Amen Bakmie Loncat: Lelaki Eksentrik dengan Segudang Aktivitas Sosial

Amen Loncat
TUNJUKKAN - Ming Chun atau kerap disaba Amen Bakmie Loncat perlihatkan adonan Bakmie. Usaha itu membuatnya sukses di Jakarta pasca-merantau dari Kabupaten Bengkayang, pada 1998 silam. (Ist).

Eksentrik. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sosok lelaki satu ini. Memiliki nama lengkap Ming Chun, pria berperawakan bak ‘berandalan’ itu, siapa sangka memiliki segudang aktivitas sosial. Ia rajin bantu orang yang alami kesulitan. Bahkan turut berkolaborasi dengan pemerintah, membangun sejumlah infrastruktur lewat Tim Sosial Bakmie Loncat.

Ming Chun atau kerap disaba Amen Loncat, sepintas seperti preman. Tato memenuhi lengan kanannya. Telinga sebelah kiri, dipasang beberapa tindikan. Empat anting terlihat gemerlap. Cincin dan gelang beraneka model, melingkari tangan dan jemari yang selalu bergerak aktif. Kalung aneka model melingkar di leher, dengan beberapa bandul dari batu akik.

Bacaan Lainnya

Belum lagi model rambut. Potongan pendek dengan garis-garis sejajar menurun. Ada kuncir di bagian belakang. Semakin menegaskan eksentrisitasnya. Mengenakan celana pendek dengan sepatu olahraga khas anak muda, kami bertemu dengan Amen di Hotel Mercure, Pontianak.

Amen pria kelahiran Sungai Duri, Bengkayang, Kalimantan Barat. Pindah ke Jakarta, ia membuka berbagai macam usaha kuliner. Ada bakmie. Mie tiau. Nasi goreng, dan beragam kuliner khas lain.

Usaha kuliner, khususnya bakmie, tentu saja bukan hal baru. Karenanya, harus ada sesuatu yang khas. Supaya pelanggan mau datang. Seorang teman memberi saran, “Kamu buat saja bakmie loncat. Bakmie dilempar ke atas.”

Benar juga. Dia mengamini usulan sang teman. Dia buat ciri khas. Setelah bakmie direbus di air panas, mie dilempar ke atas. Hups, mendarat di mangkok. Itulah cikal-bakal terciptanya usaha Bakmie Loncat Amen di Jakarta tahun 1988. Sampai sekarang, usaha itu terus berkembang pesat.

Atraksi penyajian Bakmie Loncat Amen berhasil memikat. Pengunjung takjub dan senang. Karakter Amen yang ramah dan melayani, membuat pembeli tak hanya menikmati kuliner yang gurih dan lumer di mulut. Mereka akrab dengan gaya Amen. Yang mudah dekat dengan siapa saja.

Usaha Bakmie Loncat Amen saat awal buka, sempat tersendat. Pasalnya, dia turut terkena imbas kerusuhan 1998. Situasi politik nasional memanas jelang turunnya Presiden Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun. Jakarta membara. Terjadi kerusuhan dan penjarahan. Warga Tionghoa terdampak huru hara.

Amen memutuskan pulang ke Singkawang. Di Singkawang, dia buka lagi usaha Bakmie Loncat. Ada ciri dan kekhasan. Mie dilambungkan dan ditangkap di mangkok. Usaha bakmie di Kota Seribu Kelenteng tak bertahan lama.

Terbiasa di Jakarta dengan ritme hidup serba cepat dan dinamis, Amen balik lagi ke Jakarta, tahun 2002. Kondisi politik nasional sudah mulai stabil. Dia melanjutkan usaha Bakmie Loncat. Tapi, seiring berjalannya waktu, dia merasa capek dan lelah.

Usaha itu dikerjakan sendiri. Mulai dari mengaduk terigu, mencampur telor, menggiling, hingga mie jadi. Semua dikerjakan sendiri. Butuh tenaga ekstra. Tahun 2005, ia putuskan pindah haluan. Bisnis sablon dan pakaian dijalani.

Bisnis itu sanggup menopang hidup keluarganya. Sembilan tahun ia geluti. Tapi, sejak tahun 2014, bisnis sablon mulai sepi. Akhirnya, ia kembali jualan Bakmie Loncat. Pelan-pelan, usaha itu dijalani kembali. Sampailah sekarang. Bakmie Loncat jadi ladang rejeki untuk hidupi anak dan istri.

Seiring berjalan waktu, hidup di kota Jakarta, Amen tergerak membentuk lembaga sosial. Keinginan itu datang dengan sendiri. Tak ada yang mengajak. Apalagi memaksa. Tujuannya hanya satu. Supaya bisa membantu sesama.

Lembaga sosial itu diberi nama dari usahanya. Tim Sosial Bakmie Loncat. Menurut Amen, waktu ia membentuk lembaga sosial itu, murni sebuah panggilan Tuhan. Semua datangnya dari hati. Ikhlas tanpa pamrih.

Belakangan, ia meyakini, hidup mesti saling bantu. Sebab, dari sana makna hidup sesungguhnya. Tak heran, bila hidup yang dijalani sekarang, penuh dengan aktivitas sosial.

Perjalanan itu, tak pernah ia rencanakan. Seperti air. Semua Mengalir. Ia bahkan tak pernah bermimpi menjadi ketua gerakan sosial. Dia sadar, menjalani kegiatan sosial tak mudah. Perlu pengorbanan.

Apalagi penampilannya yang bertato. Sepintas, seperti berandalan atau preman kaki lima, yang tak sedikit orang mengecapnya sebagai pemabuk. Orang bakal sulit percaya. Situasi itu sempat ia rasakan. Amen bahkan tak percaya diri, untuk bisa jadi dermawan. Meski penampilan tak bisa menjadi tolok ukur pribadi seseorang.

“Saya yakin dengan penampilan seperti ini, dikira pemabok dan peminum. Tidak mungkin berjiwa sosial. Tapi Tuhan panggil saya,” ucap Amen.

Singkat cerita, keterlibatan Tim Sosial Bakmie Loncat dimulai 2017. Ketika itu, seorang temannya menghubungi melalui telepon. Sang teman itu mengabari, ada perempuan sakit. Perlu pertolongan segera. Perempuan itu alami patah kaki. Perlu biaya operasi. Nilainya biayanya tak sedikit. Sekitar Rpp600 juta.

Perempuan itu mengenal Amen. Lewat media sosial. Amen sendiri sering live di Facebook. Memperkenalkan brand Bakmie Loncat miliknya. Dia pun dianggap Tionghoa yang cukup terkenal di media sosial. Dianggap banyak uang. Dari situlah orang mengenalnya. Termasuk perempuan yang patah kaki itu.

“Akhirnya dia telepon saya,” ujarnya.

Perempuan itu tak basa basi. Dia langsung minta bantuan, untuk biaya operasi kakinya. Waktu menjawab telepon, Amen tak pikir panjang. Dia langsung menyanggupi. Esok harinya, dia pergi ke rumah sakit. Untuk melihat langsung kondisi perempuan tersebut.

Benar saja. Perempuan itu sedang alami sakit. Merintih terbaring diranjang perawatan medis. Lengkap infus dipasang di lengan. Pertemuan itu membuat Amen tertegun. Prihatin. Ia meneteskan air mata. Saat melihat kaki perempuan tersebut membengkak.

Uang jadi penghambat. Operasi tak kunjung dilakukan pihak rumah sakit. Melihat konidisi itu, Amen langsung berpikir cari dana. Ia minta tempo tiga hari.

“Akhirnya, terkumpul Rp600 juta dalam waktu tiga hari. Di situ mulanya,” kenang Amen.

Uang segera diserahkan. Perempuan itu tertolong. Pihak rumah sakit segera melakukan operasi. Sejak itu, Tim Sosial Bakmie Loncat mulai terus bergerak melakukan santunan sosial.

Kegiatan-kegiatan sosial mereka semakin dapat dukungan. Banyak pengusaha jadi donatur. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dunia. Amen sebagai inisiatornya. Salah satu donatur tetap Tim Sosial Bakmie Loncat adalah Fuidy Luckman. Amen menyebut lelaki berkaca mata itu sebagai Dewa Uang.

Chaisen orang Chinese bilang. Dia dewa duit,” ujar Amen tertawa.

Hingga saat ini, aksi sosial Bakmie Loncat terus berkontribusi memberi bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Mereka tak pandang suku dan agama. Setiap malam, Amen menyapa warga di media sosial. Medsos jadi media perantara, dapat berbagai aduan masalah sosial.

Relawan Tim Sosial Bakmie Loncat tersebar di berbagai wilayah. Mereka tak digaji. Namun, bekerja dengan hati. Amen sebagai pencetus Gerakan Sosial Bakmie Locat, telah merasakan berkah menolong orang banyak.

Ia merasa, hidupnya kini lebih bermanfaat untuk ummat. Di usianya yang mulai senja, Amen sudah tak mau muluk-muluk hidup bergelimang harta dan kekuasaan. Baginya, terpenting saat ini bisa membantu sesama.

“Kita kaya sudah tak bisa. Usia sudah tua. Yang penting, badan sehat dan cukup makan saja,” tuturnya.

Peresmian Jembatan Bantuan Tim Sosial Bakmie Loncat di Dusun Jeruju Utara, Kecamatan Paloh
BANTUAN – Jembatan di Dusun Jeruju Utara, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, bantuan dari Lembaga Tim Sosial Bakmie Loncat, diresmikan Bupati Satono. Jembatan itu akses penghubung masyarakat setempat menuju pemakaman muslim. (Ist).
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *