Direktur RSUD Pemangkat Berikan Penjelasan Soal Surat Sehat untuk Pasien Covid-19

  • Bagikan
Achmad Hardin
Dirut RSUD Pemangkat, Achmad Hardin. (Ist).

SAMBAS, insidepontianak.com – Surat keterangan pemeriksaan yang dikeluarkan RSUD Pemangkat kepada seorang pasien perempuan berusia 43 tahun, warga Jalan M Sohor, Desa Pemangkat Kota, Kabupaten Sambas, Kalbar menuai polemik.

Dalam redaksinya, surat itu menegaskan bahwa kondisi pasien sehat setelah masa observasi Covid-19. Surat tanggal 31 Mei 2021 itu dikeluarkan bersamaan dengan surat dari Puskesmas Pemangkat yang menyatakan pasien tersebut terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal tersebut juga sempat viral di media sosial karena diunggah oleh anak pasien. Bahkan, Kepala Desa Pemangkat Kota, Kasful Anwar yang memberikan surat keterangan positif covid kepada pasien tersebut mengaku bingung.

“Saya bahkan sudah memberikan bantuan sembako kepada pasien tersebut. Tiba-tiba ada lagi satu surat pemeriksaan dari RSUD Pemangkat yang ditunjukkan keluarga pasien bahwa si pasien sudah sehat. Kedua surat tersebut tanggalnya sama, 31 Mei 2021. Saya dan keluarga pasien juga bingung kenapa bisa demikian,” katanya kepada insidepontianak.com, Jumat kemarin.

Direktur RSUD Pemangkat, Achmad Hardin saat dikonfirmasi insidepontianak.com menegaskan, pihaknya telah memberikan penjelasan kepada keluarga pasien sebelum pasien tersebut pulang dari rumah. Rumah sakit kata dia, sama sekali tidak menyebutkan bahwa pasien negatif swab PCR.

“Surat yang kami keluarkan itu sudah sesuai prosedur rumah sakit. Penanganan kepada pasien tersebut juga suah sesuai. Dari pihak rumah sakit tidak pernah menyebut pasien tersebut negatif swab PCR. Surat yang kami keluarkan itu adalah hasil pemeriksaan rapid tes antigen,” katanya.

Hardin menjelaskan, pasien tersebut masuk ke RSUD Pemangkat dengan penyakit penyerta Diabetes Melitus pada tanggal 23 Mei 2021. Dia dirawat di ruangan biasa. Sebelum dirawat, pasien tersebut di rapid tes antibodi.

“Hasilnya negatif, makanya pasien dirawat di ruang perawatan biasa,” katanya.

Hardin menlanjutkan, tanggal 25 Mei, pasien tersebut memiliki gejala Covid-19. Dokter yang memeriksanya menginstruksikan utuk dilakukan swab PCR. Tanggal 28 Mei, pihaknya mendapat laporan via WhatsApp dari Dinkes Provinsi bahwa pasien tersebut positif Covid-19.

“Kami menerima pesan itu lebih awal, sebelum surat resminya. Pasien kemudian dipindahkan ke ruangan isolasi, karena khawatir menulari pasien lain termasuk tenaga medis. Tanggal 31 Mei, kondisi pasien membaik, jika dihitung dari hari pertama masuk maka sudah berjalan tujuh hari,” katanya.

Pasien yang merasa sudah enakan lantas meminta pulang. Hardin mengatakan, pihaknya sudah memberikan penjelasan kepada keluarga pasien. Rapid tes antigen dilakukan untuk memastikan kondisi pasien, hasilnya negatif. Itulah yang menjadi dasar rumah sakit mengeluarkan surat hasil pemeriksaan di mana redaksinya setelah masa observasi pasien tersebut sudah sehat.

Hardin mengatakan, surat itu isinya bukan menyatakan pasien negatif swab PCR. Apalagi surat hasil swab PCR baru keluar di hari yang sama, tanggal 31 Mei.

“Ini adalah dilema, pemeriksaan swab PCR tidak bisa dilakukan di sini, semuanya di Pontianak dan hasilnya lambat keluar. Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi,” harapnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: