Tanpa Alat Berat, Nasib Petani Tambak Bandeng di Pemangkat di Ujung Tanduk

  • Bagikan
Petani Tambak Bandeng
Abduh, petani tambak di Sungai Emas sedang menabur racun untuk membunuh hama di tambak miliknya, Sabtu (10/4/2021)/Yak/Inside Pontianak
WhatsApp Image 2021-04-10 at 09.19.56
WhatsApp Image 2021-04-10 at 09.19.57 (1)
WhatsApp Image 2021-04-10 at 09.19.57
WhatsApp Image 2021-04-10 at 09.19.57 (3)

SAMBAS, insidepontianak.com –Nasib petani tambak di wilayah Sungai Emas dan Tanjung Kaduk, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalbar di ujung tanduk. Ada ratusan petani tambak di sana. Mereka sedang dihadapkan dengan buah simalakama. Peran pemerintah daerah diharapkan bisa menjadi malaikat penolong, namun seperti pungguk merindukan bulan, mengharap diberi bantuan seperti mimpi di siang bolong.

Secara geografis, hamparan tambak bandeng di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk berada di wilayah dua desa, yakni Dusun Sungai Emas, Desa Sebatuan, dan Tanjung Kaduk, Dusun Lorong Putus, Desa Pemangkat Kota. Tanjung Kaduk kini berganti nama menjadi Tanjung Bilah, kawasan hutan lindung yang bedampingan dengan areal tambak warga.

Di sana, vegetasi hutan mangrove tumbuh subur. Kepiting bakau, burung bangau, dan camar mudah ditemukan. Ekosistem alam pesisir masih alami, para petani tambak secara tidak langsung berperan sebagai perisai alam, mereka menjaga dan melindungi hutan dari kerusakan.

Petani di sana membudidayakan ikan bandeng dan udang windu. Sejak tahun 1997, proses budidaya masih dilakukan secara tradisional. Satu-satunya alat canggih yang digunakan adalah eksavator. Gunanya untuk mengatasi kedangkalan dan menambal kebocoran. Fungsi eksavator dianggap paling vital, alat berat itu dianggap urat nadi petani tambak. Jika tak ada alat berat, maka semua sia-sia.

Petani tambak di sana punya kelompok dan bergabung ke koperasi, namanya Koperasi Mitra Berlian, pemerintah pusat pernah memberi hibah satu unit alat berat berupa eksavator mini merek Sumitomo LF 130. Namun bantuan alat berat itu tak berdampak signifikan, untuk kawasan tambak dengan luas sekitar 1500 hektar itu butuh setidaknya lima unit alat berat.

Menuju kawasan tambak di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk bisa ditempuh melalui jalur air, perjalanan dengan speed boat memakan waktu 20 menitan. Bisa turun dari bibir Pantai Sinam, atau dari sungai Sebangkau. Alternatif kedua menempuh jalur darat dari Pasar Sebangkau, sekitar 15 menitan melewati jalanan rusak. Para petani tambak lebih senang lewat air kendati memutar jauh, karena jalan darat berdebu saat kemarau dan licin saat hujan.

Transportasi lewat jalur air menjadi alternatif petani tambak di Pemangkat
Menuju lokasi tambak di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk lebih mudah lewat jalur air dengan speed boat, Sabtu (10/4/2021)/Yak/Inside Pontianak

Sabtu 10 April 2021, pukul 07.30 pagi WIB, seorang pria sedang menabur racun ke dalam tambak, namanya Abduh. Dia dibantu temannya bernama Junaidi. Mereka tetangga, tambaknya bersebelahan. Di sisi selatan, seorang petani tambak sedang menambal kebocoran secara manual.

Abduh menguasai dua tambak, satu tambak luasnya empat hektar, dengan lebar 100 meter dan panjang 400 meter. Sementara Junaidi menguasai satu tambak dan megurus satu tambak lain milik orang lain. Untuk mengisi waktu luang, para petani tambak berkebun. Mereka menanam jeruk, cabai dan pisang kepuk.

Menabur racun adalah tahapan kedua setelah tambak dikeringkan pascapanen. Sebelum diracun, tambak yang kering ditabur pupuk tambak. Agar lumut, dan kelekap tumbuh subur sehingga plankton bisa hidup. Lumut adalah pakan alami ikan bandeng di tambak. Para petani tambak tak perlu menabur pelet sebagai pakan. Pakan alami memangkas biaya petani, karena di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk, petani tambak tak punya modal banyak.

Bagi petani tambak yang punya modal, mereka tak pernah mengeluh tambak  bocor atau hasil panen berkurang, karena punya modal besar, mereka mampu menyewa alat berat, dan menebar bibit dengan jumlah banyak. Semakin banyak bibit di tebar, harapan panen melimbah semakin besar. Apalagi kondisi tambak sehat walafiat, tidak bocor tidak dangkal. Untung berkali-kali lipat dipastikan dalam tangan.

“Sejak pertama bibit ditebar, lumut sudah di pupuk dan tumbuh subur. Lumut, kelekap dan plankton adalah pakan alami ikan bandeng dan udang windu. Selama empat bulan hingga tiba masa panen, petani tambak di Sungai Emas dan Kaduk hanya memanfaatkan pakan alami,” kata Abduh.

Petani tambak menambal kebocoran secara manual
Seorang petani tambak di Sungai Emas sedang menambal kebocoran secara manual, jika dengan alat berat, menambal kebocoran cuma butuh waktu 10 menit, Sabtu (10/4/2021)/Yak/Inside Pontianak

Pria yang tinggal di bantaran Sungai Sebangkau itu sedang bingung. Tambak miliknya sudah di racun, selanjutnya tambak siap di isi bibit. Rencanaya, Abduh akan mengisi bibit bandeng sebanyak 5000 ekor, dan bibit udang windu 500 ribu ekor. Bagi kolam seluas empat hektar, jumlah segitu hanya separuh dari kapasitas ideal tambak.

Namun apalah daya, ada kebocoran di tambak miliknya, dia menyewa alat berat seharga Rp. 600 ribu perjam. Modal yang rencanya untuk membeli bibit sudah habis untuk biaya sewa alat berat. Bahkan dia terpaksa meminjam uang untuk membayar kekurangan biaya sewa alat. Ini adalah masalah utama petani tambak di sana.

“Tidak hanya saya yang mengalami masalah seperti ini, hampir semua petani tambak di sini. Bagi mereka yang punya modal kuat, ini bukan masalah besar. Tidak dibantu pemerintah juga mereka tidak apa-apa, bagaimana dengan kami yang tidak bermodal,” katanya.

Abduh menjelaskan, kebocoran di tambak adalah masalah besar yang harus segera diatasi. Jika tambak bocor, berapapun bibit yang ditebar tidak akan berhasil. Sama saja membuang bibit ke laut. Tambak bocor menyebabkan ikan di dalam keluar, dan ikan dari luar masuk ke dalam. Gawat jika sampai ada ikan predator yang masuk ke tambak, terlebih saat bibit baru ditebar.

Selain Abduh, tetangganya Junaidi juga mengeluhkan hal serupa. Menurutnya, jika pemerintah memberi bantuan alat berat, dengan harga sewa yang wajar dan tidak mencekik tentu akan sangat membantu. Mereka sesama petani tambak sudah sering melakukan hitung-hitungan. Untuk satu jam, biaya operasional alat berat paling besar Rp. 300 ribuan saja. Sementara, harga sewa yang ditetapkan oleh pemilik alat berat swasta dua kali lipat.

“Kami sangat membutuhkan bantuan alat berat. Setidaknya, jika alat itu kami kelola sendiri, harga sewanya tidak akan mencekik petani. Selama ini bantuan yang diberikan pemerintah saya anggap tidak tepat sasaran karena harga sewanya sama dengan pihak swasta,” kata Junaidi.

Ikan bandeng yang baru dipanen dari tambak.
Junaidi, petani tambak di Sungai Emas menunjukkan ikan bandeng yang baru saja dipanen, Sabtu (10/4/2021) Yak/Inside Pontianak.

Petani tambak di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk sebagian besar bernaung di bawah Koperasi Mitra Berlian. Ada sekitar 120 petani tambak yang bergabung. Sementara sisanya masih bingung, karena selama ini mereka beranggapan koperasi belum mampu menghadirkan alat berat yang didambakan. Kendati segala usaha telah dilakuka pengurus, itu masih belum berhasil.

“Sebagai ketua koperasi, saya bukan diam. Tekad dan keinginan saya membangun ekonomi masyarakat di kawasan ini membuat saya terpanggil. Segala macam upaya telah saya lakukan. Termasuk yang paling sering adalah mengadu ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP),” kata Gunawan, Ketua Koperasi Mitra Berlian.

Gunawan mengatakan, beberapa tahun lalu, ada satu unit alat eksavator mini merek Sumitomo LF130 bantuan dari pusat kepada petani tambak di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk. Alat itu membawa secercah harapan bagi mereka. Namun belakangan, alat berat tersebut dikuasai satu orang. Orang tersebut mengaku sudah menebus dengan harga Rp. 70 juta. Hingga dia bebas mengkomersilkannya.

“Katanya alat itu sudah dia bayar. Anehnya kalau  itu bantuan dari pusat, seharusnya tidak dibayar. Tujuan pemerintah menghibahkan alat itu adalah membantu meringankan beban petani tambak. Tapi yang terjadi, justru alat itu tidak ada bedanya dengan milik swasta, harga sewanya sama,” katanya.

Petani menunjukkan racun tambak
Abduh, petani tambak di Sungai Emas menunjukkan dua botol racun tambak yang digunakan, harganya cukup mahal, dia berharap pemerintah memberi bantuan racun tambak, Sabtu (10/4/2021)/Yak/Inside Pontianak.

Seharusnya kata Guawan, kalau pemerintah pusat memberikan bantuan alat berat, setidaknya harga sewanya bisa lebih murah, sesuai dengan hitung-hitungan petani tambak sendiri. Jika ada lagi bantuan alat berat, dia ingin alat itu di sosialisasikan terlebih dahulu, darimana asalnya, dan berapa harga sewanya.

“Bantuan yang sudah ada itu tidak tepat sasaran. Karen tidak ada meringankan beban petani tambak sedikitpun. Dulu saat alat itu datang, saya pernah ditawari untuk menguasainya, dengan catatan membayar Rp, 70 juta,” katanya.

Kendati demikian kata Gunawan, masalah petani tambak di sana bukanlah soal alat berat yang telah diberikan pemerintah pusat yang tak tepat sasaran. Namun peran dan perhatian pemerintah daerah kepada petani tambak di Sungai Emas dan Tanjung Kaduk. Karena, sungguh sangat disayangkan, potensi yang luar biasa besar bagi daerah, terbengkalai dan tak di dongkrak. Gunawan ingin melakukan itu, dia ingin semangat petani tambak bangkit, tidak hanya sekedar memelihara ikan untuk menyambung hidup.

“Paling kecil petani tambak di sini menguasai tambak seluas empat hektar. Ada yang menguasai satu tambak, dua atau tiga tambak per orang. Ini adalah potensi daerah yang sangat luar biasa. Kita bisa menguasai pasar ikan bandeng se-Kalbar, jika tambak ini dikelola maksimal,” katanya.

Gunawan bersama pengurus lainya pernah memohon bantuan kepada DKP Sambas melalui proposal, kabarnya proposal itu juga sudah sampai ke pusat, namun hanya angin lalu. Kabar tinggal kabar, tidak ada tindak lanjut sampai sekarang.

“Jika proposal itu ditolak, apa sebabnya, lalu bagaimana cara kami mendapatkan bantuan, apa yang harus dilengkapi. Seharusnya pemerintah menyampaikan itu ke kami agar segera dibenahi,” katanya.

Gunawan mengatakan, masalah kekurangan alat berat untuk mengelola tambak sudah bertahun-tahun mereka rasakan. Belum lagi soal bibit, pupuk, racun dan operasional lain. Pemerintah seolah menutup mata. Pejabat yang berkunjung ke lokasi tambak hanya seremonial saja, tidak ada tindakan yang berkelanjutan. Padahal potensi tambak sungguh luar biasa. (Yak)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: