Musa Abdul Hamid: Kades Inspiratif Pejuang Aspirasi Akar Rumput

  • Bagikan
Musa Abdul Hamid
Kepala Desa Parit Baru, Musa Abdul Hamid. (Ist).

Dunia politik penuh dengan simbol kekuatan, kekuasaan, dan uang. Musa Abdul Hamid seolah tak memenuhi semua kriteria itu. Sejengkal pun, ia tak pernah terlibat dalam proses politik. Namun, suara akar rumput menuntunnya berkiprah di politik desa. Ia melangkah dengan modal nekad dan keyakinan. Usahanya tak mengkhianati hasil. Dia muncul sebagai suksesor dua periode, duduk sebagai Kepala Desa Parit Baru. Sejak 2011, posisinya tak tergantikan.

Bagi Musa, menjadi orang nomor satu di Parit Baru, tak terlintas di benaknya. Dia tak pernah bermimpi. Apalagi merencanakan semuanya. Seperti air. Semua mengalir begitu saja. Awal berkiprah di kancah politik desa tahun 2011. Waktu itu, iklim demokrasi tengah hangat.

Aspirasi berdirinya Desa Parit Baru menguat. Bahkan, tak terbendung dari akar rumut. Musa yang saat itu berusia 37 tahun, jadi tim pemekaran. Dari sanalah kiprahnya mulai dikenal. Hingga akhirnya, perjuangan itu berbuah hasil. Kamis, 7 April 2011, berdirilah Desa Parit Baru. Musa sebagai salah satu penggagas.

Pasca-desa terbentuk, proses politik pun dipersiapkan. Memilih calon kepala desa pertama. Sejumlah tokoh, menyatakan diri maju di bursa pencalonan. Musa tak mencalonkan diri. Dia ukur baju di badan. Sebab, merasa tak punya banyak modal.

“Saya pun pendatang. Jadi, rasanya waktu itu, saya tak mungkin mencalonkan diri,” kata Musa.

Dia lantas didapuk jadi tim sukses salah satu calon. Ia menyanggupi. Keliling kampung dilakoni demi menggalang dukungan. Termasuk mendatangi tokoh agama dan masyarakat. Namun, bukan dukungan calon diusung yang didapat. Justru, warga menginginkan dia mencalonkan diri. Karpet merah malah tertuju padanya. Sontak, dia pun kaget.

“Daripada dia, kau jak (saja) yang maju,” kata Musa, menirukan ucapan para tokoh masyarakat waktu itu, menginginkannya maju calon kepala desa.

Permintaan masyarakat tak langsung dijawab. Dia ingat komitmen teman yang siap dimenangkan. Namun, arus dukungan akar rumput makin kencang, mendorongnya maju calon kepala desa. Satu persatu orang menemuinya. Ia tak mampu membendung permintaan itu. Meski sudah menolak beberapa kali.

“Akhirnya, saya tergugah terjun. Saya pecah kongsi. Mau tak mau karena amanah masyarakat yang menyuruh kita,” ucapnya.

Keputusan mendadak dan terbilang nekat itu, mengejutkan banyak pihak. Sejumlah orang meremehkan langkahnya. Termasuk keluarga, meragukan Musa bisa dapat dukungan.

Apalagi, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini, tak pernah terlibat proses politik apapun. Tiba-tiba calon kepala desa. Bak petir di siang bolong. Di sisi lain, Musa dianggap tak punya modal kuat. Terutama uang untuk ongkos politik. Ibarat pepatah. Jauh api dari panggang. Dia dirasa tak mungkin menang.

“Maklum, kalau orang dengar calon kepala desa, ongkosnya begini begitu. Sementara kita, tak ada modal apa-apa,” katanya.

Walau begitu, dia terus jalan. Ia yakin tak ada yang tak mungkin. Prinsipnya, jika Tuhan berkehendak, semua bisa terjadi. Tekadnya kian bulat. Musa habis-habisan berjuang. Bergerak dari pintu ke pintu rumah. Menggalang dukungan warga.

Singkat cerita, proses pemilihan kepala desa tiba waktunya. Tak disangka, Musa memenangkan pertarungan politik desa, tahun 2011. Tiga calon kepala desa pesaingnya tersingkir. Musa berhasil meraup 4.511 suara. Raihan suara itu, mengantarkannya jadi Kepala Desa Parit Baru pertama.

“Sudah selesai dan dinyatakan menang, baru orang tua saya datang. Dia pesan kepada saya, amanah dan bisa berbuat untuk masyarakat,” ucapnya.

Musa Abdul Hamid
Kepala Desa Parit Baru, Musa Abdul Hamid (batik oranye) berfoto bersama dengan Kapolda Kalbar, Irjen Pol Sigit Hardjanto, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, dan Kapolres Kubu Raya AKBP Yani Permana usai melaunching program Kampung Tangguh Mandiri Nusantara, Minggu 9 Agustus 2020. (Ist).
Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: