5 Orang Pekerja Meninggal Dunia, Polres Bengkayang Tangkap Pemilik PETI Goa Boma

  • Bagikan
Kasatreskrim Polres Bengkayang, AKP Antonius Trias Kuncorojati. (Inside Pontianak/Baruna)

BENGKAYANG, insidepontianak.com – Kepolisian Resor (Polres) Bengkayang menangkap seorang pria inisial YN, lantaran diduga sebagai pemilik dan pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Goa Boma, Kecamatan Monterado perbatasan antara Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, Jumat(9/4/2021).

Diketahui wilayah PETI tersebut, telah mengakibatkan 5 orang pria meninggal dunia, di antaranya Minti (37) warga Jangkang, Sanggau Kapuas. Ono(36) warga Jangkang, Sanggau Kapuas, Apin (36) warga Pontianak, Angga (37) warga Pasi Pangmilang, Singkawang Selatan. Sely (50) warga Pasi Pangmilang, Singkawang Selatan.

“Penangkapan dilakukan pada hari Minggu (4/4/2021) lalu, pihak Polres Bengkayang menghubungi pelaku, dan pelaku menyerahkan diri ke Polres Bengkayang,” kata Kasatreskrim Polres Bengkayang, AKP Antonius Trias Kuncorojati.

AKP Antonius menjelaskan, lokasi PETI masih menjadi sengketa antara Kota Singkawang dengan Kabupaten Bengkayang, karena masing-masing Kepala Desa mengeluarkan SKT, informasi yang didapat Pemerintah setempat sudah mengeluarkan tapal batas, namun masih jadi polemik.

“Tanpa menghiraukan polemik, dan agar ada upaya hukum. Polres Bengkayang mengambil langkah, menindaklanjuti perkara tersebut,” kata Antonius.

Ia menambahkan, pihak kepolisian sudah mengamankan dompeng dan alat pengerjaan PETI lainnya, sebagai barang bukti. Kemudian saat pengecekan di lokasi para pekerja berhasil melarikan diri.

“Perlu waktu dua hari untuk menyelidiki, baru ditemukan pelakunya, sekarang kita sudah tahan pelaku di Polres Bengkayang,” pungkasnya.

Terhadap para pelaku diancam dengan Pasal 158 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Natubara.

“Di mana setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 35, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar,” tutupnya. (Baruna)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: