Warga Sebut Pondasi Jembatan Milik Lim Kia Seng Bikin Sempit Sungai Sinam

Jembatan yang diprotes warga. (Ist)

SAMBAS, insidepontianak.com – Pondasi jembatan milik Lim Kia Seng alias Hadi di Dusun Sinam, Desa Pemangkat Kota, Kecamatan Pemangkat, diprotes warga lainnya. Pasalnya, pondasi itu terlalu menjorok ke dalam sungai hingga mempersempit aliran Sungai Sinam, Selasa (23/3/2021).
Warga menyesalkan aktivitas pembangunan yang masih dikerjakan walau sudah diprotes. Mereka juga mempertanyaan perihal Izin Mendirikan Bangunan (IMB), apakah sudah dikantongi atau belum.

“Sangat kami sesalkan yang bersangkutan masih melanjutkan pengerjaan meski sudah kami ingatkan sebelumnya. Kemudian apakah bangunan itu ada IMB nya, karena harus ada rekomendasi Dinas terkait juga,” kata warga Pemangkat, Andre Mahyudi, yang juga Ketua Wahana Pelestarian Alam Nusantara (Wapatara) Kabupaten Sambas.

Bacaan Lainnya

Dulu, Sungai Sinam dimanfaatkan warga sebagai jalur transportasi dan jalur perdagangan. Andre mengatakan, Sungai Sinam dulunya lebar, bahkan lebih lebar dari Sungai Jawi Pontianak. Sekarang, Sungai Sinam sudah menyempit karena banyak warga yang bermukim di bantaran sungai dan adanya pelebaran jalan oleh pemerintah.

“Pemerintah seharusnya melakukan tindakan pencegahan dan penindakan secara persuasif kepada warga agar tidak merusak sungai. Khususnya kepada warga yang ingin membuat jembatan beton. Pondasi dan volume jembatan harus diperhitungkan,” katanya.

Sementara itu, Lim Kia Seng alias Hadi mengatakan, awalnya dia tidak tahu jika pondasi jembatan yang dibuatnya menuai protes warga. Dia tak menampik, jika dalam proses pembangunan pondasi itu tidak ada izin kepada warga.

“Tidak ada izin khusus kepada warga, awalnya kami hanya mengikuti ukuran pondasi jembatan 10. Karena sudah ada omongan dengan Pak Faisal (Kasi Perencanaan Desa Pemangkat Kota),” katanya.

Hadi mengaku bingung dengan proses perizinan seperti apa yang semestinya dia penuhi. Namun dia tetap membangun pondasi jembatan itu dengan ukuran jembatan lain di sekitar situ.

“Saya dengan kawan-kawan ada yang bilang perlu izin ada juga yang bilang tidak perlu, jadi saya bingung. Jadi saya bangun mengacu ke pondasi jembatan 10, hanya 1 meter lebih. Karena sudah diprotes warga, saya akan mengikuti pondasi jembatan 11, yang katanya itu dulu proyek pemerintah kabupaten,” katanya.

Rencanya, Hadi akan menggunakan jembatan itu untuk keluar masuk mobil kontainer. Alasan itulah membuatnya berinisiatif mengganti jembatan kayu miliknya dengan jembatan beton yang kuat dan kokoh.

“Saya bilang kalau makin panjang jembatan ini tentu makin lemah, gimana mau menahan beban berat. Rencananya masuk mobil kontainer di rumah saya, yang tingginya 20 feet beratnya 30 ton lebih,” katanya.

Kendati sudah diprotes, Hadi masih ragu untuk memastikan apakah dia akan mengubah pondasi jembatan tersebut atau tidak. Namun dia berkomitmen akan mengikuti proses administrasi di desa.

“Pondasi jembatan ini akan saya ubah menyesuaikan jembatan 11 tapi saya pikir-pikir dulu lah, ternyata di sana jaraknya sampai empat meter. Sudah diukur juga oleh pihak desa dan saya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kasi Perencanaan Desa Pemangkat Kota, Faisal mengatakan, protes warga terhadap jembatan itu sudah keburu viral di medsos. Dia langsung berkoodinasi dengan Kepala Desa Pemangkat Kota dan mendapat instruksi agar segera ke lapangan.

“Saya langsung ke lapangan. Jadi pembangunan jembatan milik Pak Hadi ini akan mengikuti pondasi jembatan yang dulunya dibangun oleh Pemda (Jembatan 11). Harus ada ruang selebar 4 meter di bawah jembatan yang akan dibangun,” katanya.

Faisal mengatakan, ruang empat meter itu keluar dari pondasi. Agar aliran sungai bisa lancar tanpa hambatan. Kemudian dia menegasakan, bahwa dalam proses pembangunannya, seyogianya memberitahukan kepada pihak desa dan warga setempat.

“Ada aturannya, jadi tidak asal bangun, harus ada ijin atau pemberitahuan keapada pihak desa dan warga setempat,” katanya.
Kebanyakan kata Faisal, warga tidak mengetahui perihal perizinan sebelum membangun jembatan atau bangunan lainnya. Sehingga protes dan keberatan warga bisa mencuat di media sosial. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *