Asa Keluarga Menanti Keadilan untuk Jumardi di Meja Hijau Praperadilan

Keluarga Jumardi di Sambas. (Yak/Insidepontianak.com)

SAMBAS, insidepontianak.com –Sidang putusan praperadilan kasus Jumardi alias Jumar (31) warga Dusun Tempukung, Desa Tempatan, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas, akan digelar Senin 29 Maret 2021 mendatang.

Jumardi ditangkap aparat di Tebas saat hendak menjual 10 ekor burung bayan (Psittacula longicauda). Burung bayan termasuk hewan dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan.

Bacaan Lainnya

Pihak keluarga menilai, penangkapan terhadap Jumar bukanlah prestasi bagi Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK dan aparat, melainkan preseden buruk bagi instansi tersebut.

“Ditangkpnya Jumar, menurut hemat saya bukan sebagai prestasi atau keberhasilan, justru itu adalah kegagalan mereka yang muncul di permukaan. Karena Jumar memang benar-benar tidak tahu jika burung Bayan ini dilindungi hingga tidak boleh diperjualbelikan,” kata abang kandung Jumar, Rumadi saat dijumpai Insidepontianak.com di Tempukung, Jumat (26/3/2021).

Pendapat itu didukung oleh Kepala Dusun Tempatan, Pendi Soki. Selama ini kata dia, tidak ada satu pihak pun yang melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Desa Tempatan terkait hewan-hewan dilindungi seperti burung bayan. Hingga menjadi hal yang wajar jika ada masyarakat yang masih belum mengetahui jika bayan adalah burung dilindungi.

“Jumar ini tidak tahu sama sekali jika burung itu dilindungi, karena selama ini tidak ada satu pihak pun apa lagi BKSDA yang melakukan sosialisasi kepada kami masyarakat Desa Tempatan khususnya Dusun Tempukung,” katanya.

Pendi mengatakan, Jumar hanya mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD). Jumar bisa baca tulis dan tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya lantaran kondisi ekonomi keluarga.

“Karena hanya tamat SD dia akhirnya mengambil ijazah paket B setara SMP,” katanya.

Pendi kecewa dengan statemen pihak KLHK yang membantah jika Jumar adalah keluarga tidak mampu. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh pengunjuk rasa adalah fakta sebenarnya. Kendati dia tak menampik bahwa rumah yang ditempati Jumar berdinding beton dan lantai keramik.

“KLHK mungkin tidak tahu asal usul rumah tersebut. Saya berani pastikan bahawa Jumar dan keluarganya bukan orang kaya. Rumah itu memang dinding beton lantai keramik. Tapi dibangun bukan dengan hasil menjual burung bayan,” katanya.

Pendi menjelaskan, dulu Jumar bekerja di Malaysia sebagai buruh bangunan hingga dia mampu membangun rumah yang dulunya dijadikan Posyandu.

Pandemi Covid-19 membuat Jumar terpaksa pulang ke kampung halaman, dan kembali jadi pengangguran. Dia khawatir jika Jumar dipenjara, maka keluarganya akan kehilangan tulang punggung.

Jumar tinggal di rumah bersama istrinya Yuyun (25), dan anak perempuan pertamanya berusia empat tahun, lalu anak laki-laki bungsunya masih berusia lima bulan.

“Selama Pandemi ini Jumar bekerja di Batu Ampar, Kubu Raya sebagai buruh tebas kebun sawit,” katanya.

Hal itu dibenarkan Yuyun, istri Jumar. Selama bekerja sebagai buruh tebas sawit di Batu Ampar, suaminya sudah dua kali membawa pulang burung bayan. Burung itu kemudian dijual. Total ada belasan burung bayan yang sudah dia tangkap dan dibawa pulang dari Batu Ampar.

“Saya lupa jumlahnya, sudah dua kali suami saya membawa pulang burung bayan dari Batu Ampar. Jumlahnya mungkin ada belasan. Termasuk sepuluh ekor yang disita aparat,” katanya.

Yuyun mengatakan, suaminya sama sekali tidak paham jika burung bayan termasuk satwa dilindungi. Itulah alasan dia berani menjualnya di media sosial. Lagi pula kata Yuyun, harga jual burung itu hanya cukup untuk membeli beras. Bahkan saat hendak menjual sepuluh ekor burung bayan di Tebas, dia berpesan ke suaminya untuk membeli beras dan popok.

“Di hari suami saya ditangkap, suami saya mengatakan akan menjual burung di Tebas, katanya ada orang Sungai Pinyuh yang akan membeli semua burung itu sekaligus. Ternyata sampai besoknya tidak pulang-pulang,” katanya.

Hari itu Yuyun merasa khawatir sekali, dia meminta mertuanya untuk menyusul ke Tebas. Namun karena sudah larut malam, mertuanya hanya menunggu di dermaga penyeberangan Sebawi.

“Sampai jam 12 malam suami saya tak pulang-pulang, jadi mertua saya juga ikut pulang. Besok sorenya baru saya tahu jika suami ditangkap dari warga lain,” katanya.

Hingga hari ini Yuyun dan dua anaknya masih dikandung sedih. Pasalnya, kasus yang menimpa suaminya dirasa tidak adil. Dia juga bingung karena selama suaminya ditahan, tidak ada sosok pencari nafkah bagi keluarga. Sementara anaknya masih kecil butuh susu dan popok.

“Mudah-mudahan Allah SWT membuka hati nurani hakim hingga memenangkan praperadilan suami saya. Jika tidak maka Allah SWT juga akan membalas ketidakadilan ini,” katanya. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *