Hasil PCR Lambat, Ratusan Pelintas Batas di PLBN Aruk Adu Mulut dengan Petugas

KERICUHAN - Tangkapan layar video kericuhan di PLBN Aruk, ratusan pelintas batas kecewa hasil tes PCR lambat keluar, Senin (26/4/2021). (Istimewa)

SAMBAS, insidepontianak.com –Kebijakan pemerintah mewajibkan karantina lima hari dan tes swab PCR bagi pelintas batas yang masuk ke Indonesia melalui PLBN Aruk menuai polemik. Ratusan pelintas batas yang kecewa karena hasil swab PCR tak kunjung keluar melakukan aksi protes ke petugas, Senin (26/4/2021).

Ratusan pelintas batas yang sudah beberapa hari menunggu hasil swab PCR tidak sabar untuk pulang ke rumah masing-masing akhirnya cekcok dengan petugas. Sempat terjadi adu mulut antara pelintas batas dan petugas di lapangan, bahkan kejadian itu viral di media sosial.

Bacaan Lainnya

“Kalau begini, kami yang sehat bisa jadi sakit,” kata salah satu pelintas batas dalam video yang beredar.

Salah satu petugas sempat marah, dia mengatakan situasi yang dihadapi antara petugas dan pelintas batas sama.

“Kami juga sudah berbulan-bulan tidak pulang,” kata petugas tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Fatah Maryunani saat dikonfirmasi insidepontianak.com mengatakan ada sekitar 300 orang pelintas batas yang di karantina di PLBN Aruk sambil menunggu hasil swab PCR. Mereka adalah pelintas dari tanggal 21 sampai 25 April 2021.

“Permasalahannya karena PCR yang dikirim ke Pontianak lambat keluar hasilnya. Kalau alat PCR di PLBN Aruk dua-duanya bisa digunakan, masalah seperti ini tidak akan terjadi,” katanya.

Fatah menjelaskan, saat ini ada dua alat tes PCR di PLBN Aruk, namun hanya satu yang beroperasional. Salah satu alat PCR tersebut belum bisa difungsikan karena masih menunggu teknisi. Sementara jumlah pelintas batas semakin banyak, sehingga sampel PCR dikirim ke Pontianak.

“Janjinya teknisi alat PCR itu akan datang hari ini,” katanya.

Menurut Fatah para pelintas batas memang lebih baik menunggu hasil PCR. Anggapan bisa tertular penyakit karena berdesakan di lokasi karantina PLBN Aruk tidak lebih baik ketimbang mereka menyebarkan virus corona kepada keluarga dan orang banyak, jika segera pulang tanpa hasil PCR.

“Mana yang lebih baik, kalau mereka disuruh pulang tanpa hasil PCR dan ternyata positif lalu menyebar kemana-mana. Lebih baik sabar menunggu,” katanya.

Menurutnya, satu-satunya solusi dari masalah tersebut adalah cepat keluarkan hasil tes PCR dari Pontianak. Kemudian, jika teknisi alat PCR cepat tiba di PLBN Aruk dan langsung beroperasi maka masalah itu akan teratasi.

“Cepat-cepatlah PCR itu datang. Di PLBN Aruk saja jumlahnya sekitar 300 orang. Belum lagi di BKD Sambas ada 500 orang. Mereka semua bergantung pada hasil PCR baru boleh pulang,” katanya. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *