Ujian SMP di Tengah Pandemi, Antara Kebingungan dan Kerumitan Teknis

Pelaksanaan ujian secara offline di SMPN 24 Pontianak Kota, dimulai pada hari senin (5/4/2021) hingga Jumat (9/4/2021). (Rezqy/Insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Wilda khawatir nilai ujian sekolahnya anjlok. Murid SMP Negeri 3 Pontianak itu, berpikir keras dan ekstra supaya bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh sekolahnya itu.

Kekhawatiran Wilda bukan tak berdasar. Sebab selama setahun belakangan, materi pelajaran sekolah yang dia serap tak efisien. Pandemi Covid-19 merundung, membuatnya dan banyak siswa lain mesti belajar daring. Sebuah metode pembelajaran yang asing dan bikin kikuk.

Bacaan Lainnya

Metode belajar daring menurut Wilda, memang tak seefektif tatap muka. Interaksi dengan teman sekelas dan guru, tak cair. Belum lagi masalah-masalah kerap muncul di tengah proses belajar itu berlangsung. Mulai dari kuota internet dan listrik misalnya.

“Agak was-was sih, soalnya setahun sebelumnya kami daring dan itu tidak efisien. Meski bisa belajar mandiri,” katanya, ditemui usai pelaksanaan ujian sekolah secara tatap muka di sekolahnya, kemarin.

Kondisi itulah yang bikin Wilda seperti orang syok. Terkejut dalam sebuah situasi. Tapi mau tak mau ujian sekolah tatap muka tetap dia ikuti. Konsekuensinya, dia mesti meningkatkan level belajar mandirinya.

“Terus tiba-tiba harus ujian di sekolah, jadi memang harus belajar lebih ekstra,” katanya.

Selama menjelang ujian sekolah ini, Wilda dan rekannya intens menggelar diskusi secara daring. Ibarat belajar bersama, tapi sekarang cuma mengandalkan suara dan layar handphone sebagai media bertatap muka.

Mesin pencarian Google pun menjadi andalan. Mengisi materi yang dianggap tak efisien tersampaikan oleh guru selama proses belajar daring berlangsung. Materi-materi yang tak didapat dari guru itu dia catat sendiri.

“Selama daring saya usahakan tidak pernah izin Google meet. Saya bikin catatan sendiri karena tidak ada dikasih oleh guru. Latihan soal saya juga cari sendiri di Google. Jadi kalang kabut sih,” katanya.

Dia juga berdiskusi sama teman yang beda kelas. Sementara dengan teman sekelas bikin grup belajar, hampir tiap malam mengadakan meet menjelang ujian.

“Kalau sebelum ujian seminggu dua kali saja. Semuanya online dan inisiasi kami sendiri,” katanya.

Salma murid lainnya menjelaskan, selama ujian berlangsung guru-guru sangat ketat dalam mengawas mereka. Sehingga menurutnya, ujian secara offline terasa lebih menegangkan ketimbang ujian secara online.

Kendati demikian, selama ujian berlangsung dari tanggal 5 hingga 9 April itu, dia mengaku tak menemui kendala berarti. Lancar. Dia mampu melahap lembar soal demi soal yang diberikan sekolah.

“Alhamdulillah lancar selama ujian. Bisa menjawab soal, cukup relevan sesuai dengan apa yang diajarkan selama ini, semuanya keluar,” jelasnya.

Terlepas dari itu, dia berharap hasil ujian yang didapat nantinya bisa sesuai harapan. Dia juga ingin kesehatannya terjamin pasca ujian tatap muka berlangsung. Sekolah sendiri menerapkan protokol kesehatan cukup ketat.

Pengecekan suhu dilakukan saat datang dan pulang. Posisi duduk diatur sedemikian rupa. Tak boleh mendekat dari jarak satu meter. Barisan juga di zig-zag di kelas. Hand sanitizer dan tisu sudah disediakan sekolah per kelas. Masker tidak boleh dibuka dan westafel banyak dan digunakan. Serta panitia Satgas juga siaga.

“Harapan kami bisa dapat hasil yang bagus buat ujian dan tidak ada yang positif Covid. Sejauh ini teman-teman tidak ada yang positif. Sebelumnya kami juga sudah masuk sekolah tapi tidak wajib, pakai sift. Guru sudah mewanti-wanti. Insyaallah tidak ada positif kalau protokol dijalankan dan kami tertib,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *