Kisah Pak Itam, Eks Penebang Ilegal Kini Sukses Bisnis Walet

Pak Itam Pengusaha Walet
TUNJUKKAN - Arpan atau biasa karib disapa Pak Itam, warga Desa Radak Kecamatan Terentang, menunjukkan sarang walet yang ada di gedung walet miliknya. (Ya’ Muh Nurul Anshory/Insidepontianak.com).

Siang itu, panas terik di puncak kepala. Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB lewat 10 menit. Arpan, pria paruh baya baru saja pulang dari kebun sayur. Kulitnya yang gelap membuatnya identik dengan nama panggilan Pak Itam, bagi orang-orang di Desa Radak II, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya.

Dia adalah satu di antara sekian banyak orang Terentang yang punya rumah walet. Sepanjang jalan menuju Radak, rumah walet berdiri megah. Bak hotel menjulang tinggi. Untuk menuju Desa Radak II, bisa lewat jalur air menggunakan speed boat, naik dari pelabuhan Sungai Durian, Sungai Raya. Bisa juga lewat jalan darat. Melalui penyeberangan Sukalanting.

Bagi Pak Itam, membangun rumah walet adalah investasi jangka panjang. Peluang usaha itu, kini terbuka lebar. Dia sendiri sudah membuktikan. Sudah meraup keuntungan fantastis. Dulu, Pak Itam adalah seorang pengusaha kayu ilegal.

Namun bangkrut. Karena bos besar tertangkap. Harta benda habis dijual. Untuk bayar hutang. Selama menjalanai usaha kayu ilegal, Pak Itam sering tersangkut hukum. Sempat berkasus sampai ke Mabes Polri. Untung saja tak sampai dibui.

“Kayu-kayu milik saya semuanya sudah disita aparat. Belum lagi ongkos mengurus kasus, saya bangkrut. Bahkan rumah dan tanah berbidang-bidang melayang,” ucapnya ditemui di kediamannya, Rabu pekan lalu.

Waktu terpuruk, dia bingung melanjutkan hidup. Semua usaha sudah dilego. Termasuk usaha toko pakaian, hingga satu unit rumah yang dia beli di Pontianak juga dijual. Sebagian uangnya dipakai untuk bertahan hidup dan biaya sekolah anak.

Saat itu, dia benar-benar jatuh. Kebingunan harus bangun usaha apa di tengah modal yang kian menipis. Untung, ia masih punya semangat. Terus bangkit. Ia coba lihat peluang. Ketika itu, di Desa Radak, orang-orang mulai bangun gedung walet.

Ia mulai melirik. Ikut mempelajarinya. Pak Itam tak mau gegabah. Sebab, tak jarang juga orang yang membangun gedung walet akhirnya gagal. Ia tak mau terpuruk kedua kali. Apalagi, usaha walet juga tergantung peruntungan.

“Tergantung hoki. Dari sekian banyak rumah walet yang dibangun di sini, tidak semuanya berhasil. Padahal, berdekatan dengan rumah walet orang lain yang sudah panen,” katanya.

Ia pun berpikir panjang. Menghitung segala kemungkinan. Setelah yakin, ia hitung uang sisa jual rumah. Rupanya masih ada sisa. Sisa uang itulah digunakan untuk membeli bahan-bahan bangunan.

Pelan-pelan, gedung walet dia bangun. Tak sampai lima bulan, gedung setinggi lebih dari 12 meter itu berdiri. Namun belum sempurna. Peralatan pendukung untuk memanggil burung walet dipasang. Singkat cerita, gedung walet mulai diaktifkan dengan kondisi seadanya.

Tanda Keberuntungan

Setahun berlalu, Pak Itam belum menuai hasil. Tapi sudah ada tanda-tanda keberuntungan. Beberapa burung sudah masuk menginap. Di sirip-sirip sudah terlihat titik putih. Tanda burung walet mulai mau bersarang. Pak Itam terus bersabar.

Segala treatment dilakukan. Untuk memancing agar burung semakin banyak masuk di gedungnya. Tepat lima tahun, akhirnya penantian Pak Itam terjawab. Sarang walet sudah mulai banyak. Bahkan sudah bisa dipanen tiap bulan. Rata-rata, perbulan, Pak Itam bisa kumpulkan dua kilogram sarang walet.

Satu kilo sarang walet, berjumlah sekitar 150 sarang, dengan berat rata-rata 15 gram per sarang. Saat ini, harga sarang walet per kilogram capai Rp11 hingga Rp12 juta rupiah. Artinya, dari usaha itu, Pak Itam bisa raih omset perbulan Rp22 hingga 24 juta.

“Kalau saya bisa panen dua kilogram perbulan. Tapi, ada juga teman di sini yang lebih dulu membuat rumah walet, sekarang dia bisa panen belasan kilogram per bulan. Sekarang, dia mungkin jadi orang paling kaya di kampung ini,” katanya.

Meski begitu, Pak Itam bersyukur. Setidaknya, ia sudah senang dan tenang. Ia tak lagi bergelut dengan usaha kayu ilegal yang beresiko penjara. Hasil waletnya kini sudah bisa membiayai seluruh kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan bisa menabung. Kini, Ia sudah bangun kembali dari keterpurukan ekonomi, pascaterlilit hutang akibat bisnis ilegal.

Burung Balet Bersarang di Tikar Pandan
POTONGAN TIKAR – Potongan tikar pandan yang dipasang di sirip gedung walet milik Pak Itam. Tikar daun pandan itu menjadi treatmen untuk mempercepat burung walet bersarang. (Ya’ Muh Nurul Anshory/Insidepintianak.com).

Trik Cepat Bersarang

Pak Itam menyebut, membangun usaha walet tak semudah dibayangkan. Modalnya besar. Ia sendiri sampai menghabiskan uang Rp150 juta untuk membangun satu gedung tiga lantai, komplet dengan peralatan pendukung. Sedangkan hasilnya, juga tidak ada jaminan. Kembali lagi ke keberuntungan.

“Saya sampai harus datangkan tukang dari luar,” katanya.

Gedung walet tiga lantai yang dibangunnya, di dalamya, terpasang speaker khusus. Ditempel di tiap sudut. Gunanya untuk memanggil burung agar mau menginap dan bersarang. Bangunan rumah walet itu dibangun bertahap. Lima tahun baru benar-benar jadi.

Konstruksi bangunan gedung mesti dibuat oleh tukang ahli. Sebab, ada sirip-sirip yang dibuat dari papan serabut. Tujuannya untuk memudahkan burung walet mencengkeram sirip. Pemasangannya harus dengan perhitungan. Tak boleh sembarangan.

Agar burung walet bisa cepat bersarang, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, suhu ruangan. Harus dingin. Idealnya 27 sampai 29 derajat selsius. Kedua, intensitas cahaya. Tidak boleh terang. Cahaya harus di atur agar tidak masuk terlalu banyak.

Ketiga, lantai paling atas pintu masuk burung, atau biasa disebut rumah monyet, cahanya juga benar-benar mesti dijaga. Agar tidak menembus sampai ke lantai bawah. Caranya, lubang pintu tak boleh terlalu besar. Dindingnya mesti dicat hitam dop. Agar tak memantulkan cahaya.

“Membuat konstruksi bangunan dari awal harus benar,” katanya.

Dan yang tidak kalah penting, bahan bangunan harus bersih. Kayu dan papan yang akan digunakan mesti dicuci sebelum dipasang di bangunan. Untuk memudahkan burung walet hinggap di siri-sirip bangunan, Pak Itam punya treatment khusus. Ia menempelkan potongan tikar pandan di bawah sirip.

“Tikar pandan itu, disukai burung walet. Biasanya tidak hanya tempat mereka hinggap, tapi juga tempat membuat sarang,” katanya.

Menurut Pak Itam, burung walet paling suka bersarang di lantai satu. Karena ruangnya paling dingin. Setelah penuh, burung akan naik ke lantai dua. Begitu seterusnya. Kalau semua sirip sudah penuh disarangi, walet biasanya akan membuat sarang di dinding semen.

Kini, gedung walet milik Pak Itam sendiri, sudah sudah berisi 200 sarang. Burung terus bertelur dan beranak. Lantai satu sudah nyaris penuh. Pak Itam berencana membangun satu gedung lagi.

Gedung baru nanti, akan diwariskan untuk anak. Dia sendiri sudah merasa cukup dengan usaha sekarang. Di usia yang sudah tak muda, Pak Itam igin menghabiskan waktu dengan kegiatan yang positif dan menyenangkan.

“Saya ingin bekebun jahe saja,” katanya.

Kebun Jahe
KEBUN JAHE – Pak itam menunjukkan kebun jahe yang ia tanam. Usaha itu menjadi salah satu yang akan digelutinya pascasukses membangun usaha walet. (Ya’ Muh Nurul Anshory/Insidepintianak.com).

Investasi Jangka Panjang

Menurutnya, usaha rumah walet memang jenis usaha investasi jangka panjang. Hasilnya baru bisa dirasakan ketika sudah berjalan lima tahun. Itu pun belum pasti. Sebab, ada faktor luck yang jadi penentu.

“Kalau sudah gagal itu, mau tak mau harus dirombak. Konstruksi ulang. Biayanya tak sedikit,” katanya.

Namun, Pak Itam menggarisbawahi. Setiap usaha pasti punya resiko gagal. Apapun itu. Dia meyakini, faktor keberuntungan juga bisa diciptakan. Tergantung kesungguhan dan keseriusan seseorang menjalani usaha. Baginya, kerja keras tak akan menghianati hasil.

“Kuncinya dalam berusaha, harus bersabar dan banyak belajar. Saya sudah pernah senang, jadi bos dan punya banyak uang. Ketika saya bangkrut, saya biasa saja. Karena dari awal saya juga tak punya apa-apa. Sekarang alhamdulilah, usaha saya berhasil, dan saya akan tetap akan terus berusaha,” tutupnya.

Pak Itam adalah sosok pekerja keras. Pengalaman usaha eks penebang ilegal yang bangkrut, dan nyaris dibui di masa lalu, telah membentuk mentalnya menjadi seorang pengusaha tangguh. Ia yakin tidak ada sesuatu yang terjadi sisa-sia. Semua perjalanan hidup adalah pembelajaran yang harus dimaknai. Itu lah kunci kesuksesan baginya. (Ya’ Muh Nurul Anshory).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *