KPID Sebut Migrasi Televisi Analog ke Digital Perlu Dukungan Semua Pihak

Iwan Kurniawan
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalbar, Iwan Kurniawan. (Andi Ridwansyah/Insidepontianak.com).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalbar, Iwan Kurniawan menyebut, migrasi televisi analog ke digital perlu dukungan semua pihak. Tak terkecuali lembaga penyiaran pemerintah daerah. Ia berharap, kebijakan ini dapat tersosialisasi dengan baik. Sehingga diketahui masyarakat luas.

“Migrasi analog ke digital diharapkan ada sinergisitas, antara pemegang mux, lembaga penyiaran, dan pemerintah dalam menyosialisasikan Analog Switch Off (ASO) atau digitalisasi penyiaran,” kata Iwan Kurniawan kepada insidepontianak.com, Selasa (8/6/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kebijakan migrasi televisi analog, akan dilakukan secara bertahap di tiga zona wilayah di Kalbar. Zona pertama yakni Pontianak, kedua Kubu Raya dan ketiga Mempawah. Tiga wilayah ini akan berhenti secara total atau cut off pada tanggal 31 Maret 2022.

Sementara, untuk wilayah Singkawang dan Bengkayang, akan berhenti total menerima siaran televisi analog pada 17 Agustus 2022. Dan di Kabupaten Sintang diberlakukan pada tanggal 2 November 2022.

Iwan menyambut baik hadirnya televisi digital. Sebab, keberadaannya dinilai mampu memperbaiki sistem penyiaran karena menghasilkan gambar yang bersih, suara jernih, dan teknologi yang canggih.

“Tidak ada lagi semut, dan bunyi kresek-kresek. Ini akan menjadi smart tv,” katanya.

Kendati demikian, untuk berubah ke digitalisasi ada beberapa syarat yang meski disiapkan masyarakat. Terutama, pengguna TV antena rumah biasa/UHF yang menggunakan TV analog. Mereka diharuskan memasang Set Top Box (STB). STB adalah alat bantu penerima siaran digital.

” STB ini diperlukan apabila televisi kita masih televisi analog,” jelasnya.

Namun, bagi pengguna televisi digital atau televisi LCD keluaran 2018 ke atas, mereka tak perlu lagi menambah STB. Sebab, sudah ada siaraan digitalnya yang dapat langsung tersambung. Ia beharap digitalisasi penyiaran itu memberi dampak positif bagi masyarakat selaku penonton, dan pelaku bisnis industri kreatif.

Hingga saat ini, distribusi STB belum secara masif terdistribusi di Kalbar. Namun, masyarakat dapat membelinya secara online dengan kisaran harga Rp200 sampai Rp250 ribu per unit.

Sementara itu, bagi warga yang kurang mampu, ia menyebut ada komitmen pemenang mux memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan menyiapkan alat STB secara gratis.

“Apabila kurang kemungkinan akan didukung dengan bantuan APBN,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *