Selamat Jalan Sang Perancang Maskot Kalbar, Halim Ramli

Abdul Halim Ramli
Abdul Halim Ramli, tokoh jurnalis Kalbar tutup usia. (Ist).

Maskot Daerah Kalbar, Enggang Gading (Rhinoplax vigi) dan Tengkawang Tungkul (Shorea Macropilla) mejadi legacy abadi karya Abdul Halim Ramli. Maskot yang diciptakan oleh tokoh jurnalis, sekaligus budayawan Kalbar itu, memiliki makna yang dalam, berdasarkan nilai-nilai budaya.

Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul, didesain dengan garis-garis geometris. Nilai tradisional yang kontekstual dengan perkembangan zaman. Ada nilai reliji dan makna dalam penciptaan. Sang perancang ingin, maskot itu sekaligus membawa pesan mengangkat flora dan fauna khas Kalbar, sebagai maskot daerah.

Namun lebih dari itu, Burung Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul juga memiliki nilai filosofi kehidupan. Yang dinilai sesuai dengan karakter masyarakat Kalbar.

Halim berjuang keras meloloskan karyanya, sebelum disetujui pemerintah daerah Kalimantan Barat. Tak sedikit tantangan yang dia dapat.

Bahkan, lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yoyakarta 1968 itu, harus berdebat panjang dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kalbar, tahun 1988, saat memaparkan konsep maskot yang dia rancang.

Sebab, banyak juga pesaing yang tak kalah hebat. Ada yang membuat burung Ruai sebagai usulan maskot, dengan berbagai latar belakang filosofi. Ada pula yang usul, ikan Arwana lebih pantas sebagai maskot.

Masing-masing perancang lomba maskot daerah saat itu, punya pendapat dan ide menarik. Hal itu membuat pusing para panelis.

Namun, maskot Burung Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul rancangan Halim yang dipilih. Pada tahun 1993, karya itu pun dipamerkan di Taman Budaya Pontianak. Gubernur Kalbar kala itu, Aspar Aswin, memberikan apresiasi.

Enggang Gading memiliki sejarah filosofi dan mitologi yang istimewa di kalangan suku Dayak. Enggang Gading dianggap hewan suci. Lambang perdamaian dan persatuan.

Sifat Enggang Gading setia pada satu pasangan, memberikan pesan loyal dan tanggungjawab. Suaranya yang melengking keras melambangkan ketegasan, pemberani dan berbudi luhur.

Kepakan bentang sayap yang lebar bermakna menaungi. Memiliki kekuasaan dan kekuatan. Ekor yang panjang dan menjuntai, menyiratkan pesan kemakmuran.

Sedangkan Enggang Gading yang tak gemar mencari makan di tanah lain, melambangkan kesucian dan tidak serakah.

Filosofi ini yang menjadi dasar bagi Halim, memilih Enggang Gading tepat jadi maskot utama Kalbar. Pemerintah Provinsi Kalbar saat itu, dipimpin Gubernur Aspar Aswin mengamini.

Abdul Halim Ramli
Abdul Halim Ramli, tokoh Jurnalis Kalbar sang perancang Maskot Kalbar. (Ist).

Disahkan

Maskot Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul disahkan jadi Maskot Daerah Kalbar. Pengesahannya diikuti dengan Surat Keputusan (SK) Mendagri Nomor 48 Tahun 1989, Tanggal 1 September, tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah.

Kemudian, pengesahan maskot itu juga disertai dengan Surat Edaran Dirjen Bangda Depdagri Nomor: 660.1 /2586/Bangda Tanggal 1 November 1989, tentang Identitas Flora dan Fauna Daerah dan Surat Edaran Mendagri Nomor 522.5 /1458 /SJ, Tanggal 2 Juni 1990, tentang Penetapan Identifikasi Flora dan Fauna Daerah, serta Keputusan Gubernur KDH Kalbar No 257 Tahun 1990, Tanggal 6 Juli 1990 tentang Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah Kalbar.

Catatan ini, menjadi sejarah Halim adalah tokoh Jurnalis Kalbar yang tercatat sebagai Pahlawan Daerah, sebagai pencipta Maskot Kalbar.

Pelukis dengan simbol “Kodok Kritis” kelahiran Sintang, 12 Februari 1945 itu, kini jasadnya sudah kembali ke bumi. Dia tutup usia tepat di hari Sayyidul Ayyam atau Pemimpin Hari, Jumat (16/7/2021).

Segudang karya-karyanya akan menjadi amal ibadah. Jalan penuntun menuju Janah atau surga. AHR, begitu inisialnya di dunia kewartawanan, akan tetap menjadi tokoh pers Kalbar sepanjang masa. Istirahatlah dengan lapang dan tenang. Pribadi yang selalu tawadhu dan rendah hati. Sang Pencipta Maskot Kalbar. (Abdul Halikurrahman)

Pemakaman Abdul Halim Ramli
Abdul Halim Ramli dimakamkan di pemakam muslim Sungai Bangkong, Pontianak Kota. Pelukis dengan simbol ‘Kodok Kritis’ kelahiran Sintang, 12 Februari 1945 itu, wafat pada Jumat (16/7/2021). (Ist).
Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *