Sekolah Pengelolaan Keberagaman, Diskusi Intens Merawat dan Memperkokoh Persatuan

Sekolah Pengelolaan Keberagaman melakukan Diskusi Intens Merawat dan Memperkokoh Persatuan
Sekolah Pengelolaan Keberagaman melakukan Diskusi Intens Merawat dan Memperkokoh Persatuan. Ist

PONTIANAK, insidepontianak.com – Jaringan Pontianak Bhineka dan Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (CRCS-UGM) baru saja menggalar diskusi literasi terkait Sekolah Pengelolaan Keberagaman atau SPK.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan melibatkan FKUB Pontianak serta paguyuban yang ada. Melibatkan Jaringan Bhineka yang terdiri dari Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Mitra Sekolah Masyarakat (MISEM) dan Serikat Jurnalis Keberagaman (SEJUK).

Bacaan Lainnya

Ketua Yayasan SAKA, Sri Wartati mengungkapkan, tujuan SPK ini untuk meningkatkan wawasan, keterampilan, kemampuan dan menguatkan jaringan dalam membangun wawasan kebangsaan.

“Tak hanya itu juga, diskusi literasi ini nantinya akan mampu mengelola dan mengadvokasi isu keberagaman di Kota Pontianak,” katanya, Senin (5/7/2021).

Diskusi dua hari ini menghadirkan sejumlah narasumber. Akademisi Sy. Erma Rachmaniar menjadi pemateri pertama.

Ia mengungkapkan, literasi keberagaman dalam pemberitaan sudah cukup baik tetapi realisasi di lapangan masih harus diterapkan dengan kerja keras bersama.

Berkaca dalam kasus Gafatar, Erma mencontohkan. Seharusnya hal itu tidak harus terjadi  jika semua pihak mencari akar masalah dan pencegahan dalam meredam saat isu konflik menjelar di masyarakat.

“Sekarang bagaimana memperkokoh keberagaman, memperkuat literasi dan mengedepankan solusi damai,” katanya.

Ketua FKUB Kota Pontianak, Abdul Syukur, mengungkapkan saat ini di Kalbar tidak ada konflik. Kondisi ini harus dijaga agar percikan yang bisa berujung konfik bisa dicegah. Pendekatan dengan berbagai diskusi dan kegiatan bersama lintas komunitas harus terus dilakukan dan dirawat.

Banyak ide dan gagasan terkait resolusi konflik. Para peserta SPK menuangkan masukan hingga solusi menghadapi konflik. Terpenting ide terbaik adalah bagaimana mencegah konflik bisa terjadi dan berulang.

Rizal Almutahar Kepala Kesatuan Bangsa dan Sosoal Politik (Kesbangpo) Kota Pontianak berujar, defenisi keragaman merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara.

Keberagaman dibaratkan sebuah pelangi.  Penuh warga dan corak ragam yang saling melengkapi. Begitu juga dengan keragaman. Ini menjadi model yang harus diterima dan dirawat. Hal tersebut menjadi nilai positif untuk menciptakan iklim aman dan aman.

Saiman dari Walubi, menuturkan saat terjadi konflik pastinya tidak diinginkan semua orang. Ada orang yang berusaha  menyelesaikan konflik di Kalbar. Namun, faktanya penyelesaian kasus belum terselesaikan dengan tuntas.

Herkulanus perwakilan komunitas Dayak merasa semua pihak memiliki tanggung jawab dalam menjaga kemajemukan.

Ini katanya sudah menjadi bagian dari bangsa ini. Pilar bangsa, Bhineka Tunggal Ika paling penting untuk dijaga, diresapi dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berdi, perwakilan dari komunitas Madura berharap konflik yang pernah ada bisa diselesaikan dengan tuntas.

Pada akhirnya semua peserta yang hadir satu tekat ingin menyatukan pikiran untuk merawat keberagaman serta menyatukan persepsi tentang solusi konflik.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *