke 242 lokasi tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 880 kilometer Sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 526,2 kms, dan gardu distribusi dengan total kapasitas lebih dari 21 ribu kiloVolt Ampere (kVA). Melalui program listrik desa ini pula, dalam tiga tahun PLN berhasil melistriki lebih dari 16 ribu kepala keluarga di daerah 3T yang sebelumnya tidak mendapatkan aliran listrik.

ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024
Ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024.(Foto: PLN UIW Kalbar)

Secara bertahap, PLN akan terus melakukan pembangunan infrastruktur kelistrikan ke daerah-daerah yang belum mendapatkan aliran listrik PLN.  Pada tahun 2021 rencananya PLN akan menyetrum 103 desa yang belum mendapatkan aliran listrik PLN dan perluasan di satu desa yang sebelumnya telah mendapatkan aliran listrik PLN. Sementara pada tahun 2022 hingga 2024, PLN akan melistriki 427 desa baru dan perluasan di 46 desa.

PLN juga akan mendorong pemanfaatan potensi energi lokal, khususnya energi baru terbarukan (EBT) untuk melistriki daerah-daerah 3T. Hingga tahun 2024, melalui program listrik desa, PLN rencananya akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan total kapasitas lebih dari 59 ribu kiloWatt-Peak (kWp) tersebar di 244 lokasi di Kalbar dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp 5 Triliun.

“Potensi energi lokal yang ramah lingkungan juga terus akan kami dorong, sehingga produksi listrik menjadi lebih murah dan efisien,” ucap Ari.

Dengan upaya ini, ditargetkan seluruh desa dan keluarga di Kalbar mendapatkan aliran listrik dari PLN pada tahun 2024. PLN berharap dengan hadirnya listrik yang andal dapat menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di kawasan 3T. (Abdul Halikkurahman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *