Mulyadi dan Wahdina: Pasangan Atlet Difabel dari Mempawah Pemborong Medali

Pasangan Suami Istri Atlet Difabel dari Mempawah
TUNJUKKAN - Mulyadi dan Wahdinah, pasangan atlet difabel dari Mempawah tunjukkan setumpuk medali. Mulyadi merupakan atlet difabel panahan. Sedangkan istrinya, Wahdinah atlet renang yang sudah beberapa kali juara di tingkat nasional pada ajang ASEAN Para Games. (Ya’ Muh Nurul Anshori/Insidepontianak.com).

Wahdina ingat betul suasana bertanding di Manila 2005 silam. Sorak sorai di stadion renang Rizal Memorial Sports Complex Manila, ibu kota Filipina menggema tatkala memasuki babak final. Atlet difabel asal Mempawah Kalbar, mewakili Indonesia di cabang olahraga renang ASEAN Para Games ke-III.

Air matanya berderai, haru dan bahagia saat itu. Bagaimana tidak? Dia tak pernah menyangka jadi atlet besar. Bisa masuk final di ajang internasional. Menyisihkan atlet-atlet renang hebat dari negara-negara se Asia Tenggara. Bahkan, pelatih juga tak pernah menargetkan.

Bacaan Lainnya

Namun tak disangka, keberuntungan itu datang. Wahdina tak menyiakan kesempatan. Persiapan mental dan fisik dimatangkan. Dia bertekat sekuat tenaga. Kolam renang sepanjang 50 meter itu harus ditaklukkan.

Dia sadar kelemahannya. Kaki kirinya tak kuat menendang. Dia atur strategi. Memaksimalkan kaki kanan, saat capai dinding kolam untuk berbalik. Pelatih beri semangat. Wahdina makin percaya diri. Medali emas sudah menanti.

Kesempatan pertama masuk final di ajang ASEAN Paragames ke III itu membuatnya terus fokus. Pertandingan final segera dimulai. Semua peserta bersiap-siap di garis start, menunggu aba-aba wasit. Setelah peluit dibunyikan, Wahdina segera meluncur.

“Tendang pakai kaki kanan, yang tidak polio, saya berjuang maksimal dengan segala upaya,” ucapnya.

Dia pun melesat kencang. Dengan gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, dan gaya kupu-kupu. Jadi paling depan. Hingga pertandingan selesai. Dina keluar sebagai juara satu. Perjuangannya berbuah hasil. Momentum membanggakan itu lekat di kepalanya sampai sekarang.

“Sedih, teharu dan bangga. Itu rasanya bercampur aduk, hanya bisa diekspresikan dengan menangis,” kenangnya.

Tak terasa, momentum emas itu sudah 16 tahun berlalu. Medali emas tetap disimpan rapi dalam sebuah lemari kaca di ruang tamu rumahnya, bersama puluhan medali-medali lain dari berbagai pertandingan renang di level nasional yang pernah diikuti.

Medali itu menjadi legasi sepanjang hidupnya. Sebagai bukti, anak kampung yang besar di Kabupaten sanggau, pernah jadi altet defabel cabang renang yang memiliki segudang prestasi.

Begitu pun suaminya, Mulyadi atlet difabel cabang olahraga panahan. Mulyadi punya catatan prestasi tak kalah membanggakan. Mulyadi semula atlet tenis meja. Bakatnya bermain pingpong sudah sejak kecil digeluti.

“Bet saya buat dari triplek. Awalnya berlatih melawan dinding. Ketak ketok ketak ketok sendiri,” kenangnya.

Dari situ, dia jago main pimpong. Pantulan bola liar mudah dibaca. Waktu sekolah SMP, setiap event bola pingpong selalu diikuti. Dia selalu juara satu. Prestasi emas bermain pingpong diraih tahun 1991. Saat ia duduk di kelas XI Madrasah Aliyah (MA). Ketika itu, dia ikut seleksi tenis meja di tingkat Provinsi, khusus difabel. Dia juara satu.

“Belum ada medali emas waktu itu. Tapi saya lolos ke tingkat nasional,” ucapnya.

Namun sayang, saat bertanding di kancah nasional, Mulyadi gagal mempersembahkan prestasi terbaik. Mentalnya jatuh, saat menghadapi pemain dari berbagai perwakilan provinsi yang kondisi fisikknya normal. Meski demikian, ia masih bisa sabet juara tiga.

Di event lain, pertandingan pingpong beregu tingkat nasional, se-Kota Madya yang digelar di Surakarta tahun 1996. Regunya berhasil bawa pulang medali perunggu.

“Saya lawan orang umum, sementara kaki saya pincang, tapi masih menang. Itu yang buat orang tua bangga,” katanya.

Medali
KOLEKSI – Koleksi medali-medali yang berhasil diraih Wahdina dan Mulyadi. Wahdina merupakan atlet difabel renang. Sedangkan, Wahyudi atlet difabel panahan. Keduanya pasangan suami istri warga Mempawah. (Ya’ Muh Nurul Anshori/Insidepontianak.com).
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *