Rugikan Korban Hingga Rp2,1 Miliar, Dua Tersangka Mafia Tanah Tak Ditahan

Korban Mafia Tanah
TUNJUKKAN - Syukur menunjukan bukti laporan polisi atas dugaan penipuan tanah yang merugikan dirinya hingga, Rp. 2,1 Miliar, Selasa (6/7/2021). (Ist).

PONTIANAk, insidepontianak.com – Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat menetapkan dua tersangka kasus dugaan mafia tanah di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Keduanya masing-masing berinisial IS (56) dan AB (50). Namun, hingga kini , keduanya tidak dilakukan penahanan.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, kedua tersangka tidak dilakukan penahanan, karena penyidik menilai tersangka kooperatif saat dilakukan pemeriksaan.

Bacaan Lainnya

“Tidak ditahan, atas pertimbangan penyidik,” kata Donny kepada wartawan, Selasa (6/7/2021).

Meski demikian, Donny enggan menjelaskan siapa yang menjadi penjamin sehingga IS dan BB  tidak dilakukan penahanan. Yang jelas, kata Donny, berkas perkara kasus tersebut sudah dikirimkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Tinggi Kalbar, untuk peroses hukum lebih lanjut.

“Perkara sudah sampai ke pihak kejaksaan. Mohon waktu saja, kalau sudah dinyatakan lengkap oleh JPU, kita akan limpahkan kasusnya,” ungkap Donny.

Donny memastikan, Jajaran Polda Kalbar akan menindak kasus-kasus mafia tanah yang ada di Provinsi Kalbar. Dalam pengusutan kasus, dia jamin transparans. Termasuk dalam perkara tersangka IS dan IB. Masyarakat dipersilakan awasi kinerja Polda Kalbar.

“Silahkan saja diawasi dan dikawal kasus ini. Kita akan transparan penanganannya,” tegas Donny.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari Kejaksaan Tinggi Kalbar mengenai kasus tersebut.

Kepala Seksi Penkum Kejati Kalbar, Pantja Edi Setiawan saat dikonfirmasi pada Senin, 5 Juli 2021 mengatakan, akan memberi jawaban setelah berkoordinasi ke Bidang Pidana Umum Kejati Kalbar.

Namun, saat dikonfirmasi ulang, pesan WhatsApp yang dikirim wartawan, hingga sekarang belum direspon.

Sementara itu, korban penipuan mafia tanah, Syukur mengatakan, kejadian penipuan yang dialaminya bermula tahun 2014 silam.

Saat itu,dia bertemu dengan AB dan IS atas perantara YN. Mereka menawarkan sebidang tanah seluas 10 hektar. Lokasinya di depan bekas kantor PT Wana Bangun Agung (WBA), di Jalan Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Awalnya, tanah tersebut dipatok seharga Rp250 ribu per meter. Setelah negosiasi, disepakati seharga Rp200 ribu per meter.

Saat itu, IS dan AB menunjukkan surat jual beli tanah, peta bidang yang dikeluarkan oleh kepala desa setempat, dan surat pernyataan tentang penguasaan tanah yang juga diketahui oleh kepala desa. Bukti itu sebagai jaminan untuk meyakinkan Syukur.

Keduanya juga menyanggupi dan berjanji akan mengurus sertifikat tanah tersebut. Namun, sekitar Oktober 2014, IS dan AB meminta uang sebagai tanda jadi untuk mengurus sertifikat tanah.

“Lalu, saya serahkan uang tunai Rp300 juta, dengan dibuatkan bukti kwitansi,” ucap Syukur.

Selanjutnya, Syukur, secara bertahap, sampai tahun 2016, membayar tanah yang ditawarkan IS dan IB. Uang itu diserahkan melalui transfer dan tunai. Totalnya Rp2,1 miliar.

“Semua bukti penyerahan tercatat dalam akuntansi,” jelasnya Syukur.

Namun, celakanya, pada Desember 2016, datang seseorang yang menerangkan, bahwa tanah yang akan dibelinya itu telah memiliki sertifikat atas nama orang lain.

Orang tersebut juga menunjukkan surat-surat bukti kepemilikan. Syukur cari informasi untuk buktikan. Ia mengkonfirmasi pihak BTN Kubu Raya. Ternyata, benar. Objek tanah tersebut saat ini memang telah dikuasai orang lain. Berdasarkan sertifikat hak miliki bernomor: 3.846, yang dikeluarkan pada tahun 1982.

“Dari situ saya kemudian tahu bahwa tanah tersebut bermasalah,” ungkap Syukur.

Tetapi, IS dan IB tetap bersikukuh. Mereka kliam tanah tersebut miliknya. Bahkan keduanya kembali meminta sejumlah uang untuk mengurus sertifikat tanah. Syukur tak lagi percaya. Dia tak mau lagi kecolongan.

Dia pun putuskan menyetop memberikan uang tambahan karena merasa telah ditipu. Uang yang sudah diberikan senilai Rp1,2 miliar ke IS dan IB, diminta kembali. Sebab keduanya telah berjanji dari awal akan mengembalikan uang jika tanah yang ditawarkan milik orang lain.

Tapi janji itu tak ditepati. IS dan IB mangkir. Syukur berusaha selesaikan masalah itu dengan cara kekeluargaan. Mediasi coba dilakukan. Namun, tak menemui hasil. Empat tahun berlalu. Uang senilai Rp2,1 miliar tak juga dikembalikan. Syukur benar-benar merasa ditipu.

“Bahkan akhir-akhir ini IS dan AB tak bisa dihubungi,” ucap Syukur.

IS dan IB benar-benar tidak punya itikad baik menyelesaikan masalah tersebut. Jangankan mengembalikan uang kerugian, berkomunikasi juga sudah tidak pernah. Ironisnya, Syukur malah digugat di Pengadilan Negeri Mempawah.

Gugatan perdata itu terigister dengan Nomor: 67/PDT.G/2020/PN.MPW. Dalam prosesnya, gugatan tersebut ditolak majelis hakim. Penolakan gugatan telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkrah).

Atas pelakukan itu, Syukur melaporkan keduanya ke Polda Kalbar. Mereka pun kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun tak ditahan. Keduanya, sempat janji lagi akan mengembalikan uang melalui penyidik. Tapi sampai detik ini, janji tersebut hanya omongan.

Syukur berharap, IS dan IB ditindak secara tegas. Hukum berkeadilan harus dilakukan. Ia meminta Kepolisian Polda Kalbar menahan kedua tersangka.

“Saya masyarakat kecil yang dirugikan oleh oknum, atas tidak ditahannya kedua tersangka ini. Saya sangat menyayangkan,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *