Krisis Air Bersih di Kayong, Masyarakat Malah Diminta Pahami Keadaan Alam

  • Bagikan
Ketua LPK Kayong Utara, Juminggu
KERING - Ketua Lembaga Kayong Peduli (LPK) Kayong Utara, Juminggu saat melihat langsung kondisi tempat penampungan air bersih Nek Otong yang dikelola UPT Pengelolaan Air Bersih Dinas PUPR Kayong Utara belum lama ini. Kodisi tempat penampungan air itu tampak kering. (Ist)

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Kepala UPT Air Bersih Dinas PUPR Kabupaten Kayong Utara, Eman Awaludin memahami keluhan masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih saat ini. Namun menurutnya, keadaan itu terjadi karena memang debit air di tempat penampungan yang dikelola pihaknya tak mencukupi untuk dialirkan merata ke masyarakat.

“Kita sebagai masyarakat harus memahami keadaan alam sekarang. Karena, yang membutuhkn air bukan manusia saja. Tapi semua mahluk hidup. Menurut kami, saat ini cuaca dikatakan hujan pun tidak, panas pun tidak. Artinya semua nanggung,” kata Eman Awaludin, Kamis (15/4/2021).

Ketua Lembaga Kayong Peduli (LKP), Juminggu bingung dengan kondisi air bersih yang kini sulit didapati masyarakat. Apalagi di wilayah perkotaan Kayong yang dekat dengan sumber-sumber air dari pegununungan. Namun itulah yang terjadi sekarang. Air bersih sulit didapatkan.

“Jangankan yang berada jauh dari kota, yang tinggal di lingkungan kota saja sulit mendapatkan air bersih. Padahal Kabupaten Kayong Utara dikenal dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, dari segi air bersih,” ungkap Ijul karib biasa dia disapa.

Menurtnya, bila melihat potensi alam di Kayong Utara, mestinya krisis air bersih tidak akan pernah terjadi. Namun sayang, potensi itu tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah. Di sisi lain, persuahaan air kemasan justru lalu lalang mengambil air bersih untuk urusan bisni di bukit-bukit yang ada di Kayong Utara.

“Karena itu, rasanya tidak masuk akal masyarakat di sekitar kota kabupaten kesulitan air bersih. Ada beberapa perusahaan dari luar daerah suplai air dari Kabupaten Kayong Utara dibawa ke Kabupaten Ketapang, sebagian ada yang berdiri di kabupaten Kayong Utara itu sendiri,” tuturnya.

Atas dasar itu, dia menilai, persoalan air bersih yang terjadi di Kayong Utara akibat ketidakseriusan pemerintah dalam mengelola potensi sumber-sumber yang ada. Bukan tak berdasar. Sampai sekarang PDAM tak kunjung dibangun. Pengelolaan air bersih hanya dilakukan dengan skala kecil melalui UPT Dinas PUPR.

“Sementara kegiatan proyek air bersih setiap tahun dianggarkan miliaran rupiah,” ucapnya.

Di lain hal, di lapangan juga terjadi pencurian air di jaringan pipa yang dialirkan oleh UPT Dinas PUPR. Pratik itu turut memicu distribusi air bersih tak bisa maksimal sampai ke rumah-rumah masyarakat. Sebab terjadi kebocoran-kebocoran akibat perbuatan oknum yang tak bertanggungjawab.

“Saya berharap pemerintah juga memberikan sanksi kepada warga yang melakukan pembobolan pipa yang dapat merugikan masyarakat luas,” pesannya.

Selain itu, dia mengimbau masyarakat juga sadar akan pentingnya menghemat air bersih, dengan cara menutup keran-keran air, bila bak penampungan sudah penuh.

“Bupati harus tegas mengeluarkan surat edaran teguran atau berupa sanksi bagi masyarakat pengguna air, supaya tidak ada lagi pemborosan air,” tutupnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: