Disindir Gubernur, Bupati Sambas: Sifat Sutarmidji Jahat dan Tidak Terpuji

Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili
Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili. (Ist)

SAMBAS, insidepontianak.com – Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili geram dengan sikap Gubernur Kalbar, Sutarmidji. Kepada insidepontianak.com, Selasa (4/5/2021) malam, Atbah menyebut sifat Sutarmidji jahat dan tidak terpuji karena meyindirnya lewat Facebook.

“Sifat Sutarmidji jahat. Sutarmidji harus memperbaiki cara berkomunikasi, manfaatkan lah bulan ramadan ini untuk mengubah sikap tidak terpujinya,” kata Atbah.

Bacaan Lainnya

Bupati Sambas yang sebulan lagi habis masa jabatan tersebut menggarisbawahi, pernyataan yang disampaikannya, khusus kepada personal Sutarmidji, bukan selaku Gubernur Kalbar.

Atbah merespon status Facebook Sutarmidji yang dianggap menyindir dirinya. Menyebut dia bawa perasaan (baper) terhadap teguran, dan mengatakan jangan sampai selesai masa jabatan berurusan dengan aparat penegak hukum karena main-main dengan belanja alat kesehatan.

Menurut Atbah, harus ada yang menegur Sutarmidji soal cara komunikasinya yang tidak santun kepada pejabat lain.

“(Saya bicara) soal lidahnya, karena dia banyak berkomunikasi dengan lidah. Luruskan lah, cari kata yang sedap didengar, santun dan fokus pada persoalan, jangan menyerempet yang di luar konteks,” katanya.

Atbah mengatakan, Sutarmidji sudah kebiasaan ceplas-ceplos dan bicara persoalan yang campur aduk. Apa yang keluar dari mulutnya tidak terkontrol dan kata-katanya sembarangan, sehingga menyakiti perasaan orang lain.

“Saya fokus pada kebiasaan Sutarmidji yang suka ceplas-ceplos dengan persoalan yang dicampur aduk, lidahnya sulit terkontrol. Pilihan katanya yang sembarangan, menyakitkan orang di depan umum. Dia senang kalau orang susah, pola ini harus berakhir,” katanya.

Sebagai orang tua kata Atbah, Sutarmidji seharusnya menjadi contoh yang baik bagi semua orang. Dia menegaskan, sindiran Sutarmidji yang menyebut dia baperan dan tidak bersyukur diberi teguran tidak benar.

“Sutarmidji ini orang tua, harus menjadi contoh dan teladan untuk kami dan kita semua yang muda. Baperan sangat tidak penting dan tidak perlu (bagi saya), rasional, proporsional dan tenang harus menjadi akhlak kita,” katanya.

Menurut Atbah, cara komunikasi Sutarmidji yang ceplas-ceplos itu dapat menghambat komunikasi dengan banyak pihak. Dia berharap perilaku tersebut bisa berubah di bulan ramadan penuh berkah ini.

“Apa yang saya sampaikan fokusnya agar sifat dan perilaku Sutarmidji bisa berubah di bulan ramadan ini, (karena) itu salah satu yang menghambat komunikasi yang baik dengan banyak pihak,” katanya.

Atbah mengatakan siap diberi arahan jika penanganan Covid-19 di Kabupaten Sambas dianggap belum maksimal oleh Sutarmidji. Namun dia menyesalkan Sutarmidji yang menegur orang dengan cara yang tidak santun dan asal bicara.

“Kami siap diarahkan, dan siap melaksanakan arahan. Tapi bukan dengan cara menghubungkan pada persoalan dan masalah yang diluar konteks. Negurnya harus pas, untuk kami orang melayu dan berakhlak harus paham cara menegur orang, mulai dari intonasi, pilihan kata dan bahasa tubuh. Saya tidak pernah menyebut gubernur, saya menyebut personal Sutarmidji,” tuturnya.

Selasa 4 Mei 2021, Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengirim status di fanpage resmi miliknya, Bang Midji. Dia menulis kata maaf jika dirinya akan terus menyampaikan tentang bahaya Covid-19 dan akan menegur kepala daerah yang lalai dalam penanganannya.

“Mohon maaf, akun saya akan terus menyampaikan tentang bahaya Covid-19. Selaku wakil pemerintah pusat di daerah saya akan tetap ingatkan kepala daerah yang lalai, ini semua dilakukan demi menjaga masyarakat Kalbar,” katanya.

“Saya politisi, bukan pembaca puisi, sehingga saya gunakan bahasa sehari-hari, yang baper kadang bilang bahasa yang digunankan kasar dan lain-lain. Bagi saya intinya pesan sampai,” sambungnya.

Sutarmidji menambahkan, Satgas provinsi harus sejalan dengan Satgas pusat dan satgas kabupaten/kota harus selaras. Kemudian belanja untuk penanganan Covid-19 harus genah (tepat_red). Dia mengatakan, kepala daerah yang diingatkan saat lalai menangani Covid-19 harus bersyukur dan tidak terbawa perasaan (baper).

“Saya tidak mau ketika tidak menjabat lagi, lalu sering dipanggil aparat penegak hukum. Saya juga mengajak kepala daerah untuk serius tangani Covid-19. Ini tanggung jawab kita sebagai pemegang amanah, kalau diingatkan harusnya bersyukur bukan baper, tapi kalau ade yang baper saya paham lah,” katanya. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *