Mega Lavender; Proyek Rumah Elite di Atas Tanah Sengketa

Ahli Waris, Benny Irawan. (Ist)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Perumahan elite Mega Lavender Residence di Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya, dalam pusaran masalah. Hunian mewah berjarak 800 meter dari perempatan lampu merah Desa Kapur itu, sampai sekarang belum punya keputusan hukum tetap.

Pasalnya, lahan mega proyek seluas 69.955 meter persegi yang dikuasai PT Mega Lavender, masih bersengketa. Antara ahli waris bernama Benny Irawan dan pemilik tanah sebelumnya, Hendry Susanto Nganimo yang tengah berproses di Mahkamah Agung (MA).

Bacaan Lainnya

Selain itu, sejak Januari 2020 lalu, Badan Pertanahan Kubu Raya juga telah melarang dan mengeluarkan surat blokir terhadap tanah tersebut. Ini tertuang dalam surat nomor HP. 93.02/81/61 12/1/2020 yang menyatakan, Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 17/Desa Kapur GS. No.318/1998 atas nama Hendry Susanto Nganimo diblokir permanen, sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap.

Seolah mengabaikan, di tengah proses hukum yang bergulir, manajemen PT Mega Lavender malah ngebut membangun perumahan. Diantaranya tipe hunian private cluster 80 plus dan private cluster 120 plus. Nilai jualnya antara Rp700 sampai Rp900 jutaan. Terbaru, mereka merambah ke blok D. Dengan total keseluruhan sekitar 221 rumah ditargetkan dibangun di sana.

Sikap yang dianggap tak taat hukum itu, membuat Benny Irawan berang. Sejak 1 Maret 2019 lalu, Benny telah menggugat Hendry Susanto Nganimo ke meja hijau. Perkara tersebut bergulir di Pengadilan Negeri Mempawah dan teregistrasi Nomor 12/Pdt.G/2019/PN MPW. Sampai akhirnya sampai ke MA.

Di Pengadilan Negeri, sebagian gugatan Benny Irawan diterima. Sementara di Pengadilan Tinggi ditolak seluruhnya. Namun, di tengah upaya mencari keadilan itu, pengembang perumahan Mega Lavender, Bun Khai Hei terus melanjutkan pembangunan.

Benny tak tinggal diam. Tujuh kali, dia menggelar aksi di area pembangunan. Dia menolak keras pembangunan yang diduga menyalahi aturan. Terakhir, Rabu (8/4/2021) lalu. Puluhan orang turun memasang banner di lokasi perumahan Mega Lavender.

Banner tersebut berisi penegasan bahwa proses hukum belum selesai. Namun, aksi itu mendapat penolakan keras para pekerja bangunan. Hampir saja terjadi baku hantam.

“Kami hanya mau masang banner, bahwa tanah ini masih dalam sengketa. Tapi jadi ribut dengan pekerja,” kata Benny ditemui di Pontianak, belum lama ini.

Benny merasa dilecehkan dengan sikap developer yang terus melanjutkan pembangunan. Dia kekeh bahwa belum ada keputusan hukum tetap. Siapa pihak yang berhak atas tanah.

“Jadi status hukum tanahnya belum jelas. Kenapa Mega Lavender memaksa membangun di tanah yang statusnya masih bersengketa,” terangnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *