Kasus Covid-19 di Sambas Melonjak Pascateguran Gubernur Sutarmidji ke Bupati Atbah

Ilustrasi sampel Covid-19. (Net)

SAMBAS, insidepontianak.com – Kasus konfirmasi positif Covid-19 baru di Kabupaten Sambas melonjak pascateguran Gubernur Kalbar, Sutarmidji ke Bupati Sambas, Atbah Romin Shaili. Data dari Satgas Provinsi Kalbar, per tanggal 5 Mei 2021, total 634 sampel diperiksa se-Kalbar, hasilnya didapat 116 di antaranya positif Covid-19. Terbanyak dari Sambas. Jumlahnya capai 44 orang.

Adapun rinciannya, Pontianak sembilan orang, Bengkayang empat orang, Kapuas Hulu tiga orang, Ketapang 15 orang, Kubu Raya dua orang, Landak empat orang, Sambas 44 orang, Sanggau tiga orang, Singkawang satu orang, Sintang empat orang, Sekadau 15 orang, Mempawah enam orang, Melawi lima orang, dan luar wilayah satu orang.

Bacaan Lainnya

Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Fatah Maryunani mengatakan, lonjakan kasus tersebut tidak ada hubungannya dengan teguran Gubernur ke Bupati Sambas yang kini sedang jadi sorotan. Dia menegaskan, kondisi penularan Covid-19 di Sambas masih terkendali. Dibuktikan dengan indikator penambahan kasus per hari yang relatif sedikit.

“Data yang dirilis Dinkes Provinsi, Sambas masih peringkat 10. Artinya, ini masih terkendali. Penambahan kasus pern hari masih sedikit,” kata Fatah Maryunani kepada insidepontianak.com, Rabu (5/5/2021).

Dia turut menyesalkan apa yang disampai Gubernur Kalbar, Sutarmidji yang menegur Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili terkait penanganan Covid-19 yang disampaikan dengan cara yang dinilainya tidak baik. Menurutnya, jika Gubernur ingin menegur Bupati, bisa disampaikan dengan cara yang santun. Tidak dengan nada melecehkan.

“Menegur dengan cara yang baik silahkan. Jangan melecehkan, masa bilang Bupati sudah mau habis masa jabatan lalu tidak mau kerja. Memangnya kami tenaga kesehatan yang 7×24 jam bekerja meskipun tanggal merah ini tidak dianggap,” sesalnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Harisson mengatakan wajar jika Gubernur menegur Bupati Sambas tentang kinerja penanganan Covid-19. Selama ini, Sambas menjadi daerah yang paling sedikit mengirim sampel swab dan tracking paling minim.

“Masa tidak boleh ditegur. Sambas itu lab PCR tidak punya. Tidak ada usaha untuk membangun lab PCR, atau pengadaan mobile PCR untuk memungkinkan pemeriksaan swab di Sambas bisa cepat dan mudah,” katanya, Selasa (4/5/2021) malam.

Selain itu, Sambas juga menjadi salah satu kabupaten yang sedikit mengirim spesimen swab hasil testing dan tracing ke Dinkes Provinsi Kalbar.

“Rasionya hanya 0,25. Ini kan membahayakan masyarakatnya. Sudah sering diingatkan oleh Pak Gubernur tapi dianggap angin lalu,” ucap Harisson.

Dia berpandangan, Bupati Sambas tidak perlu menjawab teguran Gubernur. Cukup introspeksi diri saja. Tidak boleh tersinggung. Harus bisa melihat permasalahan sebenarnya yang terjadi.

“Jangan-jangan Pak Atbah memang sudah hampir terkena post power sindrome, jadi sekarang baperan, mudah tersinggung, tidak bisa lagi menempatkan diri sebenarnya dia itu siapa, dan tidak bisa lagi melihat situasi atau permasalahan apa yang sebenarnya tengah terjadi,” katanya.

Harisson menegaskan, Gubernur sangat memperhatikan masyarakat Kalbar terkait dengan ancaman penularan Covid-19 yang sampai kini masih jadi pandemi. Caranya dengan menegur daerah yang lalai dalam penanganan dan penanggulangan. Jangan sampai terjadi lonjakan kasus dan menyebabkan angka kematian lebih banyak.

“Kematian pada masyarakat ini sebenarnya terjadi karena satgas daerah gagal mendeteksi dini penularan Covid-19. Sehingga seseorang baru diketahui telah tertular covid setelah mereka terjadi sesak nafas di rumah sakit, atau baru diketahui setelah pasien menderita penyakit yang berat sehingga menyebabkan kematian,” katanya. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *