Sekretaris BPBD Kalbar Divonis Bersalah, Ludahi Wajah Kepala KUA Pemangkat

Sidang kasus meludahi Kepala KUA Pemangkat
Sekretaris BPBD Kalbar, Jalil Muhammad meminta maaf kepada Zulkifli di hadapan hakim Pengadilan Negeri Sambas, Senin (10/5/2021)/Istimewa

SAMBAS, insidepontianak.com –Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalbar, Jalil Muhammad terbukti bersalah dalam sidang tindak pidana ringan (Tipiring) kasus penghinaan terhadap Kepala KUA Pemangkat, Zulkifli di Pengadilan Negeri (PN) Sambas, Senin (10/5/2021).

Sebelumnya, Jalil dilaporkan ke Polsek Pemangkat karena meludahi wajah Kepala KUA, Zulkifli. Laporan tersebut tak dicabut hingga disidangkan di PN Sambas dan masuk ranah Tindak Pidana Ringan (Tipiring).

Bacaan Lainnya

Tindakan Jalil sebagai terdakwa meludahi wajah Zulkifli adalah pidana. Berdasarkan putusan hakim dia melanggar pasal 315 jo pasal 316 KUHP, dan divonis penjara 14 hari dengan masa percobaan 30 hari.

“Terdakwa terbukti sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan yang menghina sesuai pasal 315 jo pasal 316 KUHP dan divonis penjara 14 hari dengan masa percobaan 30 hari,” kata hakim di PN Sambas.

Dalam kasus ini, Zulkifli didampingi lima orang penasihat hukum, yakni Lipi, Ridwan, Arry Sakurianto, Nur Addin Habibie, dan Hamdi Yusuf. Mereka merasa terpanggil, dan sepakat membela korban karena mengaggap apa yang dilakukan terdakwa terhadap Zulkifli adalah perbuatan yang tidak pantas.

“Dalam kasus ini, Kepala KUA mendapat penghinaan saat sedang menjalankan tugasnya melayani masyarakat. Kami merasa terpanggil,” kata Lipi, kepada insidepontianak.com.

Sidang di PN Sambas
Suasana sidang di PN Sambas, Senin (18/5/2021)./Ist

Lipi menilai, putusan PN Sambas hari ini sudah sangat objektif dan patut diberikan apresiasi karena telah memenuhi unsur keadilan, kepasian dan azas manfaat. Di mana terdakwa divonis penjara 14 hari dengan masa percobaan 30 hari.

Lipi mengatakan, dalam sidang Tipiring tersebut, Zulkifli mengaku terdakwa meludahi wajahnya. Namun terdakwa membantah itu, meskipun dua orang saksi menguatkan korban. Setelah putusan hakim, Zulkifli meminta terdakwa minta maaf kepadanya atas penghinaan tersebut.

“Berdasarkan pengakuan Zulkifli, terdakwa meludahinya tepat di wajah mengenai kening, mata dan hidung, walaupun terdakwa membantah itu di persidangan, namun dua orang saksi tegas menyangkal bantahan terdakawa,” katanya.

Lipi mengatakan, dalam persidangan hari ini, terdakwa berbohong. Dia mengaku hanya meludah di lantai namun dua orang saksi melihat itu dan menyangkal pengakuan terdakwa dengan membenarkan pengakuan Zulkifli.

“Walaupun saksi dan Zulkifli telah menyangkal bantahan terdakwa, dia tetap saja membantah bahwa dirinya tidak meludahi wajah, dan hanya meludah di lantai,” katanya.

Lipi berharap, kasus seperti ini tidak pernah terulang lagi. Menurtunya, seorang Aparatur Sipil Negara seperti terdakwa harus menjadi teladan. Kemudian, sebagai orang yang cerdas, kita semua harus mampu mengontrol diri, dalam situasi apapun dan dimanapun.

“Seorang pejabat itu harus menjaga etika dan moralnya, mudah-mudahan kasus penghinaan seperti ini tidak terjadi lagi,” kataya.

Sementara itu, terdakwa Jalil Muhammad saat dikonfirmasi insidepontianak.com melalui pesan WhatsApp tidak menjawab. Pertanyaan yang dikirimkan jurnalis terkait tanggapan terhadap putusan hakim hari ini tidak direspon, padahal dia online.

Jurnalis insidepontianak.com kemudian melakukan panggilan saat dia telihat online, namun tak dijawab. Selanjutnya hak jawab akan diberikan kepada terdakwa jika diperlukan. (Yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *