Pakistan akan Jadi Tuan Rumah Perundingan Perdamaian Afghanistan

Utusan khusus presiden Afghanistan untuk Pakistan, Mohammad Omer Daudzai. (Istimewa/Net)

insidepontianak.com – Pakistan akan menjadi tuan rumah bagi para pemimpin politik terkemuka Afghanistan di sebuah konferensi untuk mempercepat proses perdamaian intra-Afghanistan ketika penarikan militer asing pimpinan AS dari negara itu hampir selesai.

Dilansir dari VOA Indonesia, inisiatif diplomatik Pakistan itu dilakukan setelah gerilyawan Taliban dengan cepat membuat kemajuan teritorial dengan merebut sejumlah distrik baru Afghanistan di seluruh negeri yang dilanda perang itu, sejak awal Mei, ketika pasukan sekutu AS dan NATO secara resmi memulai proses penarikan.

Merosotnya keamanan telah memicu kekhawatiran bahwa kekosongan yang ditinggalkan oleh pasukan asing bisa mengubah konflik menjadi perang saudara besar-besaran dan memungkinkan kelompok teroris transnasional menemukan lebih banyak ruang di Afghanistan untuk menyerang target mereka masing-masing di negara-negara tetangga dan sekitarnya.

Sumber-sumber resmi yang ditempatkan di Islamabad, Rabu (14/7/2021) mengatakan kepada VOA bahwa konferensi itu dijadwalkan “17 hingga 19 Juli” dan beberapa pemimpin Afghanistan telah mengkonfirmasi partisipasi mereka. Utusan khusus presiden Afghanistan untuk Pakistan, Mohammad Omer Daudzai dan mantan menteri keuangan Omar Zakhilwal telah mengkonfirmasi kepada VOA akan menghadiri pertemuan tersebut.

Namun, Daudzai, mengatakan “tanggal pertemuan masih diperdebatkan.” Hamid Karzai, mantan presiden Afghanistan, Salahuddin Rabbani, mantan menteri luar negeri, Omar Zakhilwal, mantan menteri keuangan, Haji Mohammad Mohaqiq, pemimpin senior komunitas etnis minoritas Hazara, Gulbuddin Hekmatyar, mantan kepala suku yang beralih menjadi politisi, dan Ahmad Wali Masoud, termasuk di antara para undangan, kata sumber tersebut.

Islamabad telah mengusulkan untuk menjadi tuan rumah pertemuan itu karena negosiasi damai yang ditengahi AS antara Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan selama berbulan-bulan belum menghasilkan apapun.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *