Sukiryanto: Anak dari Ujung Kampung Ketapang Pejuang Rakyat Kalbar

Sukiryanto
Ketua Komite IV DPD RI, Sukiryanto. (Instagram Sukiryanto).

Bisnis properti investasi bangun ruko kerjasama dengan orang Singapura dan Thailand itu, membuat Sukiryanto rugi miliaran rupiah. Dia ditipu oleh dua orang mafia jaringan internasional. Saat ke Thailand tinjau kerjasama sektor perkebunan, Sukiryanto justru disekap di sebuah hotel di Kota Bangkok. Ia nyaris dibunuh.

Dua mafia itu memaksa Sukiryanto tandatangani perjanjian tak jelas. Untuk mengubah perjanjian kerjasama sebelumnya. Sukiryanto kekeh menolak. Ia minta uang yang diinvestasikannya senilai Rp3 miliar dikembalikan. 

Bacaan Lainnya

Namun, negosiasinya berbuntut penyiksaan. Tangannya diikat. Seluruh dokumen kerjasama disita. Setelah itu, dia pun ditinggal di hotel. Sukiryanto nekat kabur. Lompat dari jendela. Lalu, bergegas ke bandara dan pulang ke Indonesia. 

“Saya hampir dibunuh,” ungkap Sukiryanto. 

Dia merasa, sedari awal sudah jadi target penipuan. Aksi mafia itu sangat lihai. Semula mereka beli ruko dua pintu. Bayar pakai dollar. Mereka mengaku punya perusahaan properti besar di Singapura, dan perusahaan perkebunan luas di Thailand. 

Mafia itu tawarkan kerjasama bangun ruko kantor, sekaligus kerjasama pengadaan bibit tanaman untuk perkebunan mereka. Sukiryanto tertarik. Kedua Mafia itu dia jamu. Diajak makan ke rumah pribadi. 

Singkat cerita, kerjasama bangun ruko dan pengadaan bibit disepakati. Sukiryanto investasi Rp3 miliar. Setelah semua urusan administrasi kerjasama beres, dia diajak ke Thailand. Untuk lihat perusahaan perkebunan. Namun malang, Sukiryanto justru ditodong untuk mengubah semua perjanjian kerjasama.  

“Rupanya, perusahaan di Singapura fiktif. Di Thailand perkebunan juga fiktif. Ketika mau datangkan bibit, tak ada kebunnya,” ucapnya.  

Peristiwa tragis itu lekat di kepala Sukiryanto. Sampai sekarang, ia trauma. Bisnis mafia yang biasa ditonton di televisi, rupanya nyata. Dia sendiri mengalami. Sangat menakutkan. Bagaimana tidak? Selain rugi miliaran rupiah, nyawanya juga hampir lenyap di Negara Seribu Pagoda. 

Kejadian itu sempat dilaporkan ke teman polisi di Mabes Polri. Berharap uang Rp3 miliar kembali. Dan, dua mafia itu dibui. Namun, sampai sekarang, jejak mafia itu tak ada kabar sama sekali. 

Sukiryanto memahami pasti tak mudah melacak jejak dua mafia itu. Sebab, saat dia disekap, seluruh barang bukti kerja sama sudah dihilangkan. Mafia tersebut jaringan internasional. Sangat licin. Sulit ditangkap. 

“Jaringannya kuat sekali. Saya sudah ditarget. Itulah pengalaman kelam saya,” tuturnya.  

Di balik pengalaman itu, Sukiryanto belajar banyak. Sejak itu, dia selektif menerima tawaran kerjasama bisnis. Apalagi dengan orang luar negeri. Di sisi lain, baginya, sesuatu pekerjaan yang tidak dipahami, sebaiknya tidak dikerjakan. 

Ilustrasi
Ilustrasi biografi Sukiryanto (Dhea/Insidepontianak.com).
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *