Bahasa, Sastra dan Agama

Khairul Fuad
Khairul Fuad. (Ist).

Gejala interdisipliner, multidisipliner, bahkan transdisipliner menjadi geliat yang mengemuka dalam pembicaran ilmiah dan arah dalam menentukan langkah di era sekarang ini. Segala yang terkait-mengait merupakan sisi penting untuk melihat atau mengamati sebuah objek, baik tengah berlangsung maupun yang sudah mapan (establish).

Gejala demikian tampaknya tidak dapat lepas dari fenomena sosial yang telah mengarah pada interaksi virtual (media sosial). Disiplin-disiplin yang selama ini pisah atau sengaja dipisahkan diupayakan mencari irisan-irisan yang pada gilirannya terdapat interdisipliner.

Bacaan Lainnya

Dalam lingkup luas dengan berbagai disiplin diupayakan multidisiplin dan dalam lingkup subtil terdapat transdisipliner antardisiplin. Geliat demikian tampaknya tidak berlebihan jika fenomena media sosial berkontribusi terbangunnya pola keterkaitan yang nyata terkait di era digital sekarang ini.

Disiplin bahasa, sastra, dan agama sebagai disiplin terpisah terdapat irisan yang saling mengaitkan. Sastra butuh agama sebagai konten yang difasilitasi oleh bahasa, agama yang missioner butuh bahasa dan memberikan damai berbalut sastra, serta bahasa semakin meluas diperkaya oleh istilah agama, kemudian diperindah dengan sastra.

Setidaknya, ini lah gambaran interdisipliner sederhana antara bahasa, sastra, dan agama. Di sisi lain, sastra dan agama dalam perkembangannya diawali terlebih dahulu dengan perkembangan bahasa.

Sosial kemasyarakatan wilayah tertentu terdapat bahasa terlebih dahulu. Lokus lokalitas tidak lepas dari bahasa yang dimiliki atau terdapat pada sebuah komunitas.

Bahasa menjadi sisi awal dalam proses asimilasi yang dihadapi oleh agama dengan sifat missionernya pada sebuah komunitas.

Menurut Amin Abdullah, bahkan agama sendiri merupakan fenomena kelokalan sebagaimana praktik tradisi, kultur, adat-istiadat, dan norma, sedangkan bahasa merupakan faktor utama yang tidak bisa dihindari (Abdullah, 2021: 30).

Bahasa bagian terpenting kaitannya dengan perkembangan sastra, termasuk agama. Pada giliranya, sastra pun sisi proses asimilasi berikut yang dihadapi oleh agama.

Dalam wacana keislaman, bagaimana diperintahkan mendatangkan surat semisal dengan meminta pertolongan orang pinilih bahasa (fushah) sebagaimana pendapat Mufassir Mujahid, dari komunitas Arab.

Tantangan itu nyatanya, tidak mampu dilakukan untuk menyamai ayat-ayat surat di dalam Alquran. Dengan demikian, bahasa sekaligus sastra merupakan dua disiplin yang dihadapi oleh agama dalam perkembangannya.

Kemudian dalam konteks Melayu terdapat fenomena Arab Melayu (tulisan Jawi) sebagai proses yang dilakukan agama untuk tidak menghindari bahasa sebagai tradisi setempat.

Dari tulisan Arab Melayu ini, muncul karya sastra klasik Melayu, seperti Syair Pangeran Syarif. Fenomena Arab Melayu juga terjadi di belahan lain, sebagaimana huruf Pegon dalam komunitas Jawa dan belahan lainnya di Nusantara terdapan fenomena yang mungkin kurang lebih sama.

Bahasa, sastra, dan agama sebagai sebuah disiplin, menunjukkan saling keterhubungan (interdisipliner) satu dengan yang lain. Ketiganya tidak saling menafikan dari sejak abad yang lalu, setidaknya dalam fenomena Agama Islam.

Dari awal kemunculan terdapat interdisipliner antara bahasa, sastra, dan agama. Sama halnya, dalam konteks Nusantara, tampak jelas terdapat interdisipliner ketiganya untuk saling mengisi, bukan saling mencurigai, seperti Arab Melayu.

Misalnya juga, sastra religi atau sastra sufistik merupakan fenomena interdisipliner bahasa, sastra, dan agama. Interdispliner yang bersifat fundamental pada sastra religi dan bersifat transendental pada sastra sufistik.

Apalagi sastra profetik identik dengan sastra religi dan sastra sufistik sebagaimana ungkap Kuntowijoyo, berhasrat mendorong manusia untuk mengaitkan dirinya pada dua dimensi, yaitu jasmani dan ruhani (Setyawan, hmp.pasca.ugm.ac.id) sebagai sebuah interdisipliner selain terdapat interdisipliner bahasa, sastra, dan agama.

Bahasa, sastra, dan agama merupakan fenomena interdisipliner yang terus saja muncul ke permukaan tergantung dari upaya para sastrawan sendiri. Tampaknya, para sastrawan berkontribusi besar melakukan keterhubungan, interdisipliner ketiganya.

Metamorfosis sastrawan biasanya berakhir dengan ranah keagamaan demi menunjukkan ekspresi laku sekarang, selain ekspresi pikir yang selalu berubah teriring perbedaan dimensi ruang dan waktu.

Oleh karena itu, berpijak pada agama terkait dengan kaidah fikih, al-mukhafatu al-qadimi al-salih wa al-’akhdu bi al-jadidi al-’aslah, bahwa agama tetap menjaga eksistensinya pada gambaran matra pertama dan berusaha menggandeng disiplin lain pada gambaran matra kedua.

Sastra Arab masa Islam merupakan jaminan tersebut pada perkembangan sastra Arab, termasuk fase mandat Tuhan kepenyairan Rendra dalam perkembangan sastra Indonsia.

Bahasa, sastra, dan agama sebagai fenomena interdisipliner sudah berlangsung lama, merupakan contoh bagi kemunculan fenomena interdisipliner bagi disiplin-disiplin lain.

Termasuk, mengisyaratkan bahwa agama telah sejak lama al-’akhdu bi al-jadidi al-’aslah, sebelum kaidah fikih ini muncul sekalipun.

Dalam hal ini, bahasa dan sastra merupakan keilmuan lain yang telah berintegrasi dengan agama maka selalu dapat diharapkan tumbuhnya sastra religi maupun sastra sufistik.

Trend ke depan adalah takamul al-‘ulum wa izdiwaj al-ma‘arif, integrasi-interkoneksi keilmuan, sebagaimana pendapat Amin Abdullah (2021: 25).

Sementara itu, bahasa, sastra, dan agama telah melampui trend tersebut dan akan terus terintegrasi dan terinterkoneksi di era digital atau bahkan berimajinasi di era pancadigital.

Dikarenakan ketiga disiplin tersebut bagian alam bawah sadar (subconscious) manusia, meminjam bahasa Muhammad Arkoun, critic pure reason.

Penulis: Khairul Fuad (Peneliti Sastra Balai Bahasa Provinsi Kalbar).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *