Benny Irawan: Rakyat Kecil Pejuang Keadilan

Benny Irawan
Benny Irawan, ahli waris lahan perumahan Mega Lavender Residence di Desa Kapur, Kubu Raya. (Ist).

Jerit Benny Irawan, ahli waris lahan perumahan Mega Lavender Residence di Desa Kapur, Kubu Raya, yang kini bersengketa di Mahkama Agung (MA), nyaris tak tersuarakan. Perjuangannya mencari keadilan terbelenggu. Kekecewaan dirasakan. Dia sempat hilang kepercayaan. Sebab, semua celah untuk melawan seolah sudah ditutup.

“Emang bisa naik ke media?” tanya Reza Septian, putra pertama Benny Irawan kepada awak Insidepontianak.com, beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Kalimat ini spontan dilontarkan. Reza seolah tak yakin, sengketa lahan dengan Mega Lavender Residence bisa diberitakan oleh media massa. Bukan tanpa alasan. Ia dan Jemaah masjid di sekitar rumahnya, sudah tujuh kali menggelar aksi demo di lahan perumahan Mega Lavender Residence. Namun, aksi menyuarakan keadilan tersebut, tak diakomodir media.

“Pernah ada yang meliput. Tapi, tak ada beritanya,” ucap Reza.

Beda dengan korporasi atau perusahaan. Selalu mendominasi pemberitaan dengan angle membenarkan pihak perusahaan.

Hal senada diungkapkan Rezi Setiawan, adik Reza, anak kedua Benny. Pada 7 April 2021, mereka aksi lagi dengan didukung warga sekitar 20 orang. Mereka membawa baliho berwarna merah.

“Tuntutan demo meminta pihak pengembang untuk menghargai proses hukum yang masih berjalan. Sekaligus menyatakan, tanah tersebut masih dalam blokir permanen di BPN Kubu Raya,” kata Rezi.

Pertemuan dengan Reza Septian beberapa waktu lalu di sebuah rumah makan, menjadi awal Insidepontianak.com menelusuri sengketa tanah seluas 69.955 meter persegi di Desa Kapur, Kubu Raya.

Kini, di kawasan itu, berdiri ratusan unit rumah megah dibangun pengembang Mega Lavender Residence. Sebagai tindak lanjut, kami menemui ayah Reza, Benny Irawan (59) di kediamannya, Jalan Parit H Muksin II, Jumat (7/5/2021) siang.

Ketika kami menuju rumahnya, gerimis kecil turut mengikuti. Mendung tebal dan pekat. Alam seolah memberi tanda. Ada kesenduan pada calon tuan rumah.

Benny tinggal di rumah milik menantunya. Rumah tipe 45 dengan dua kamar. Peninggian jalan di depan rumah, membuat air mengenang pada pelataran depan dan belakang rumah.

Benny anak dari Haji Ismail Mapoer dan Basnah. Orang tua lelaki Benny, seorang serdadu kelahiran Padang, Sumatera Barat. Ibunya, kelahiran Banjarmasin. Benny anak keempat dari enam bersaudara.

“Silakan masuk,” kata Benny menyambut kami dengan hangat.

Benny, seperti kebanyakan warga biasa lain. Cara bicara dan tata bahasanya, sederhana saja. Tapi, nada bicara itu penuh optimisme. Ada semangat pada lelaki dengan wajah bernuansa Timur Tengah tersebut. Apalagi saat bicara mengenai masalahnya, berhadapan dengan perusahaan besar, seperti pengembang Mega Lavender.

Baginya, mencari keadilan menjadi misi utama. Meski sudah berjuang sekitar tiga tahun. Keadilan belum berpihak kepadanya, hingga kini.

“Saya jalan karena kebenaran. Saya punya keyakinan. Allah berpihak pada kebenaran,” ucapnya, sembari memegang sebundel berkas.

Demo Ahli Waris di Mega Lavender Residence
DEMO – Aksi demo ahli waris di depan kompleks Mega Lavender beberapa waktu lalu. Mereka menuntut kegiatan pembangunan di perumahan elite itu dihentikan, sebab lahan masih berstatus sengketa di Mahkama Agung (MA). (Ist).
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *