Pandemi Buat Usaha Warkop Makin sepi

Warung Kopi Atet di bilangan Jalan Bhayangkayara , Sukadana, Kayong Utara
Warung Kopi Atet yang berada di bilangan Jalan Bhayangkayara , Sukadana, Kayong Utara tampak sepi. Kondisi itu terjadi sejak pandemi Covid-19 merebak. (Fauzi/Insidepontianak.com).

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Raut wajah Atek tampak tak bersemangat. Pria paruh baya warga Sukadana, Kayong Utara, Kalbar itu merasa kehilangan gairah menjalani usaha akibat terdampak pandemi Covid-19 sejak setahun ini.

Bagaimana tidak? kini usaha warung kopinya kian sepi. Seiring Pemberlakukan Pembatasan Aktivitas Masyarakat (PPKM) berskala mikro di Kabupaten Kayong Utara diterapkan kembali pemerintah akibat penyebaran Covid-19 yang taka ada hentinya.

Bacaan Lainnya

“Sekarang, cari Rp200 ribu kotor sehari saja sulit,” keluh Atet ditemui di warung kopinya di bilangan Jalan Bhayangkara Sukadana, Minggu (24/5/2021).

Pria bertubuh tinggi itu sudah lebih dari lima tahun menjalani usaha warung kopi. Sebelum pandemi menyerang, kedainya selalu ramai. Per hari, biasa raup omset lebih dari Rp500 ribu. Namun sejak pandemi datang, praktis omsetnya turun.

Sementara pengeluaran untuk opeasioal semakin mahal. Situasi pandemi yang tak ada kepastian kapan berakhirnya ini, benar-benar melumpuhkan ekonomi. Dia sendiri sudah merasakan keterpurukan itu.

Sulit baginya untuk bangkit seperti dulu. Sebab, daya beli masyarakat semakin rendah. Semua masyarakat menengah ke bawah kini merasakan terhimpit ekonomi. Termasuk dirinya sebagai pengusaha warung kopi.

“Kita lihat, daya beli masyarakat sangat menurun. Itu karena pendapatan kecil. Sehingga kita semua harus memperhitungkan pengeluaran. Sebab, di masa Covid sekarang ini, apa-apa serba susah,” tutur Atek.

Terlebih di Kayong Utara. Rata-rata ekonomi warga bertumpu pada kegiatan perdagangan dan usaha. Akibat daya beli menurun, sektor usaha makin terupuruk. Sementara di sisi lain kebutuhan hidup semakin mahal.

“Saat ini kita semua merasa sulit. Pendapatan makin kecil. Semetara kebutuhan hidup semakin besar. Kita berharap, ada langkah nyata dari pemerintah untuk pembangunan ekonomi ini,” tutupnya.

Pengendalian Kasus

Akademisi Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Tanjungpura Pontianak, Wendy menilai, masih ada harapan bagi Kalbar termasuk Kayong Utara untuk bangkitkan geliat ekonomi masyarakat di sisa waktu 2021 yang masih tersisa enam bulan. Kuncinya pengendalian Covid-19 harus terkendali.

“Masih ada tiga kuartal, sehingga tetap ada harapan yang optimis menuju angka pertumbuhan yang lebih baik,” kata Wendy belum lama ini.

Permasalahan paling nyata yang menyebabkan kontraksi ekonomi yaitu kata dia terjadinya pembatasan aktivitas masyarakat yang ketat akibat pandemi Covid-19 yang tak terkendali.

“Covid-19 yang belum terkendali sepenuhnya berkontribusi besar dalam kontraksi ekonomi, tidak hanya di Kalbar, namun nasional, regional dan global,” katanya.

Wendy menilai, pertumbuhan ekonomi akan membaik ketika pembatasan ekonomi dilonggarkan. Namun, pelonggaran ekonomi baru bisa dilakukan ketika pandemi Covid-19 terkendali. Menurutnya, bila melihat data perkembangan kasus infeksi Covid-19 sebulan terakhir di di Kalbar, maka pembatasan ekonomi sepertinya belum akan dilonggarkan dalam waktu dekat.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalbar, Agus Chusaini menilai, pertumbuhan ekonomi Kalbar bisa terus meningkat bila pandemi Covid-19 benar-benar dapat dikendalikan. Kuncinya pelaksanaan vaksin Covid-19 segera diselesaikan.

“Ketika vaksin sudah jalan, ekonomi akan lari kencang seperti sebelum Covid. Mungkin di kuartal ke dua 2021 itu sudah mulai tumbuh seperti sebelum Covid,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *