Pandemi Covid-19, Pengusaha Wedding Organizer Pontianak Keluhkan Pendapatan Menurun

Ilustrasi (Istimewa)

Pandemi Covid-19, Pengusaha Wedding Organizer Pontianak Keluhkan Pendapatan Menurun

PONTIANAK, insidepontianak.com – Hampir seluruh usaha jasa mengeluh dengan adanya kebijakan yang seakan mematikan usaha jasa pada masa pandemi khususnya usaha wedding, tenda, catering, foto video dan jasa-jasa lainnya.

Bacaan Lainnya

Data terbaru dari World Health Organization (WHO) tanggal 24 April 2020, sebanyak 213 negara telah terpapar Covid-19, 2.631.839 diantaranya terkonfirmasi positif dan 182.100 meninggal dunia.Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia berakibat juga terhadap merosotnya sektor ekonomi diseluruh Provinsi, Kabupaten, Kota di Indonesia termasuk di Kota Pontianak.

Sejak pandemi Covid-19 ini, salah satu sektor ekonomi yang mengalami kemerosotan adalah pelaku usaha Wedding Organizer. Karena sebagian besar masyarakat Kota Pontianak tidak berani mengadakan acara pernikahan dengan mengundang banyak tamu seperti kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat kota Pontianak sebelum pandemi Covid-19.

Masyarakat enggan mengadakan acara wedding dan bahkan menunda pernikahan sampai pandemi Covid-19 mereda.

Walaupun Pemerintah Kota Pontianak telah memberikan izin untuk menggelar acara pernikahan, akan tetapi masyarakat masih merasa berat dengan Prokes yang diberlakukan. Apalagi harus menyediakan hidangan dengan nasi Kotak, bagi sebagian masyarakat merasa tidak sopan memberikan nasi Kotak pada tamu yang hadir.

Usaha wedding organizer di Kota Pontianak Rizki (31), ketatnya aturan Prokes telah menghentikan pemasukan bisnisnya.

“Tidak sedikit Klien yang hanya mengadakan acara seadanya (nikah di KUA saja dan doa selamatan di rumah), yang hanya dihadiri oleh anggota keluarga terdekat. Bahkan ada klien yang membatalkan tanpa batas waktu yang tiak ditentukan,” kata Rizki.

Tak ayal kondisi ini pun, mengakibatkan merosotnya pemasukannya. Sebelum Ppandemi Covid-19 dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan minimal 4 klien sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Yang menjadi beban adalah para pekerja yang tidak mempunyai penghasilan, sehingga pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup terpaksa harus meminjam atau ngebon pada bos, sedangkan bosnya tidak ada pemasukan, dengan terpaksa bosnya pun mutar otak dengan cara mengajukan pinjaman, hal ini menjadi dilema bagi pelaku usaha,” katanya.

Sebagai pelaku usaha wedding organizer di Kota Pontianak ia berharap ada kebijakan yang tepat guna, sehingga semua sektor bisa berjalan sebagaimana mestinya. Pemerintah disarankan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat berkaitan dengan tata aturan dalam mengadakan acara resepsi pernikahan, sehingga masyarakat tidak ragu untuk mengadakan resepsi.

“Nah, kalau masyarakat sudah paham, pelaku usaha wedding organizer juga akan bergerak, dan perekonomian akan tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Bukan hanya wedding organizer saja usaha catering, foto, video juga akan memperoleh pendapatan,” tutup Rizki. (Mahasiswa Magister Manajemen Untan, Purnamawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *