Semangat Inklusi Terganggu Pandemi

Aksi Promosi Inklusi Bagi Kaum Difabel Intelektual
ANTUSIAS - Sejumlah kaum difabel intelektual antusias ikuti kegiatan webinar inklusi yang digelar oleh Special Olympics Indonesia (SO Indonesia) pada Sabtu 3 April 2021. (Ist)

Kesadaran warga menciptakan kebersamaan dengan kaum difabel telah tumbuh. Anak-anak muda bersemangat untuk berkawan dengan orang difabel. Pandemi memaksa mereka mengubah cara menikmati kebersamaan itu.

Siang itu, Sabtu, 3 April 2021, di Pontianak, Stany Luvita Sari, bersemangat menyimak pemaparan dua narasumber sebuah webinar bertajuk Creative Digital Campaign yang digelar Youth Soina, sebuah perkumpulan anak muda yang diorganisir Special Olympics Indonesia (SO Indonesia).

Subjek yang dibicarakan menyangkut  disabilitas intelektual kelompok orang yang diakui keberadaannya oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016. Tentang Penyandang Difabilitas. Dalam pertemuan orang-orang muda diajak berkreasi lewat dunia maya untuk berkampanye atas keberadaan disabilitas intelektual.

Orang-orang difabel intektual merupakan bagian dari keberagaman kelompok-kelompok warga yang ada di masyarakat. Mereka terlahir dalam kondisi terganggu fungsi pikir. Karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Di Indonesia, jumlah mereka tak sedikit, ada jutaan. Dalam semangat kebhinekaan mereka mesti diterima dan diberi kesempatan yang sama.

Stany terus yang menyimak merasa gelisah. Dia tak tahu bagaimana melakukannya di tempat tinggalnya. Belajar menerima perbedaan, barangkali, menang telah jadi keinginannya. Namun, rasanya tak mudah mengajak orang lain di tempat tinggal untuk bergaul dan menerima difabilitas intelektual sebagai kawan.

Kegelisahan  pun dirasakan Zulhaida Endriani. Pasalnya, tiap dia berupaya menjalankan sosialisasi soal penting olahraga bagi difabilitas intelektual di wilayah Riau selalu menemui hambatan.

“Adakalanya kita sampai diusir dan dimarahi. Padahal, kita sudah  mengemukakan maksud  kedatangan kita,” tulis dalam kolom komentar webinar.

Menanggapi hal itu, Ine Kharisma, Direktur Organisasi Special Olympics Indonesia, mengingatkan, langkah ataupun upaya mewujudkan impian soal masyarakat inklusif memang tak mudah.

“Kita yang tak hidup dengan difabilitas tak boleh berhenti mencoba, harus terus berkampanye,” ujar perempuan yang telah 15 tahun menangani bidang ini.

Warga Bandung Penasaran

Pesan Ine benar. Bagja Setiawan telah membuktikan. Bersama rekan-rekannya, Bagja bergabung dalam Youth Soina beraktifitas bersama anak-anak difabilitas intelektual di  Bandung.

Berbagai kegiatan mereka lakukan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Dia aktif mempromosikan penting inklusi. Kampanye itu saat masyarakat menikmati ajang Car free day yang digelar tiap akhir pekan.

“Kami mengundang perhatian masyarakat, banyak yang kepo, ingin tahu lebih banyak soal difabilitas intelektual,” ujar Bagja.

Respon positiv itu memudahkannya menggelar berbagai acara yang mempertemukan atlet difabilitas intelektual dengan berbagai kelompok anak muda Bandung.

Semenjak itu banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya, Unified Campaign bersama Komunitas Mahasiswa Peduli Disabilitas  (KMPD) Bandung, pada 3 Maret 2019,  juga Unified Ramadhan bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Uninus Bandung, pada 19 Mei 2019.

Setelah pandemi datang, rencana kegiatan untuk mempromosikan inklusi bersama para atlet disabilitas intelektual pun terhenti. Sebagian mungkin mesti batal, sebagian lain tertunda. Tak cuma di Bandung, di kota-kota lain, yang mengikuti gerakan inklusi bagi disabilitas intelektual juga mesti mengubah rencananya.

Kesehatan menjadi penting bagi para atlet yang hidup dalam kondisi disabilitas intelektual. Pada awal masa pandemi, mereka mesti taat sepenuhnya  berada di dalam rumah. Ketika masyarakat telah mulai terbiasa dengan pandemi, aturan itu agak di longgarkan.

Gerakan Inklusi

Usia Gerakan inklusi untuk membantu orang-orang yang hidup dalam kondisi disabilitas intelektual sudah mencapai setengah abad lebih. Namun di Indonesia pendekatan ini masih asing. Belum banyak  dikenal.

Inklusi yang dimaksud merupakan praktik atau kebijakan untuk menciptakan akses yang setara atas kesempatan dan sumber-sumber.

Tujuannya, agar semua orang bisa mendapat manfaat termasuk mereka yang terpinggirkan, baik secara mental atau mental, juga mereka yang merupakan anggota kelompok minoritas.

“Jadi masyarakat inklusi adalah masyarakat yang bisa menerima perbedaan dalam berbagai pengertian,” ujar Ine kepada 60 orang muda yang menghadiri  webinar hari itu.

Orang-orang yang hidup dalam kondisi difabel pun mesti diterima dalam tatanan masyarakat inklusi. Mereka punya hak-hak sebagai mana warga yang tak hidup dalam kondisi difabel.

Lewat gerakan ini, orang-orang muda di berbagai kota diajak mengenal dan berkawan dengan para atlet disabilitas intelektual. Orang-orang muda itupun, mulai mengerti. Bahwa, olahraga yang dimaksud bukan semata-mata mengejar prestasi setinggi mungkin.

Semua atlet bisa menang, bila tak menang mereka tetap berhak mendapat keberanian untuk terus mencoba. Olahraga akan membawa kebugaran bagi atlet disabilitas intelektual. Dengan berinteraksi pada orang-orang yang tidak difabel. Para atlet itu, akan merasakan dan menemukan jalan kemandirian. (Donny Iswandono).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *